Jembatan Kece

Dulu banget, pernah punya cita-cita jadi arsitek, dan sempet tergila-gila sama jembatan, tapi bukan jembatan kasih sayang antara kau dan aku ya!! Jadi saking tergila-gilanya, saya sampai rela menempuh perjalanan berjam-jam ke sebuah kota yang kurang populer cenderung sepi, hanya demi memandang sebuah jembatan yang pada saat itu menjadi jembatan terpanjang ke-5 di Indonesia.

Lalu beberapa saat lalu adik saya mengupload foto ini di akunnya, ini adalah jembatan penyeberangan orang, Jembatan Repo-Repo namanya, menghubungkan Pulau Kumala dengan Kota Tenggarong. FYI, Pulau Kumala adalah pulau delta yang terbentuk tepat ditengah-tengah aliran Sungai Mahakam. 

Sekitar 7 atau 8 tahun lalu, ketika terakhir saya kesini, jembatan ini belum ada, bahkan mungkin angan-angannya pun belum ada. Dan ketika tiba-tiba saya tahu jembatan itu sudah berdiri, saya excited sekali, ngga sabar rasanya pengen sprint dari ujung ke ujungnya, uji kelayakan lah ceritanya. Etapi bukan uji kelayakan jembatan, uji kelayakan badan saya aja, apa masih kuat sprint sejauh itu? Haha.. Saya mah yakin lah jembatan ini pasti jauh lebih setrong dibanding jembatan yang ambruk beberapa tahun lalu yang lokasinya cuma melipir beberapa ratus meter dari jembatan baru ini. 

Tapi ada satu hal yang saya sayangkaaaaan banget. Saya bertanya-tanya, apa jadinya ya jikalau Ridwan Kamil yang merancang jembatan ini. Aihhh.. Seandainya Ridwan Kamil punya banyak duplikat, mungkin setiap sudut kota di negeri ini jadi Instagramable semuanyahh. 

Salam kece lah buat semua arsitek dan sipil engineer di Indonesia, without you Indonesia hanya sebuah bilik bambu.

Kampung Sakti di atas Kayu Sakti

Mmm..mau cerita tentang dua kampung eksotis di Kalimantan Timur. Kampung yang di rintis sama suku hebat dari timur Indonesia, suku Bugis. Masing-masing bernama Bontang Kuala yang terdapat di kota Bontang, dan Kampung Baru di kota Balikpapan. Jadi, kenapa eksotis? Karena dua kampung ini di bangun di atas laut. Mmm.. ngga laut laut banget sih, tepatnya di atas pantai, ya intinya di atas air laut lah gitu. Struktur bangunannya berupa rumah-rumah panggung yang memakai kayu Ulin yang terkenal itu lho. Tapi udah banyak juga yang merenovasi rumah mereka dengan dinding batu bata tapi ya tetep yang jadi tiang penyangganya si ulin-ulin sakti tea.

Bontang Kuala sendiri masih terbilang sepi dan kecil di banding Kampung Baru yang udah jadi nama kelurahan. Namun Bontang Kuala lebih terkenal dari Kampung Baru. Kenapa begitu? Well, ini sih asumsiku aja lho ya. Mungkin, pemerintah kota Bontang udah dari awal menetapkan Bontang Kuala sebagai daerah tujuan wisata kota Bontang, di samping itu animo masyarakat penduduk Bontang Kualanya pun ngga kalah sama pemkotnya. Mereka berlomba-lomba menciptakan suasana yang senyaman-nyamannya untuk para pengunjung, di tambah lagi dengan llingkungannya yang masih bersih (kalo yang ni ngga tau karena kebetulan masih sepi aja atau kebetulan emang ada peraturan khusus persampahan), sehingga membuat pengunjung punya alasan untuk datang dan sekedar bersantai-santai melepas lelah di atas bale-bale (baca: dermaga kayu) sambil ngeliat langit yang bertaburan bintang (kalo malem) dan laut tanpa batas.

