Jembatan Kece

Dulu banget, pernah punya cita-cita jadi arsitek, dan sempet tergila-gila sama jembatan, tapi bukan jembatan kasih sayang antara kau dan aku ya!! Jadi saking tergila-gilanya, saya sampai rela menempuh perjalanan berjam-jam ke sebuah kota yang kurang populer cenderung sepi, hanya demi memandang sebuah jembatan yang pada saat itu menjadi jembatan terpanjang ke-5 di Indonesia.

Lalu beberapa saat lalu adik saya mengupload foto ini di akunnya, ini adalah jembatan penyeberangan orang, Jembatan Repo-Repo namanya, menghubungkan Pulau Kumala dengan Kota Tenggarong. FYI, Pulau Kumala adalah pulau delta yang terbentuk tepat ditengah-tengah aliran Sungai Mahakam. 

Sekitar 7 atau 8 tahun lalu, ketika terakhir saya kesini, jembatan ini belum ada, bahkan mungkin angan-angannya pun belum ada. Dan ketika tiba-tiba saya tahu jembatan itu sudah berdiri, saya excited sekali, ngga sabar rasanya pengen sprint dari ujung ke ujungnya, uji kelayakan lah ceritanya. Etapi bukan uji kelayakan jembatan, uji kelayakan badan saya aja, apa masih kuat sprint sejauh itu? Haha.. Saya mah yakin lah jembatan ini pasti jauh lebih setrong dibanding jembatan yang ambruk beberapa tahun lalu yang lokasinya cuma melipir beberapa ratus meter dari jembatan baru ini. 

Tapi ada satu hal yang saya sayangkaaaaan banget. Saya bertanya-tanya, apa jadinya ya jikalau Ridwan Kamil yang merancang jembatan ini. Aihhh.. Seandainya Ridwan Kamil punya banyak duplikat, mungkin setiap sudut kota di negeri ini jadi Instagramable semuanyahh. 

Salam kece lah buat semua arsitek dan sipil engineer di Indonesia, without you Indonesia hanya sebuah bilik bambu.

When I Off To Rinjani (5)

Previous : Day 4, Collect The Coin Of The Energy

Day 5, Summit Attack

Suara-suara berisik langkah kaki membangunkanku, ku tengok jam di layar ponsel, sudah lewat tengah malam. Kebanyakan pendaki mulai berangkat pukul 12 malam atau bahkan lebih awal. Jika ingin menikmati sunrise di Puncak Rinjani memang harus memulai perjalanan seawal mungkin. Aku mencoba melelapkan diri lagi, tapi tidak berhasil. Jantungku berdebar-debar gelisah, rasanya seperti mau memulai pertandingan atau pertunjukan, aku demam panggung.

Sekelompok cowok dari Jakarta di tenda sebelah masih saja berisik, sepertinya terjadi masalah, tapi karena aku mendengarkan percakapannya mulai dari tengah-tengah jadi aku tidak mengerti akar permasalahannya. Ah, lagipula bukan masalahku juga! Sejam kemudian, seseorang memanggil-manggil Bang Eddy dan Bang Hasan dari luar tenda, cukup lama juga. Memang, abang yang dua itu bangkongnya luar biasa.

Pukul satu lewat, Bang Eddy mengetuk-ngetuk tenda kami, sepiring mie rebus dan teh panas muncul. Kemudian Bang Hasan muncul meminta daily pack untuk membawa perbekalan. Lima belas menit kemudian kami sudah berdiri di bawah jutaan bintang. Langit benar-benar cerah tanpa awan. Setelah sedikit peregangan otot, berdoa dalam hati, kami berangkat.

Kira-kira pukul dua kurang, perjalanan menuju puncak dimulai. Bang Eddy tidak ikut, hanya aku, Heni dan Bang Hasan. Perbekalan yang kami bawa antara lain 2,7 liter air minum, roti tawar, kurma, gula merah, kue kering sisa lebaran, P3K, dan beberapa perlengkapan keselamatan. Semuanya di-pak di daily pack warna pink milik Heni, dan dibawa oleh Bang Hasan. Aku jadi geli sendiri, kenapa juga warna tasnya harus pink?

Kesulitan pertama menghadang, tanjakan terjal menuju punggungan Rinjani berupa tanah bercampur pasir dan batu kerikil, naik satu langkah mundur setengah langkah, begitu seterusnya, tidak ada habisnya sampai 3 jam ke depan. Gambaran mininya, seperti mendaki mainan perosotan namun dengan tumpahan pasir kerikil. Tapi entah siapa yang menumpahkan kerikil sebanyak itu. Di tanjakan ini kami bertemu lagi dengan cowok-cowok ganteng dari Bekasi yang satu pick up dengan kami saat berangkat ke Sembalun tempo hari.

Sekitar pukul 05.30 kami sampai di punggungan Rinjani. Di depan, puluhan kerlap-kerlip lampu tampak berjajar di tanjakan puncak, mungkin mereka orang-orang yang berangkat dari jam 11 malam tadi. Trek di punggungan cenderung landai, kami hampir tidak berhenti sama sekali. Jika sedang berhenti kami akan mematikan senter dan mengagumi bintang-bintang. Di ufuk timur, garis cakrawala mulai terlihat, pendar cahaya putih mulai mengusir bintang dari langit malam.

Mendekati tanjakan ke puncak, trek mulai menanjak lagi dengan komposisi sama seperti yang sudah-sudah, tanah pasir dan kerikil. Di tengah jalan kami bertemu pendaki perempuan yang setengah pingsan, rekan-rekan se-timnya, yang semuanya laki-laki, berusaha keras mencegahnya terkena hipotermia. Beruntung kami membawa perlengkapan p3k, sebotol minyak kayu putih kami sumbangkan untuk mereka. Bang Hasan memberikan beberapa saran, setelah itu perjalanan kami lanjutkan. Di timur, cahaya putih mulai berpadu dengan cahaya kemerah-merahan. Tak lama kemudian kami menemukan sedikit medan datar untuk menunaikan sholat subuh.

Perlahan tapi pasti, kami berjalan mendekati tanjakan puncak. Langit semakin cerah, tapi matahari belum naik dari persembunyiannya, kami memutuskan untuk beristirahat mengisi tenaga. Pemandangan sekeliling mulai terlihat. Awan tipis bergerombol jauh dibawah kami, menaungi padang rumput yang kemarin kami lewati. Lalu sedikit-sedikit, bulatan kecil cahaya putih keemasan beranjak naik menembus garis cakrawala, utuh, tanpa sapuan awan. Seperti ada paduan suara yang mengiringi kemunculannya, langit berubah warna, birunya semakin jelas terlihat, kami termangu, lalu kemudian tersadar bahwa kami harus segera mengabadikan momen langka ini. Dari jauh samar-samar Indonesia Raya berkumandang, rupanya upacara bendera sudah dilaksanakan. Subhanallah, Tuhan memang seniman sejati.

