The legendary books

Ada yang pernah dengar judul buku-buku ini selama sekolah? 
Iya, saya dulu juga taunya buku ini hanya ada di pelajaran sejarah SD saja. Di mata saya yang masih anak kecil, yang sukanya waktu itu cuma sama komik yang banyak gambarnya aja, buku-buku tersebut ibaratkan legenda, banyak yang nyebut-nyebut, banyak yang nyeritain, tapi wujudnya ngga ada. Yaa bisa dibilang saya hampir ngga percaya buku-buku ini ada.

Kemudian waktu berlalu, selera bacaan saya mulai berubah, yang tadinya suka komik, berubah jadi suka komik dan novel remaja, kemudian jadi suka komik, novel petualangan dan novel detektif, kemudian berubah lagi jadi suka komik, novel detektif, sastra dan sejarah. Lalu, pada suatu hari sampailah minat saya pada sebuah penjelajahan di barisan rak-rak buku langka, daaannnn… Inilah dia. Ketiga buku fenomenal, yang sebelumnya hanya ada di imajinasi saya saja.

Mungkin benar kata Einstein, salah satu alasan adanya waktu adalah agar semua hal tidak terjadi sekaligus. Jika saja Tuhan mempertemukan kami lebih awal, tentu saja mereka akan saya abaikan. Alasannya karena saya masih kecil, belum siap, dan belum tertarik dengan sastra, jadi ya belum saatnya dipertemukan. 

See, sesungguhnya Tuhan sangat paham apa yang baik untuk kita saat ini atau di masa yang akan datang. Hubungan saya dan buku-buku ini hanya contoh kecilnya saja, contoh besarnya silahkan ditelaah di kehidupan masing-masing.

Kapan-kapan akan saya ulas isi buku-buku ini. Tapi ya kapan-kapan, karena jujur aja dari ketiga buku tersebut baru buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang sudah tamat saya baca, yang dua buku itu setengah pun belum habis. Butuh energi lebih buat mencerna kalimat per kalimatnya. Ibarat naik gunung, membaca Max Havelaar dan Babad Tanah Jawi itu seperti mendaki tanjakan pasir puncak Rinjani, melelahkan dan tak ada habis-habisnya, jika tidak sabaran maka siap-siap merosot beberapa langkah ke belakang. Gitu deh.

Advertisements