bontang kuala

bontang kuala

masjid di bontang kuala

Dan, ada apa dengan Kampung Baru? Sesungguhnya, pemkot Balikpapan pun udah menerapkan hal yang sama tentang status kampung wisata pada Kampung Baru. Tapi, masa lalu (dan mungkin masa sekarang) nya yang kelam bikin (jangankan) penduduk Balikpapannya aja males buat sekedar berkunjung. Lah, kalo warga Balikpapannya sendiri aja males ke sana jadi ngga ada yang merekomendasikan Kampung Barunya deh. Jadi ngga terkenal deh. Satu kalimat yang SELALU aku dengar kalo aku minta di temenin buat jalan-jalan ke Kampung Baru oleh teman asli Balikpapan adalah : “Ngapain kamu kesana? Mau di hajar kah?”. Lho? Lho?

(sebelumnya mau minta maap sama warga Kampung Baru yang baca tulisan ini).

Jadi begini ceritanya, kebanyakan pemuda Kampung Baru punya watak ingin memiliki lebih besar ketimbang pemuda manapun. Jadi kalo di rasa ada hak mereka yang terambil ya langkah simplenya adalah berantem, tawuran, keroyokan (berdasarkan cerita temanku yang asli orang Kampung Baru), bahkan sampe Polisi aja kewalahan. Polisi tu sampe bikin yang namanya Perjanjian Setan sama pemuda-pemuda Kampung Baru, jadi kalo ada satu orang aja yang ketahuan berantem, maka di jamin polisi sekompi bakal ngegrebek tu kampung n nangkepin semua pemuda yang keliatan ada di rumah, meskipun yang laen pada ngga terlibat (termasuk si temenku yang alim ini). Jadi ngga jarang dia di bangunin tengah malem sama orang rumahnya hanya untuk kabur dari razia polisi. (eh, cerita ini bener ngga sih gajali??). hehehe..

Eh, tapi cerita tentang seremnya Kampung Baru dan keengganan warga Balikpapan buat berkunjung tu kenyataan kok. Tapi sebagai blogger nekat yang punya misi promosi Balikapapan, kan ngga afdol kalo ngga sampe punya cerita tentang kampung fenomenal ini.

Okelah, lanjut ke yang bagus-bagusnya lagi. Jadi, kalo sekarang, masyarakatnya udah lebih aware. Bahkan sebagian pemuda udah berusaha ngubah imej menyeramkannya ini. Mereka pengen kampungnya yang eksotis ini bisa jadi tujuan wisata seperti Bontang Kuala. Udah ada lho kafe-kafe lucu di pinggiran lautnya, dan suasananya cozy banget kalo malem.

Sebagai kampung di atas laut, Kampung Baru juga sangat menakjubkan, karena bukan Cuma rumah-rumah aja yang ada di kompleks perkampungan ini, tapi juga ada rumah ibadah dan bahkan PASAR beserta tempat parkirnya. Semuanya dengan menakjubkan berdiri di atas air laut yang di topang dengan (sekali lagi) si kayu Ulin sakti.

salah satu sudut pasar di kampung baru

ragam rumah di kampung baru

masjid di kampung baru

salah satu sudut kampung baru

salah satu sudut kampung baru

Jadi, kalo ke Balikpapan, mampir ke KAMPUNG BARU ya. Kalo Kebun Sayur si tempat belanja oleh-oleh tu udah terkenal banget, nah Kampung Baru udah dekeet banget dari situ. Oke? Selamat jalan-jalan ke Kampung Baru.. 🙂

5 Hari di Balikpapan, Kemana Aja??

Suka banyak lagi yang nanya, klo di Balikpapan tu ada apa aja sih? Well, di Balikpapan –sejujurnya harus aku katakan- ga ada apa-apa. Suer deh!! Tapi, ga terlalu mengecewakan juga ko kalo mau usaha buat ngedapetin 5 hari liburan yang menyenangkan di Balikpapan. Berikut rekomendasi 5 hari berwisata di Balikpapan.