CAM00480

IMG_0585

Setelah puas beristirahat, keraguan mulai menggelayutiku lagi, penyakit maag kambuhanku mulai terasa. Sedari awal Heni tidak punya target untuk sampai di puncak, sedangkan Bang Hasan hanya menemani kami. Aku bingung lagi, aku takut dan merasa tidak enak hati pada yang lain. Namun Bang Hasan meyakinkanku lagi, dan Heni pun mengutarakan dia tidak akan keberatan untuk meneruskan perjalanan. Maka perjalanan kami lanjutkan.

Langit semakin carah, matahari mulai mengusir dingin, dan kami mulai berpapasan dengan orang-orang yang turun dari puncak. Sekitar pukul 07.00, kami mulai mendaki tanjakan maut menuju puncak Rinjani. Lebarnya hanya sekitar tiga sampai lima meter dengan lereng curam dikanan kirinya. Komposisinya pasir dan batuan kerikil. Usaha dobel ekstra dibutuhkan disini. Naik satu langkah mundur setengah langkah, bahkan naik satu langkah bisa mundur dua langkah, setiap ada batuan besar disitulah kami bisa berhenti dan memulihkan energi.

IMG_0618

IMG_0621

Semakin ke atas, semangat dan energiku semakin terkikis, aku nyaris menyerah, tidak sanggup lagi membawa badan besarku melewati tanjakan setan yang licin ini. Setiap tiga langkah aku berhenti, Heni berada sekitar lima meter di atasku dan Bang Hasan menemani semua langkahku yang mulai kehilangan gairah dan energi. Aku mulai putus asa, suara orang-orang yang mengecilkanku mulai bergaung hebat di kepala, “emang bisa lu sampe puncak?” “naik tangga Bromo aja harus diseret, gimana Rinjani?” “lah, naik mobil aja mabok, belagak mau naik gunung!”. Semua suara itu bersitegang di dalam kepalaku, yang kemudian mencambukku untuk terus melangkah sampai ke puncak. Bang Hasan tak henti-hentinya memberikan semangat, dia juga membantu menarik tanganku. Perjalanan yang kami tempuh sudah demikian panjang, puncak pun sudah terlihat, aku tidak boleh menyerah sampai disini saja. Kukerahkan sisa tenagaku, tidak berpikir menyisakannya untuk pulang.

Sekitar pukul 09.00, akhirnya, kami tiba di Puncak Rinjani, rasanya senang bukan kepalang. Semua lelah itu terbayar lalu menghilang. Aku dan Heni jejingkrakan. Bendera Merah Putih berkibar gagah di puncak tertinggi di Pulau Lombok ini. Sejauh mata memandang hanya hamparan langit biru dan awan, tak ada yang lebih tinggi dari kami. Di barat, Gunung Agung berdiri meruncing sempurna, sedangkan di timur, Gunung Tambora yang tua duduk tegap tak kehilangan wibawanya. Dibawah kami terhampar Danau Segara Anak yang menjadi primadona keindahan Rinjani. Aku sangat tidak menyangka bisa berdiri di atas sini, bahkan tanpa pengalaman mendaki sebelum-sebelumnya.

IMG_0650

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar mengerjakan mimpiku, melakukannya sampai tuntas, dan menikmati hasil dari semangat yang tak terbayarkan itu. Aku berhasil sampai di puncakku yang tertinggi, pencapaian terbesar seumur hidupku, setelah selama ini menghabiskan waktu untuk beberapa hal yang kurang berarti. Berada di Puncak Rinjani ini sangat berarti banyak untukku, bersama seorang sahabatku yang paling sejati dan seseorang yang sangat tulus walaupun baru kukenal beberapa hari.

IMG_0658

Setelah baterai kamera habis, kami mencari tempat teduh untuk istirahat dan mengisi perut. Makanan-makanan dikeluarkan. Sekelompok cowok-cowok pendaki dari Bogor ikut bergabung. Perbincangan mengalir ringan. Kebahagian karena telah mencapai puncak membuat semua keluhanku sepanjang perjalanan menguap. Namun untuk mencegah penyakit lambungku muncul lagi, aku menelan begitu saja setangkup roti tawar dengan toping susu kental manis coklat dan beberapa butir kurma.

Sekitar pukul sepuluh kurang, kami turun dari puncak. Kami tinggalkan sekantung kue kering sisa lebaran untuk cowok-cowok pendaki dari Bogor tadi. Tak jauh berjalan, kami bertemu lelaki setengah baya yang menanyakan seberapa jauh lagi untuk sampai ke atas. Tampaknya dia hampir patah semangat seperti aku tadi, dan tiba-tiba tanpa kami minta dia mulai mencurahkan isi hatinya tentang penyesalannya karena telah meninggalkan istri dan anak pertamanya yang baru berusia 6 bulan di rumah. Kami menyemangatinya dan Heni memberinya sedikit pandangan positif, bahwa kelak dia bisa menceritakan pengalaman ini pada anaknya. Dia setuju dengan pendapat Heni, lalu pamit untuk meneruskan perjalanan puncaknya.

IMG_0586

Perjalanan turun tentu jauh-jauh-jauh lebih mudah daripada saat naik. Bang Hasan mengajari kami teknik menuruni turunan pasir kerikil ini, lalu dengan lancar Heni meluncur cepat jauh didepan. Dan aku, berulang kali aku jatuh kehilangan keseimbangan. Tekniknya sebenarnya sangat mudah dan efisien. Kita turun dengan tumit yang terlebih dulu menapak pasir, lalu biarkan meluncur dengan sendirinya, kemudian sambut dengan tumit  sebelahnya, dan begitu seterusnya. Hampir tidak dibutuhkan usaha untuk melakukan hal ini, cukup menyeimbangkan diri dan konsentrasi. Kami berhenti sesekali untuk melemaskan kaki.

Rinjani juga terkenal dengan samudra Edelweisnya. Samudra Edelweis tersebut terhampar menyelimuti lereng punggungan Rinjani yang tandus, hanya Edelweis saja, bahkan rumput liar pun tidak sanggup hidup disini.