Hari 1

–    Kedatangan. Estimasi kedatangan pagi hari, sekitar jam 10.

–    Naro barang bawaan di penginapan, istirahat sebentar.

–    Makan siang di warung Soto Makasar di Klandasan.

–    Keliling-keliling kota, liat view dari daerah perumahan Pertamina, explore pantai Monpera n pantai Kemala.

–    Ngabisin senja sambil makan jagung bakar di Melawai.

–    Makan malam di daerah kuliner belakang kantor pos.

–    Pulang, lewat jalan minyak, liat view malam kilang minyak Pertamina.

 

Hari 2

–    Wisata ke Bukit Bangkirai, sensasi trekking di tengah hutan n naik pohon setinggi 30 meter buat nyebrang di canopy bridge-nya.

–    Sorenya istirahat sebentar di penginapan.

–    Malemnya nongkrong-nongkrong di Ruko Bandar.

 

Hari 3

–    Explore Balikpapan Timur dan Samboja : Pantai Lemaru, Penangkaran Buaya Teritip, Penangkaran Beruang Madu Samboja.

–    Makan malam di resto Dandito. Jangan lupa pesen kepiting lada hitam ya..

 

Hari 4

–    Jalan-jalan ke perkampungan Bugis di atas laut, Kampung Baru.

–    Belanja oleh-oleh di Kebun Sayur.

–    Makan malem di warung Soto Banjar Quin.

 

Hari 5

–    Leyeh-leyeh dari pagi sampe siang di Pantai Manggar. Makan siang ikan bakar.

–    Balik ke penginapan, packing, siap-siap buat kepulangan.

–    Selesai…..

 

 

5 hari tersebut adalah rekomendasi dari para sahabat. Jadi makasih ya Gazali, Dheny, Awe, Jojoe, n Mas Yuladi.

 

Tapi ada 1 rekomen liburan yang paling aku suka. Rekomendasi liburan dari my best friend Jojoe. He wrote :  “Pertama, aku ajak ke pantai bakau di pendopo, terus ke Bukit Bangkirai di KM 38, terus nongkrong malem-malem di Melawai, ajak nonton Persiba (kalo pas ada tanding), terakhir aku ajak mancing mania di tengah laut (klo pas weekend)”. Dan sejujurnya, aq ga tau Pantai Bakau dan Pendopo itu dimana. hehehe.. But, it was a great recommendation. 😀

 

Tapi dari semua rekomendasi temen-temen, semuanya mencantumkan Bukit Bangkirai sebagai recommended place to come. Well, ayo rame-rame ke Balikpapan… 🙂

 

Jalan Jendral Sudirman

Ya ya ya..

Balikpapan adalah kota pesisir. Jadi, ga ada ceritanya warga Balikpapan yang ga pernah ke pantai, apalagi ga pernah ngeliat pantai. Adalah Jalan Jendral Sudirman, merupakan jalan utama yang dibangun sepanjang pesisir, menghubungkan Bandara Sepinggan dan Pelabuhan Semayang, di beberapa titik kita bisa melihat laut langsung dari pinggir jalan. Dan di jalan ini juga terbentang beberapa tempat nongkrong favorit warga Balikpapan, dan yang pastinya ada di pinggir laut atau berupa pantai.