IMG_0594

Matahari semakin menyengat, membuat haus tak berkesudahan. Persediaan air minum kami semakin menipis, hanya tersisa setengah botol kecil yang aku pegang dan setengah botol kecil yang Heni pegang. Makanan pun habis, kecuali gula merah yang kami gunakan sebagai doping alami. Di tengah perjalanan kami bertemu lagi dengan dua orang lelaki setengah baya yang mengutarakan kehabisan perbekalan, padahal perjalanan ke puncak masih lumayan jauh. Kami berikan minum secukupnya dan sepotong gula merah. Entah akhirnya mereka berdua berhasil sampai di puncak atau tidak.

Masih di tengah punggungan Rinjani, aku merasakan nyeri di sendi lutut kiriku. Awalnya tidak terlalu terasa, tapi lama kelamaan nyerinya semakin menjadi-jadi, terutama saat digunakan untuk turun, padahal sisa perjalanan kami semuanya adalah turunan. Heni sudah berjalan jauh mendahuluiku. Pucuk kepalanya bahkan sudah tidak terlihat. Sedangkan aku hanya bisa berjalan lambat sambil tertatih-tatih, Bang Hasan dengan sabarnya terus menemaniku.

Turunan dari Punggungan Rinjani menuju Pelawangan seperti neraka bagiku. Seandainya lututku tidak cedera saat itu, pasti aku sudah meluncur dengan gaya. Beberapa kali aku bertanya pada Bang Hasan, apa ini benar-benar jalanan yang kami lewati semalam? turunannya begitu curam, aku sampai tidak percaya tadi malam aku sudah mendaki jalanan pasir ini. Di tengah turunan, nyeri di lututku semakin tidak terkira, rasanya seperti ingin berteleportasi langsung ke rumah. Di saat itu juga aku merindukan eskalator, lift, bahkan sopir angkot dan tukang ojek. Dan Bang Hasan dengan sabarnya masih terus menyemangati dan memanduku.

Ada perasaan bersalah yang berkecamuk di hatiku, aku yang bersikukuh untuk sampai ke puncak, aku yang sepanjang perjalanan berjalan paling lambat padahal tidak membawa apa-apa, aku yang berkali-kali menghambat perjalanan karena cedera, aku yang mengacaukan rencana perjalanan Bang Eddy dan Bang Hasan karena  ambisiku untuk muncak, aku yang saat itu benar-benar merasa jadi tidak berguna, dan lutut ini, kenapa lutut ini jadi sungguh menyebalkan?! Aku seperti ingin berteriak marah-marah, tapi aku tidak tahu harus melampiaskan amarahku pada siapa, lagipula aku yang salah, jadi akhirnya aku hanya memarahi diriku sendiri di dalam hati. Seperti tanjakan puncak yang tidak ada habisnya, turunan ini pun seperti tidak ada habisnya, Bukit Cemara belum juga tampak.

Sekitar pukul 14.00 WITA, akhirnya aku dan Bang Hasan tiba di Bukit Cemara. Heni sudah terkapar di dalam tenda, Bang Eddy sepertinya sedang pergi ke sumber mata air. Sambil meluruskan kaki, aku mencurahkan perasaanku pada Heni, tentang semua ketidak-enak-hatian-ku pada kedua abang tersebut, tentang semua kemarahanku pada diriku sendiri, dan tanpa terasa aku sudah menangis di pangkuan Heni. Tapi akhirnya tangisan itu cukup membuatku lega, Heni sedikit menghiburku dan memberikan pandangan-pandangan positifnya yang seperti biasa, akal sehatku menerimanya dengan baik dan segera bangkit untuk ‘membetulkan’ lutut sialku ini. Aku tidak boleh menghambat perjalanan lagi!

Tidak lama kemudian Bang Eddy datang, makan siang dihidangkan, aku lupa siang itu kami makan apa, mungkin saking lapar dan kacaunya aku saat itu. Selesai makan kami langsung berkemas-kemas. Pukul 15.00 WITA, kami memulai perjalanan menuju Danau Segara Anak. Dan sekali lagi, Bang Hasan melarangku membawa apapun. Kali ini Heni yang membawa carrier-ku. Bang Eddy berjalan cepat di depan dan kemudian menghilang dari pandangan. Dia harus mencari tempat di sekitar danau, karena banyak pendaki yang turun ke danau hari ini.

Sebelumnya pernah aku gambarkan tentang letak geografis Danau Segara Anak yang berada di dasar jurang, dikelilingi pegunungan. Maka untuk menuju ke situ kami pun diharuskan untuk menuruni dinding tebing yang terjal. Treknya bukan tanah atau pasir atau batu kerikil, tetapi bebatuan gunung yang besar-besar dan terjal, membentuk seperti tangga-tangga raksasa yang sulit sekali digapai oleh kaki-kaki manusia kami yang pendek, dan, apalagi, cedera! Jika berpapasan dengan pendaki yang akan naik maka salah satu harus mengalah dan mempersilahkan salah satu untuk lewat duluan. Dan seperti yang sudah-sudah, turunan ini tak ada habisnya!

Setelah sekitar satu jam berjalan, kami berhenti untuk beristirahat. Candaan-candaan mulai dilemparkan, curahan hati mulai diutarakan, lalu topik pembicaraan mengarah ke ‘rumah’, dan tiba-tiba aku berkata “pengen pulang” sambil bersimbah air mata, tidak terbendung, banjir sebanjir-banjirnya. Rasa sakit, lelah, dan tidak enak hati berkecamuk di dalam badanku, logikaku kalah, lalu suara langkah-langkah kaki yang mendekatlah yang kemudian memaksaku menyudahi drama tidak penting ini. Perjalanan dilanjutkan, dengan gontai.

Sekitar pukul 18.00 WITA, fase menuruni tebing sukses kami tempuh dengan ritme yang sangat laaambaaat. Tapi perjalanan belum selesai, sedangkan langit mulai beranjak kelam. Aku fikir setelah turunan tebing maka trek akan melandai, ternyata, turunan yang lain telah menanti kami. Walaupun tidak terlalu terjal, tapi sangat cukup menyiksa lututku yang semakin ngilu. Tiba-tiba Bang Hasan merasa ragu dengan jalan yang sedang kita lalui, menurutnya, seharusnya kita sudah berada di jalan landai. Aku dan Heni diperintahkannya untuk menunggu ditempat, sedangkan dia berlari menyusuri trek yang masih terus menurun, tak lama kemudian Bang Hasan kembali sambil terengah-engah dan mengatakan bahwa kita salah jalan. Apa? Tentu saja aku dan Heni jadi panik.

Setelah cukup mengambil nafas, Bang Hasan berlari lagi ke atas, ke arah semula kami datang, cukup lama juga, namun kami masih bisa melihat kerlipan sinar headlampnya dari kejauhan. Saat itu aku mendengar suara lonceng kecil berbunyi, aku pernah mendengar suara itu sebelumnya, beberapa pendaki ada yang menaruh lonceng-lonceng kecil tersebut di carriernya, sehingga akan berbunyi setiap mereka bergerak. Bang Hasan kembali sambil terengah-engah. Suara krasak-krusuk mulai terdengar di sekeliling kami, bayangan-bayangan menyeramkan pun mulai menghantui kepalaku, aku menyenter-nyenter sekeliling dan secara tak terduga senterku memantulkan dua bintik cahaya yang kemudian aku sadari bintik tersebut  adalah mata. Entah itu mata apa, yang pasti si empunya mata sedang mengawasi kami. Aku mendadak panik luar biasa, teringat cerita-cerita horor gunung yang pernah aku baca, dengan sedikit memaksa aku meminta pada Bang Hasan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Karena merasa salah jalan akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke atas.

Suara lonceng yang sebelumnya aku dengar kini terdengar semakin jelas, kali ini Heni dan Bang Hasan pun ikut mendengarnya, akhirnya kami putuskan untuk menunggu pemilik lonceng itu melintas. Benar saja, tidak lama kemudian cahaya-cahaya senter mulai terlihat, sekelompok pendaki berjalan turun menuju ke arah kami. Kami bertanya trek menuju Danau Segara Anak pada mereka, menurut mereka kami sudah berada di jalur yang benar. Bang Hasan sedikit membantah, lalu para pendaki tersebut menunjuk seorang porter yang ternyata ada di antara mereka, sang porter meyakinkan sekali lagi, akhirnya Bang Hasan percaya. Kami sedikit bernafas lega, dan kembali menyusuri trek yang baru saja kami lewati.

Sekitar lima belas menit kemudian, sebuah suara memanggil-manggil Bang Hasan dari kejauhan. Kami berhenti, Bang Hasan menyenter-nyenter ke depan, seperti menemukan payung di tengah hujan, Bang Eddy muncul! Aku dan Heni kompak memanggil namanya. Terimakasih ya Tuhan. Bang Eddy (kebetulan) datang seperti malaikat di saat kami merasa tersesat. Kami beristirahat sejenak, Bang Hasan nampak sekali kelelahan, karena panik, mondar-mandir mencari jalan dan beban carrier yang dipikulnya, belum lagi harus beberapa kali membantuku yang berat ini menuruni turunan-turunan terjal. Terimakasih oh Bang Hasan.

Sekitar pukul 18.00 WITA tadi sebenarnya Bang Eddy sudah sampai di tepi danau, kemudian mendirikan tenda dan lain-lain. Ketika langit semakin gelap dan kami tidak juga muncul, Bang Eddy merasa khawatir lalu berjalan balik menjemput kami, dan yang menakjubkan, tanpa senter! Setelah diusut, dia berjalan gelap-gelapan bukan karena sudah biasa atau sekedar gegayaan, tapi karena memang senternya nyaris tidak punya cahaya.

Bang Hasan dan Heni kemudian berjalan duluan, sedangkan aku berjalan perlahan belakangan ditemani Bang Eddy. Carrierku berpindah punggung lagi, kali ini dibawa oleh Bang Eddy. Oya, hal yang paling aku ingat ketika akan melanjutkan perjalanan adalah ucapan manis Bang Eddy yang kemudian membuat aku dan Heni (kompak) merasa dongkol, kira-kira begini bunyinya, “Heni jalan duluan sama Hasan ya, biar Fatma aku yang temanin, udah deket kok, sebentar lagi sampai!”. Kenyataannya?! Grrrrr.. Entah berapa kali kami harus merambat menaiki bukit-bukit yang treknya tidak jelas dan butuh sekitar lebih dari satu jam jika berjalan normal untuk mengaktualisasikan kalimat ‘sebentar lagi sampai’ itu. Huh! Okelah, setelah itu aku dan Heni kompak tidak mau tergiur oleh kata ‘dekat’ yang abang-abang itu ucapkan!

Bang Eddy itu sesungguhnya sangat sangat sangat pendiam, jadi, sepanjang jalan hanya beberapa kali saja kami berbincang-bincang, itupun setelah aku pancing dengan beberapa pertanyaan.

Entah berapa jam kemudian (akhirnya) aku sampai di camp area di tepi Danau Segara Anak yang berkilauan memantulkan sinar bulan, setelah itu yang aku inginkan hanya sikat gigi lalu tidur, bukan makan atau yang lainnya. Setelah dipikir-pikir, sangat wajar jika kami merasa kelelahan, mengingat perjalanan hari ini dimulai pukul 2 dini hari dan selesai sekitar pukul 9 malam, 19 jam! Dan semuanya ditempuh dengan berjalan kaki, bukan naik kereta api atau naik angkot atau naik ojek apalagi naik pesawat.

Sebelum tidur Heni menawarkan diri untuk memijit-mijit kakiku yang cedera, yippi! Mana bisa kutolak? Selamat malam Rinjani, sampai jumpa besok lagi.

next : Day 6

When I Off To Rinjani (4)

Previous : Day 3, Full Day Full Power

Day 4, Collect the Coin of the Energy

Aku terbangun kaget oleh guncangan di tenda, ternyata Pak Kardus yang membangunkan kami, dia mengajak pergi ke sumber mata air. Heni dengan penuh semangat melompat keluar dari sleeping bag, mengosongkan daily packnya, membangunkan Bang Eddy dan Bang Hasan, lalu mengumpulkan botol-botol kosong yang ada di tenda mereka. Heni dan Pak Kardus berangkat menuju sumber mata air bersama dua orang lainnya, Pak Heri dan teman yang membawa carrierku.

Setelah kepergian yang empat orang itu belum ada seorang pun yang kedengaran keluar dari tenda. Matahari yang mulai muncul membuat dingin lenyap sedikit demi sedikit. Aku merangkak keluar tenda, dan langsung takjub dengan pemandangan yang tersuguh di hadapanku. Kita memang menginap di bibir jurang, tapi sesuatu yang ada di dasar jurang itu membuat jantungku berdebar-debar. Dikelilingi pegunungan hijau disekitarnya, beratap langit biru, disitulah Danau Segara Anak terhampar, biru, tenang, berkharisma. Mataku berkaca-kaca, Subhanallah, sepertinya Tuhan tak sengaja menjatuhkan kepingan surgaNya.

CAM00446
CAM00447

Aroma bawang yang digoreng kemudian menghalau lamunan ketakjubanku akan Segara Anak, aku celingukan mencari sumbernya, ternyata tak jauh dari kami ada kemah keluarga bule, seorang porter sedang sibuk menyiapkan sarapan, sepertinya si porter memasak nasi goreng untuk mereka. Aku hanya bisa menelan ludah dan menyumpah-nyumpah dalam hati.