  1. Pantai AURI. Yup, AURI adalah Angkatan Udara Republik Indonesia. Yang artinya pantai tersebut ada di kawasan AURI. Dan yang pastinya tidak setiap saat terbuka untuk umum.
  2. Laut belakang Bandara. Walaupun tempat ini terlarang, tapi tetep aja terlalu banyak warga yang menerobos masuk lewat pagar kawatnya yang cacat. Di tepian Bandara ini di buat tanggul yang dulunya di kerjakan oleh para pekerja dari jepang. Konstruksinya unik, alih-alih menggunakan semen kontraktornya justru menggunakan bahan sejenis jeans untuk lapisan terluar tanggul. Di sepanjang tanggul biasanya banyak yang mancing, jogging atau sekedar jalan-jalan sore. Dan sunset dari spot ini di jamin bagus bangeeeeet.
  3. Laut belakang Balikpapan Plaza. Secara teknis, area belakang Balikpapan Plaza (orang Balikpapan menamakannya BC) adalah lapangan parkir. Tapi karena pemandangannya yang lumayan menghibur (hehehehe), jadilah laut belakang BC ini sering di jadiin tempat sekedar nongkrong, atau foto-foto, atau melepas lelah setelah puas belanja.
  4. Taman Bekapai. Sebenernya sih ga di pesisir-pesisir amat, tapi karena taman ini cukup populer dan ada di jalan Jendral Sudirman, udah gitu ada fasilitas wifi gratis yang di sediain PLN (yang kebetulan letaknya bersebelahan), maka makin rame-lah taman ini, apalagi kalo malem. Ditambah jejeran pedagang kaki lima yang memang udah di lokalisir sama pemkot. Jadi tambah asik nongkrong di sini, bisa internetan gratis sambil ngopi murah-meriah
  5. Klandasan. Sedianya klandasan adalah pasar tradisional. Tapi khusus di daerah pinggir pantainya merupakan deretan segala macam warung makan. Dan yang paling terkenal adalah warung soto makasarnya. Yummm…
  6. Ruko Bandar. Adalah komplek pe-ruko-an. Tapi di komplek ini ada restoran di atas laut yang sering di jadiin tempat nongkrong, aku lupa namanya, tapi orang sini bilangnya Dappen n Ocean. Apalagi klo malem, viewnya bagus.
  7. Terminal Rasa. Sesuai namanya ‘Rasa’, anda bisa berwisata kuliner di sini. Letaknya pas banget di depan pasar Klandasan.
  8. Monumen Perjuangan Rakyat a.k.a Monpera. Adalah monumen, tempatnya persis di pinggir pantai. Dan pastinya sering di jadiin alternatif warga untuk bertamasya keluarga, karena letaknya yang masih ada di tengah kota.
  9. Pantai Kumala. Pantai yang selalu rame di kunjungi warga. Pantainya bersih dan di sediakan jg fasilitas permainan air. Dan lokasinya yang masih ada di tengah kota.
  10. Lapangan Merdeka. Lapangan ini merupakan alun-alun kota. Tiap sore, atau malam minggu, atau minggu pagi lapangan ini selaaaaluuu rame. Kecuali malam minggu, warga memanfaatkan lapangan yang sangat luas ini untuk olahraga, atau sekedar menghabiskan waktu dan energi bersama keluarga. Klo malam minggu lapangan ini penuh sama anak-anak muda, jadi tempat nongkrong club-club motor, dan klo udah lewat tengah malam jadilah jalan Jendral Sudirman sepanjang lapangan ini sebagai arena balapan liar. Satu hal yang paling aku suka dari lapangan ini adalah ciloknya yang enaaaak, klo orang sini nyebutnya salome.
  11. Melawai. Naaaaaah..ini ni tempat nongkrong terfavorit warga balikpapan. Uniknya tempat ini hanya ramai saat malam hari. Letaknya yang deket dari pelabuhan menjadikan Melawai spot yang pas untuk ngliat lampu kapal yang kelap-kelip melintas. Di tempat ini juga terdapat jejeran pedagang kaki lima yang terlokalisir.

Sebenernya masih ada beberapa pantai terkenal di luar jalan Jendral Sudirman. Antara lain :

  1. Pantai Segara Sari Manggar. Warga setempat hanya menyebutnya Pantai Manggar. Akses kendaraan umum yang mudah di dapat dan jaraknya yang hanya kurang lebih 45 menit dari kota membuat pantai ini tidak pernah sepi!! Bahkan klo lagi hari libur macam lebaran antrian kendaraan menuju pantai ini bisa memecahkan rekor macet terpanjang di Balikpapan.
  2. Pantai Lamaru. Berjarak sekitar 30 menit dari pantai Manggar. Pantainya agak lebih sepi dari pantai Manggar, tapi sebenarnya bukan karena tidak lebih bagus, tapi karena jarak-lah yang membuat pantai Manggar lebih kuat pamornya ketimbang Lamaru. Di pantai Lamaru banyak tumbuh pohon pinus, membuat pantai ini menjadi sejuk.
  3. Pantai Ambalat. Katanya sih view di pantai ini baguuuus banget. Tapi jaraknya itu jauuuuuuh banget. Sebenernya aku udah beberapa kali ngelewatin gerbang depannya, tapi belum pernah nyoba buat masuk ke dalem. Hehehe..
  4. Pantai Tanah Merah. Sebenernya pantai ini dan pantai Ambalat udah masuk kawasan Samboja yang merupakan wilayah administratif dari Kutai Kartanegara. Tapi 2 pantai ini lebih dekat ke Balikpapan ketimbang ke Kutai Kartanegara.

Selain itu banyak juga pantai-pantai yang bukan merupakan objek wisata tapi ga kalah bagus sama pantai-pantai wisata. Juga masih banyak lagi objek wisata alam dan pusat riset flora fauna di Balikpapan Tapi akan aku bahas lain kali di post yang lain. 🙂

klandasan

melawai

taman bekapai

salah satu sudut cafe di ruko bandar

 

Untuk sementara, baru bisa ngasih 4 foto ini. Tapi janji deh, bakal di tambahin lg nanti.. 🙂

Bukit Bangkirai oh Bukit Bangkirai (2)

Oke..kita lanjutkan (cerita) perjalanannya…

Setelah bertepos-tepos ria di atas jok motor, akhirnya sampai juga deh di depan ‘gang’ menuju ke Bukit Bangkirai.. Udah sampe?? beluuuummm tauuuukk.. masih ada 10km-an lagi untuk bener-bener sampe di entrance si Bukit Bangkirai, itulah kenapa saya sarankan untuk berkendara pribadi aja. Melewati jalanan tanah yang di padatkan yang tentu saja jauh dari kualitas mulus. Itulah kenapa aku dan teman-teman mengharapkan paginya ga hujan, bukan karena takut kebecek-becekan, tapi lebih karena faktor keselamatan diri, motor, dan mood. Yaaa bisa di perkirakan sendiri kan gimana rasanya bawa motor di atas jalanan tanah yang becek, terjal dan berliku-liku. Salah satu temanku ada yang memiliki pengalaman buruk itu, setelah denger cerita ‘apes’nya tentu saja aku sangat amat menghindari hal tersebut. 🙂 . Well, sepanjang jalan menuju entrance adalah hutan rimba (??) beberapa pohon di pinggiran jalan nampak di tumbangkan, entah apa maksudnya? mungkin pengelola berniat melebarkan jalan. Daaaan… setelah lebih setengah jam-an, mau tau apa yang kami temukan? tepat disamping jalan yang kami lewati itu, melintas jalan yang lebar, ya ya..itulah jalur perlintasan truk-truk pengangkut batubara (lagi) yang tambangnya sepertinya tidak jauh dari lokasi cagar alam tersebut, kedengeran dari suara mesin-mesin yang gemuruhnya kaya monster raksasa yang rakus, mengerikan, menyedihkan, menyebalkan, menggeramkan!!!!