Tak lama kemudian Heni dan rombongan tiba membawa berliter-liter harapan. Kepala-kepala mulai muncul dari dalam tenda, kompor-kompor mulai menyala, aroma kopi dan teh bersahut-sahutan di udara. Matahari bersinar cerah, mengurai penat, membangkitkan gairah. Suara tawa bergelak-gelak menemani pagiku yang indah di atas Rinjani. Minum teh atau kopi di pagi hari mungkin sudah biasa, tapi minum teh atau kopi di pagi hari di atas Gunung Rinjani sambil menatap Danau Segara Anak, itu baru luar biasa! Aroma bawang yang digoreng tercium sekali lagi, ternyata Bang Eddy memasak nasi goreng! Yippppiiiiii!

CAM00464
CAM00454
CAM00449

Usai sarapan, Bang Eddy bertanya meyakinkanku sekali lagi tentang keinginanku sampai ke puncak. Awalnya aku masih tampak ragu, karena sepertinya hanya aku yang ingin ke puncak. Tapi setelah diyakinkan akhirnya keputusan muncak pun bulat. Karena berbeda rencana, teman-teman yang lima orang memisahkan diri, mereka meneruskan perjalanan langsung ke Danau Segara Anak, sedangkan kami harus menunggu semalam lagi di Pelawangan. Rasanya sedih berpisah dengan mereka, walaupun kami hanya berteman dua hari dan walaupun aku tidak mengenal semua nama mereka. Aku berharap salah satu dari mereka ada yang membaca tulisan ini, lalu kita bisa bertemu lagi.

Kami yang jadi berempat lagi kemudian berpindah tempat kemah ke Bukit Cemara supaya tidak terlalu jauh saat muncak. Sepanjang hari itu aku dan Heni hanya leyeh-leyeh sambil ngerumpi di tenda. Menjelang sore, Bang Eddy berangkat ke sumber mata air membawa semua botol kosong. Sumber mata air di Pelawangan berada di dasar jurang, namun menurutku memiliki air yang paling segar.

Tidak terasa matahari semakin turun, kabutpun ikut turun menutupi pandangan kami dari Danau Segara Anak. Satu per satu tenda-tenda berdiri, banyak sekali pendaki yang datang sore itu, Bukit Cemara sampai penuh berjejal, maklum besok tanggal 17 Agustus, sama seperti gunung-gunung lain, upacara bendera akan berlangsung pula di puncak Rinjani.

IMG_0525
IMG_0540

Malam itu Bang Eddy memasak capcay dan memberi kami nasi dengan porsi ekstra, alasannya, karena tengah malam nanti kami akan muncak dan perlu energi ekstra juga. Cuaca tampak sangat bersahabat, langit cerah secerah-cerahnya, angin tidak berhembus sekencang kemarin, aku berharap tetap seperti ini sampai tengah malam nanti.

IMG_0543
CAM00475

Di depan temaramnya api unggun, kami duduk-duduk berbagi cerita. Bang Eddy yang pendiam pun sempat membuatku tertawa sampai mulas. Kemudian Heni mulai dengan ritual bersin-bersin alerginya lalu pamit untuk masuk tenda dan tidur lebih awal. Tak lama setelah itu aku menyusul Heni.

Sepasang bule kedengaran baru datang, tapi porter yang membawa barang-barangnya belum muncul, seorang guide menjelaskan hal tersebut dengan bahasa inggris yang patah-patah, si bule mengerti lalu bertanya kapan porter tersebut sampai, tapi nampaknya si guide tidak mengerti dan berulang kali mengatakan hal yang sama. Aku tersenyum geli, ingin rasanya keluar tenda lalu membantu menengahi mereka, tapi bukan urusanku.

Di tenda tim sebelah, sekelompok cowok yang kedengarannya berasal dari Jakarta sedang merencanakan keberangkatan mereka menuju puncak. Setelah sepakat, seorang yang terdengar lebih vokal menyuruh seluruh rekannya untuk segera tidur dan beristirahat. Tapi mereka tak kunjung tidur, obrolan terus berlanjut, sampai entah jam berapa. Di tenda tim yang lain, alunan lagu Iwan Fals dan Sheila On 7 mengalun lembut.

Sejenak kemudian, aku terlelap.

Next : Day 5, Summit Attack

When I Off To Rinjani (3)

Previous : Day 2, And The Journey Begin

Day 3, Full Day Full Power

Lamat-lamat kudengar suara azan berkumandang, dengan mata masih tertutup aku mengingat-ingat dimana aku saat ini. Tempat tidur yang empuk perlahan menghilang dari bawah punggungku, kehangatan selimut seperti lenyap tanpa jejak, aku buka mataku, dan tersadar, aku ada di kaki Rinjani. Tapi suara azan terdengar sangat dekat, dan itu bukan mimpi. Rupanya beberapa tim lain juga menginap di Pos 1, dan salah seorang di antara merekalah yang mengumandangkan azan. Lalu aku terlelap lagi.

Suara Heni yang kemudian memecah mimpiku, aku terbangun dan kulihat kegelapan sudah hilang, matahari sudah muncul. Aku keluar dari tenda, teman-teman baruku yang lima orang tersenyum memberikan semangat dan menanyakan keadaan kakiku. Seorang dari mereka menyarankan aku untuk memakai sandal gunung ketimbang sepatu, beruntung aku membawa keduanya. Seorang lagi mengajakku melemaskan otot-otot kaki agar nanti tidak kram lagi. Belakangan baru aku tahu, yang memberiku saran dipanggil Pak Kardus oleh teman-temannya dan yang mengajakku stretching bernama Heri.

CAM00416

Udara dingin perlahan menguap, kulepas jaketku dan menikmati sentuhan lembut matahari. Kulihat Bang Eddy mulai memasak sarapan pagi. Tidak mewah, tapi dengan lahap sarapan tersebut kami habiskan. Usai sarapan, kami mulai berkemas-kemas lagi. Membongkar tenda, membersihkan alat makan, dan mengepaknya lagi ke dalam carrier masing-masing.

Perjalanan kami mulai lagi, target hari itu kami harus sampai di Pelawangan Sembalun, itu artinya hari itu juga kami akan berhadapan dengan bukit-bukit penyesalan yang konon banyak membuat pendaki menyesal karena telah datang ke Rinjani. Aku simpan keseraman itu untuk nanti, saat itu aku hanya berharap kakiku tidak kram lagi. Aku bertanya berapa jam perjalanan yang akan kita tempuh pada Bang Eddy, tapi dengan santai dia menjawab, “se-sampainya”.