Well next, klo kamu udah ketemu jalanan yang fotonya di atas itu berarti entrance Bukit Bangkirai sudah tinggal kurang lebih 200 meter aja..horaaayyy…

Yup, diatas adalah foto entrance Bukit Bangkirai, klo lagi rame pengunjung, biasanya petugas loketnya stand by di loket pas kita mau masuk area ini, tapi karena kita berkunjung di bukan hari libur, jadi loket masuknya dibiarin kosong dan si petugas merangkap jadi tukang parkir, petugas loket, dan pedagang souvenir..hehehe…biaya masuknya cuma Rp.2000,-/org dan Rp.2000,-/motor. oya, disini juga disediakan beberapa unit villa lho.. jadi klo berminat buat ‘nyepi’ atau honeymoon juga bisa jadi pilihan yang tepat, harga sewanya 450rb/mlm, klo ga bawa persediaan bekal yang cukup, tersedia juga restoran alakadarnya, tapi ya bersiap aja buat merogoh kocek agak dalam. Hehe.. 🙂

Setelah itu perjalanan kami lanjutkan dengan trekking sejauh kurang lebih setengah kilometer. Sepanjang trek banyak ditemui pohon-pohon Bangkirai (yaiyalah..namanya juga Bukit Bangkirai), mulai dari yang segede tongkat pramuka sampe yang guede-guede banget kaya raksasa, dasar aku udik, ga pernah ke hutan, ketemu pohon guede ya pastinya harus narsis dulu foto-foto buat pamer sama temen-temenku di jakarta yang notabene sama udiknya kaya aku. hahaha.. terus nemu semut yang segede jempol tangan, dan sekali lagi nemu pohon-pohon yang guede banget dirobohkan, klo diliat dari lumutnya kayanya pohon-pohon itu udah lama banget dorobohinnya, ga tau deh knp, mungkin karena faktor usia kali ya?? noone from us know..

Soal jalur trekking, ga usah takut nyasar, jalan setapaknya lumayan lebar n ga menyesatkan ko. Jadi aman. 🙂

Sebenernya ada apa sih di ujung jalur trekking itu?? di ujung jalan setapak yang berliku-liku ini adalah sebuah Jembatan Tajuk atau Canopy Bridge. Jembatannya sama kaya jembatan gantung yang suka ada di film-film, tapi yang bikin unik adalah jembatan ini di bangun di atas puncak pohon Bangkirai raksasa. Ada 5 pohon raksasa yang dipergunakan, 2 sebagai menara untuk jalur naik turun dan yang 3 sebagai balkon. Untuk naik ke atas di kenakan biaya lagi sebesar Rp.15.000,-/org. Biaya yang mahal ya hanya untuk sebuah jembatan, tapi ketika kaki menjejakkan kaki di puncak pohon, wuiiih…terbayar deh tu semua cape plus tepos-teposnya. 30 meter kurang lebih ketinggiannya. Ga sedikit lho orang yang akhirnya ciut pas mau mulai nyebrang di jembatannya. Tapi ga sedikit juga orang yang norak (kaya aku) pas menyadari kalo balkon yang aku injek itu cuma melekat di batang pohon raksasa yang entah masih lama atau ngga umurnya. Bingung membayangkannya? Ya makanya ayo dateng kesini.. 🙂

Pukul 12.45 wita kita bertiga udah duduk-duduk santai selonjoran di atas balkon pohon sambil nikmatin pemandangan dari ketinggian. Jadi ngantuk. Jadi Laper. Jadi nyesel kenapa cuma bawa bekel air minum aja.. hehehe.. 😀

berpose di belakang menara pendakian

seperti berjalan di udara 😀

Proyek Canopy Bridge itu sendiri di kerjakan oleh kontraktor asing yang hanya menurunkan 6 orang tenaga kerjanya. Dan amazing banget pas menyadari kalo menara dan balkon-balkonnya bener-bener berdiri kokoh ga oleng sedikitpun. ckckckckck… itung-itungannya pasti pas banget.

Okay, turun dari jembatan kita memutuskan untuk trekking pulang lewat jalur trek yang berbeda. Pengelola menyediakan 5 jalur trek untuk kembali ke entrance, sekali lagi, jangan takut nyasar, yang penting kita ga keluar jalur di jamin sampe ke tujuan. Sebelum pulang, karena perut keroncongan akhirnya kita memutuskan buat isi perut di restoran di entrance. Beli 3 porsi soto dan 3 botol elektrolit, dan kami harus membayar Rp.49.000,- semuanya. Itu mahal apa murah ya?? ya tergantung kocek masing-masing.