Aku bertukar bawaan dengan salah seorang cowok yang lima orang itu, yang parahnya sampai sekarang tidak aku kenal namanya. Dia membawa carrierku, dan aku seharusnya membawa daily pack miliknya, tetapi Bang Hasan bersikukuh tidak mengizinkanku membawa apapun di punggung sampai kakiku terbukti tidak kenapa-kenapa lagi. Walaupun sempat sedikit adu mulut, akhirnya aku menyerah dan hanya membawa tas pinggang berisi handphone dan botol air minum, sedangkan Bang Hasan membawa carrier miliknya dan daily pack yang seharusnya aku bawa.

Perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 didomimasi padang rumput berbukit-bukit, namun masih landai dan belum menemui tanjakan-tanjakan yang cukup berarti. Cuaca semakin menghangat, namun angin yang berhembus tetap saja membuat menggigil. Aku yang tidak terlalu tahan panas lebih memilih melepas jaket. Beberapa kali kami melintasi ngarai-ngarai yang indah merekah membelah bukit savana, jembatan-jembatan beton sudah dibangun untuk memudahkan pendaki melintasi ngarai. Jembatannya kokoh dan cukup lebar, beberapa bahkan digunakan sebagai camp area. Aku jadi kepikiran, bagaimana cara pengerjaannya? Siapa yang membawa bahan-bahan bangunannya? Karena aku pribadi tidak melihat adanya jalur kendaraan sampai disitu, tapi entahlah, mungkin ada namun aku tidak tahu.

CAM00422

Dari Pos 2 ke Pos 3 medan mulai menanjak namun belum terlalu terjal, bukit-bukit savana masih menjadi teman di perjalanan kami. Matahari semakin menyengat, namun angin yang sesekali berhembus tetap membuat menggigil, apalagi ditambah kaosku yang basah karena keringat. Pakai jaket terlalu panas, tidak pakai jaket malah kedinginan, serba salah.

CAM00426

Ternyata mendaki gunung tidak seperti yang aku pikirkan selama ini, aku pikir kami harus berjalan terus-terusan sampai ngos-ngosan seperti lomba lari maraton. Kenyataannya, jika kehabisan nafas maka kami akan berhenti barang satu dua menit. Lama kelamaan rombongan terpisah-pisah sesuai dengan kecepatan jalan masing-masing. Setiap kelompok beranggotakan dua sampai tiga orang. Dan tanpa aku sadari, ternyata aku berada di kelompok ter-belakang, sedangkan Heni berada di kelompok terdepan. Setiap ada rest area, kelompok terdepan akan berhenti dan menunggu sampai semua anggota berkumpul kembali, jeda waktu setiap istirahat mulai setengah sampai dua jam lebih. Yang paling depan jelas yang paling lama beristirahat. Setelah semua anggota cukup istirahat maka perjalanan akan dilanjutkan kembali. Begitu seterusnya.

CAM00427

Kami tiba di Pos 3 tepat tengah hari. Pos 3 berdiri di bekas aliran lava, seperti sungai yang mengering. Letaknya yang terlindung dari matahari membuatnya menjadi tempat favorit para pendaki untuk beristirahat. Sialnya saat itu tempat tersebut dipenuhi bule, banyak diantara mereka yang bertelanjang dada dan tidur di atas batu-batuan besar yang berserakan di sekitar Pos 3. Tadinya, kami berencana untuk beristirahat makan siang di sini. Tapi karena merasa risih, jadi perjalanan pun diteruskan dan masuk ke jalur ekstrim yang terkenal, Bukit-Bukit Penyesalan.

Mulai dari Pos 3, jalanan mulai menanjak terjal. Karena cuaca kering, jalanan tanah menjadi semakin ngebul, debu-debu berterbangan memenuhi udara, apalagi jika kita berpapasan dengan pendaki yang turun sambil berlari. Di tanjakan-tanjakan curam ini aku semakin sering berhenti untuk menarik nafas. Sesekali juga berhenti untuk memberi jalan porter atau pendaki yang turun. Jika ada tempat datar dan berpohon sedikit rindang, maka disitu akan banyak pendaki yang beristirahat, mereka menyebutnya ‘bonus’, karena tanjakan-tanjakan ini benar-benar seperti tak ada habisnya, seperti hendak menguji kekuatan dan kesabaran. Siang itu, akhirnya tidak ada makan siang, kami hanya makan coklat dan makanan ringan lain sebagai pengganjal perut.

Di tengah jalan, aku bertemu seorang nenek pendaki bule yang sedang turun sambil terus menangis, dibelakangnya seorang guide muda dengan setia menemani si nenek, entah apa yang telah terjadi. Kemudian di tanjakan yang lain aku bertemu lagi dengan seorang nenek pendaki, kali ini asli orang Indonesia, beliau mendaki bersama cucu-cucunya yang sudah dewasa. Saat berpapasan, beliau tersenyum dan menepuk pundakku sambil berkata, “harus sampai puncak, ya!”. Aku hanya membalas dengan senyum lebar. Jujur saja, sampai pada saat itu aku belum menargetkan harus sampai di puncak.

Sekitar pukul 17.00 WITA, aku sampai di area datar menjelang dua tanjakan terakhir. Seperti yang sudah-sudah, aku tiba bersama group yang paling terakhir. Dan yang mengejutkanku, ternyata Heni dan teman-teman yang lain sudah menunggu hampir dua jam disitu, padahal saat masih di perjalanan tadi aku masih bisa melihat Heni yang sudah ada di bukit yang berbeda.

IMG_0406

Aku lihat Pelawangan Sembalun tertutup kabut. Matahari juga mulai berpetak umpet dengan awan-awan, hawa dingin mulai mendominasi. Cahaya matahari yang semakin menjingga meninggalkan efek dramatis ke punggungan Rinjani. Kami pun tidak ketinggalan ikut mengabadikan momen-momen tersebut. Seorang teman menanyakan Pak Kardus yang tidak nampak diantara kami, seorang yang lain menjawab bahwa Pak Kardus mungkin sudah sampai di Pelawangan.

Perjalanan akan dilanjutkan kembali ketika tiba-tiba Pak Kardus muncul dari atas sambil menggigil bersidekap, kami semua bertanya-tanya, dan dengan santainya dia menjawab, “aku kedinginan di atas, jadi turun lagi, kabut tebal, terus anginnya kencang!”. Sontak saja semuanya tertawa. Ya Tuhan, mendaki satu bukit saja rasanya setengah mati, jika aku yang ada di posisi Pak Kardus, lebih baik mencari solusi lain daripada harus turun lagi. Karena saat itu seluruh anggota sudah siap berangkat, maka Pak Kardus pun menyuruh kami untuk berjalan duluan. Tapi coba tebak siapa yang paling pertama sampai di atas? Yup, Pak Kardus lagi!

IMG_0390
IMG_0398

Aku masih berada di tanjakan terakhir ketika cahaya matahari mulai padam, tanjakan itu betul-betul menyiksa kesabaran, pucuknya sudah terlihat tapi entah kenapa aku seperti tidak sampai-sampai. Medan datar hampir tidak ada, jika ingin berhenti menarik nafas harus berpegangan pada pohon-pohon pinus agar tidak merosot lagi ke bawah. Saat itu aku bersama Bang Hasan, Bang Eddy, Pak Heri dan seorang lagi yang tidak aku kenal namanya sampai sekarang. Senter-senter mulai digunakan. Beberapa pendaki mulai saling bersahut-sahutan. Yang di atas memanggil-manggil rekannya yang masih di bawah, memastikan apa mereka sudah dekat atau belum. Karena tak kunjung mendapat balasan sahutan, beberapa diantara mereka ada juga yang turun lagi ke bawah.

Sekitar pukul 19.00 WITA, aku tiba di punggung Pelawangan, cuaca berkabut dan angin cukup kencang, benar-benar dingin menusuk tulang. Bang Eddy dan Bang Hasan tampak kelelahan, dan Heni yang tidak tahan dingin sudah menggigil. Aku menyeretnya ke segerombolan orang yang sedang membuat api, meminta izin untuk bergabung dan menghangatkan diri.

Seharusnya malam itu kami berkemah di Bukit Cemara, bukit terdekat menuju tanjakan punggungan Rinjani, tapi berhubung cuaca yang tidak bersahabat, akhirnya Bang Eddy memutuskan untuk mendirikan tenda di sekitar situ. Beberapa orang diutus untuk mencari area datar di bibir Pelawangan, yang keesokan paginya baru aku sadari ternyata kami menginap di bibir jurang.

Tenda sudah berdiri, Heni langsung menyerbu ke dalam dan bersembunyi ke dalam sleeping bagnya, begitupun Bang Hasan. Aku membantu Bang Eddy membuat makan malam, saat itu perutku benar-benar keroncongan, berharap bisa makan banyak, namun sayang ternyata pasokan air kami tinggal sedikit, tidak cukup untuk menanak nasi, hanya tiga bungkus mie untuk berempat. Yah, lumayan daripada aku mati kelaparan. Dan untungnya, aku membawa roti tawar!

Seharusnya malam itu juga kami muncak, tapi karena kondisi yang keletihan, dengan sangat tidak enak aku meminta pada Bang Eddy untuk memundurkan waktu muncak menjadi besok malam. Saat itu pun aku sebenarnya masih sedikit galau, harus sampai ke puncak atau tidak?

Selesai makan, semuanya menghilang ke tenda dan sleeping bag masing-masing, malam itu benar-benar luar biasa dinginnya, aku yakin suhunya pasti dibawah 10 derajat celcius. Tapi banyak pendaki yang tetap muncak malam itu walaupun cuaca sangat dingin dan berangin. Mungkin lelah yang mengantarku terlelap, sesekali aku terbangun karena kedinginan, lalu berusaha untuk terlelap lagi. Gemuruh angin menabrak dinding pegunungan persis seperti suara kendaraan di jalanan. Maka malam itu aku seperti tidur di pinggir jalan, sambil kedinginan. Oya, hari ini kakiku tidak kram lagi.

next : Day 4, Collect The Coint Of The Energy

When I Off To Rinjani (2)

Previous : Day 1, Confusion

Day 2, And The Journey Begin

Rencana sinting ini bukan karena terinspirasi dari sebuah film petualangan yang menceritakan lima orang amatiran yang berhasil mencapai puncak Semeru, bukan banget. Aku malah belum pernah nonton film tersebut, atau baca bukunya, belum banget. Yang kemudian jadi tidak tertarik karena banyaknya komentar miring soal dampak yang ditimbulkan film itu. O, I love nature, and I do disappointed with that. Okeh, jadi rencana ini muncul karena Heni dengan isengnya berkata akan merayakan 17 Agustus 2013 di Puncak Rinjani, aku yang memang sudah lama ingin mencicipi rasanya mendaki pun menanggapi hal tersebut dengan serius. Awalnya, aku juga sedikit sangsi rencana ini akan berjalan, begitu pun Heni, tapi sayang, kurangnya komunikasi di antara kami justru membuat rencana malah berjalan sampai hari kedua ini. Aneh, iya aneh, mungkin memang sudah takdirnya aku harus ke Rinjani.

Pagi itu aku bangun lebih pagi, lebih tepatnya beranjak dari tempat tidur, karena aku sukses tidak bisa terlelap semalam. Barang-barang yang akan aku bawa saat pendakian sudah aku sortir dan di-pak kembali ke dalam carrier, dugaan serupa aku layangkan pada Heni, yang ternyata dengan santainya baru mengumpulkan satu-satu barang yang hendak dibawa. Beruntung dia memiliki empat adik yang bisa diandalkan, seluruh adiknya dikerahkannya untuk membantu.

Dengan roman wajah khas seorang ibu yang khawatir, Mamaq Heni melepas kepergian kami di depan pintu gerbang rumahnya. Sekitar pukul 07.00 WITA kami berangkat menuju rumah Mboq Atun, tempat Bang Eddy dan Hasan menginap. Motor yang kami tumpangi melaju menembus dinginnya angin pagi Pulau Lombok yang masih sepi. Aku membayangkan kondisi di jam yang sama di jalanan Ibukota Jakarta, hmmm, baiklah, aku tidak jadi membayangkannya. Aku sedikit khawatir karena kami berangkat terlalu siang, jauh dari jam yang semula kami janjikan. Tapi setelah tiba di rumah Mboq Atun, kedua abang yang akan menjadi teman seperjalanan kami malah belum keluar dari mimpinya.

CAM00399

Proses packing berjalan laaaambaaaat dan saaaantaaai. Seluruh isi tas dibongkar, dicek lagi, kemudian dibagi-bagi bebannya sesuai kemampuan si pembawa tas. Daypack milik Heni diisi perlengkapan pribadinya, sleeping bag, dan tabung gas. Carrier 40 liter-ku berisi perlengkapan pribadi, sleeping bag, alat makan, sebagian logistik (kecuali beras), tabung gas, jas hujan dan air. Dan carrier 60 liter Bang Eddy dan Hasan berisi matras, tenda, perlengkapan pribadi, peralatan masak, logistik (termasuk beras), alat pancing, golok, jas hujan dan lain-lain. Bli Idi terus mondar-mandir mengecek perlengkapan kami, tidak ada yang terlewat dari perhatiannya, mulai dari minuman sachet sampai perlengkapan P3K. Ya Tuhan, diam-diam aku bersyukur karena jatuh ke pangkuan tim yang tepat. Sekitar pukul 10.00 WITA kami siap berangkat.