Pulangnya ya tinggal capenya aja deeeeh… Jalan-jalan yang murah dan menyenangkan kan? di itung-itung ga sampe Rp.60.ooo modal yang di keluarin. Perinciannya : Bensin + Retribusi Masuk + Bekal = 27.000 + 19.000 + 14000 = Rp.60.000,-  🙂

Kata Bijak yang di dapat, “Jika anda memiliki areal lahan yang luas dan kaya akan hasil buminya dengan rumah yang kecil dan tenaga kerja yang sedikit, anda pasti akan kewalahan bagaimana cara merawatnya.”

Masih banyak sebenernya yang mau di tulis tentang dilema hutan vs sumber energi. Jadi bersambung lagi ya… 🙂

Bukit Bangkirai oh Bukit Bangkirai

Well.. Ceritanya di mulai dari niat pengen bikin tulisan tentang Hutan Kalimantan dan segala dilemanya. Maka mulailah aku brosing sana-sini cari wisata alam (hutan) yang pas. Dan jatuhlah hati pada Bukit Bangkirai. Ada apa disana? Dan kenapa berdilema? Yuk kita kupas.

Berangkat dari Balikpapan sekitar pukul 09.30 wita. Dihari sebelumnya udah dag dig dug aja, coz ujannya deres bangeeeet, yah, secara jalanan di hutan kan bukan aspal, jadi ga rela juga klo sampe gedibel-gedibelan. hehehehe… Tapi Tuhan memang mengizinkan ko.. Karena paginya udara cerah gumirah. Aku dan 2 orang temanku, Gajali dan Giri, berangkat dengan 2 sepeda motor, dan aku tentu saja duduk manis di boncengan sambil tengok kanan kiri berharap liat pemandangan yang indah-indah. Oya, rute kami waktu itu lewat daerah pesisir :  sepinggan (yang ada Bandara Sepinggan tu lho) -> manggar -> lamaru -> samboja, ada pertigaan belok kiri -> KM 38, ada perempatan, ambil jalan yang ke arah Sepaku. Jalannya ga bercabang-cabang ko, jadi gampang.  Waktu tempuh bersepeda motor antara 1,5-2 jam. Kenapa dengan motor? ya karena ga punya mobil, hahahaha. Klo mau naek mobil malah lebih bagus. 😀 . Klo naek angkutan umum agak susah, yang lewat cuma mini bis-mini bis travel aja. Itu pun cuma sampe jalan depan ‘gang’nya aja. Jadi alternative yang paling gampang ya bawa kendaraan pribadi aja, klo mw nyewa mobil kisaran Rp.400-700rb/hari. Klo dari Samarinda, ya ikutin aja trayek bis antar kota Samarinda-Balikpapan terus pas nyampe KM.38 itu ya belok juga ke arah Sepaku. Gampang kan?? Jalan penghubungnya lumayanlah, walaupun ada beberapa titik yang sedang dalam perbaikan, tapi paling tidak itu bukti pemerintah setempat peduli sama tu jalan.

Sepanjang jalan, 50% hutan, 20% tanah kosong atau alang-alang, 30% rumah penduduk. Tapi klo udah lewat KM 38 ya jgn berharap ketemu rumah penduduk. Jadi saran saya, penuhi fuel tank kendaraan anda, beli makanan dan minuman bekal perjalanan secukupnya. 50% hutan, okelah. Tapi harapan saya sirna seketika, mungkin harusnya 50% hutan dan bekas hutan kali ya?? karena hutannya kebanyakan yang rusak. Ironisnya, saya sempat menjumpai tambang Batubara tepat di pinggir jalan. Oh NO!!! arealnya ada di daerah Samboja. Sambil jalanpun bakal keliatan exploitasi habis-habisan itu. Eit, jangan sewot dulu. Itu cuma 1 contoh dari ratusan atau mungkin ribuan tambang batubara dan sejenisnya yang bertebaran di pedalaman hutan Kalimantan. Ironis!! Ironis!! Ironis!!

Bersambung ah…

Introducing of Balikpapan

Jadi sekarang ini aku tinggal di Balikpapan, mungkin sampe 3 taun ke depan kali ya (InsyaAllah), pengennya 3 taun kemudian itu hijrah lagi ke LN. haha…amiiin…

Baiklah…Sebagai warga pemegang KTP Balikpapan yang baik, aku juga merasa berkewajiban dalam membangun kota. Karena belum sanggup secara materi, so, gimana klo qta explore lebih jauh aja kota ini, termasuk salah satu bentuk bakti bukan?? 🙂

Balikpapan, terletak di provinsi Kalimantan Timur. Membentang sepanjang pesisir Selat Makassar sampai ke Teluk Balikpapan. Dengan adanya Bandara International Sepinggan dan Pelabuhan-Pelabuhan (termasuk pelabuhan peti kemas) praktis membuat Balikpapan menjadi pintu gerbang utama untuk masuk ke provinsi ini. Apalagi saat ini pun pemerintah kota juga sedang menambahkan satu lagi pelabuhan peti kemas di bakal kawasan industri Kariangau. Komplit!!

Balikpapan juga dijuluki sebagai kota minyak, itu karena banyaknya perusahaan minyak yang ‘mangkal’ di sini, diantaranya yang besar-besar : Pertamina, Chevron, dan Total. Jika di lihat dari angkasa, maka akan terlihat tangki-tangki minyak tersebut menjamur. Bahkan ada yang bilang, “klo mau ngebom kaltim, bom aja tu pertamina, dijamin se-kaltim meledak semua”, ups, ssssssssst…. mau tau kenapa?? cari tau sendiri ya…hehehehe…:D

Selain minyaknya, Balikpapan juga menjadi markas bagi perusahaan kontraktor batubara dan kontraktor alat berat (yang pastinya melayani kebutuhan alat berat kontraktor batubara). So, tidak diragukan lagi, banyak sekali peluang kerja yang disediakan perusahaan-perusahaan tersebut. Maka dari itu, SMK atau STM di Balikpapan sangat di incar oleh calon siswa-siswanya. Alasannya, ya biar bisa langsung kerja di salah satu perusahaan-perusahaan bonafit tersebut. Selain mencari tenaga non-profesional dari dalam provinsi, biasanya perusahaan-perusahaan ini juga banyak mencari tenaga profesional dari Pulau Jawa. Jadi, jangan heran jika kamu kamu kamu datang berkunjung ke sini lalu mendapati bahasa Jawa sebagai bahasa yang sangat sering terdengar. 🙂

Prestasi Balikpapan secara nasional pun lumayan mengagumkan. kamu tau PERSIBA yang terkenal itu? berarti kamu juga harus tau donk dari mana club bola itu berasal?? Lalu ada juga Adipura Kencana yang tiap tahun adalah menjadi menu wajib tiap walikota untuk mempertahankannya. Jangan samakan sama Jakarta…:D

Tapi di balik revolusi-revolusi industri dan prestasi tersebut tadi, banyak juga dilema yang bakal aku tulis nanti, terutama sih menyangkut dengan alam..hmmm…jadi sedih…:(

sumpah deh...Balikpapan sekarang udah ga sesepi di foto itu..:(

Hufff… Bakal nantinya. Paragraf di atas itu akan aku buat pembahasannya sendiri-sendiri, jadi do not miss it!! Lalu, sejauh ini, apa kamu tertarik buat migrasi ke Kalimantan?? It’s not just a jungle as u known. Tapi, bagaimanapun aku tetap berharap kamu tidak tertarik. Biar Balikpapan tetep jadi Balikpapan yang BERIMAN, Bersih Indah Aman dan Nyaman.

Sweet Regards.