CAM00402

Kami berangkat dari rumah Mboq Atun yang berada di Narmada, Bli Idi mengantar kami sampai di tempat angkutan menuju Aikmel biasa mangkal, angkutannya berupa minibus yang nantinya akan berisi segala macam jenis penumpang dengan segala macam jenis bawaan, orang Lombok biasa menyebutnya engkol, tanpa J. Perjalanan dengan engkol menuju Aikmel memakan waktu sekitar 2 jam, maklum angkutan khas Indonesia, mangkalnya lama. Perjalanan kemudian akan dilanjutkan lagi dari Aikmel menuju Sembalun dengan menggunakan mobil bak terbuka yang baru berangkat setelah muatan penuh. Sambil menunggu penuh, kami pun memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Satu setengah jam kemudian, kami sudah duduk manis di dalam bak mobil yang membawa kami ke desa dimana pintu menuju Rinjani selalu terbuka untuk siapapun, Sembalun.

Ternyata bukan hanya kami yang berniat mendaki Rinjani, tapi juga dengan puluhan tim lain, termasuk satu tim cowok-cowok ganteng asal Bekasi yang kebetulan satu mobil dengan kami. Perjalanan dari Aikmel menuju Sembalun memakan waktu sekitar satu setengah jam, dengan kondisi jalan naik turun dan berliku-liku. Sesekali kami berpapasan dengan mobil yang mengangkut sekelompok pendaki yang berhasil men-dekil-kan diri, entah sudah berapa hari mereka di Rinjani. Aku membayangkan, lagi, apa yang ada di benak mereka saat ini? Tukang pijet kah? Restoran padang kah? Atau Gili Trawangan kah? Yang jelas beberapa hari lagi aku akan seperti itu, dengan beragam hasrat yang nanti akan memenuhi kepalaku. Aku tertawa kecil, lalu diikuti tawa yang lain karena melihatku tertawa sendiri.

Pos Pendakian Sembalun dipenuhi berbagai pendaki dari berbagai daerah, bahkan manca negara. Semuanya ingin mencicipi aroma Rinjani. Semangatku pun semakin menggebu-gebu, seolah ada jaring maya yang menangkap semangat orang-orang itu, lalu dituangkan di atas kepalaku. Di mata awamku, mereka semua terlihat menakjubkan, gagah, dan keren! Mulai dari yang terlihat masih kuliah sampai yang terlihat sudah berkeluarga, ada disitu. Dan semua jadi terlihat sama mudanya. Gunung memang penuh misteri.

CAM00412

Satu tim yang beranggotakan lima orang lelaki yang semuanya terlihat sudah ber-anak satu ikut menggabungkan diri dengan tim kami. Jadi total anggota menjadi sembilan orang, dengan Bang Eddy sebagai leadernya. Tepat pukul 16.00 WITA kami berangkat, dan perjalanan yang sesungguhnya pun dimulai.

Rencananya kami akan bermalam dan mendirikan tenda di Pos 1, dan menurut Bang Eddy, jarak dari tempat kami berangkat menuju Pos 1 kurang lebih dua setengah jam berjalan kaki. Matahari sudah ramah, hawa sejuk mendominasi, kami melangkah santai melewati ladang penduduk. Berat carrier-ku yang kurang lebih 10 kg (menurut Bli Idi) masih terasa ringan di jalanan yang masih landai. Satu setengah jam kemudian kami tiba di tempat peristirahatan pertama. Ladang sudah menghilang, berganti dengan padang rumput luas berbukit-bukit dibatasi ngarai dan pepohonan, di hadapan kami Gunung Rinjani gagah berdiri, seperti melambai dan mengucapkan selamat datang.

CAM00413

Dan kemudian, kedua kakiku kram, bergantian. Tindakan ringan pun diambil, sedikit counter pain, sepasang koyo cabe dan dekker milik Bang Hasan terpasang di kedua kakiku. Perjalanan dilanjutkan. Lalu sekali lagi aku merintih kesakitan, carrierku pun berpindah punggung, aku dan Heni bertukar bawaan. Saat itu juga kami berpapasan dengan seorang pendaki yang berjalan terpincang-pincang dibantu tongkat, rekannya bilang dia kram. Kepada Heni aku berbisik, semoga aku tidak sampai seperti itu.

Matahari mulai menghilang, menyisakan rona merah keemasan di balik punggungan Rinjani. Senter-senter mulai dikeluarkan, suara gelak tawa samar-samar dari jauh mulai terdengar, Pos 1 semakin dekat. Lalu tiba-tiba aku ambruk lagi, kedua kakiku kram bersamaan, sakitnya luar biasa sampai tidak sadar aku berteriak dan mengeluarkan airmata. Karena langit semakin gelap, Bang Eddy membagi tim menjadi dua, sebagian bergegas ke Pos 1 untuk mendirikan tenda, dan sebagian lagi menemaniku sampai kondisi kakiku mendingan. Beberapa pendaki lewat, semuanya memberikan semangat, beberapa menawarkan bantuan. Belum, ini belum saatnya kalah, perjalanan baru dimulai. Aku pun bangkit lagi, dibantu Bang Eddy dan teman-teman yang belum aku kenal namanya.

Selesai makan malam, Bang Eddy menawarkan jasanya untuk mengurut kakiku, tentu saja aku bersedia, karena mengingat hari ini hanya permulaan. Setelah mendapatkan treatment, kakiku menjadi lebih baik dari sebelumnya, sakitnya sedikit mereda. Kulihat Heni sudah menghilang ke dalam mimpi dan sleeping bagnya. Hari ini memang belum terlalu lelah, tapi tidak ada salahnya tidur lebih awal, karena besok perjalanan akan lebih panjang dan super melelahkan. Well, selamat malam Rinjani, sampai jumpa besok pagi.

next : Day 3, Full Day Full Power

When I Off To Rinjani (1)

Day 1, Confusion

Ini kali pertamanya aku bimbang dan sangat ingin membatalkan rencana perjalananku. Rencananya kali ini aku akan mendaki Gunung Rinjani, gunung api tertinggi kedua di Indonesia, konon katanya punya pemandangan yang spektakuler namun ber-trek paling terjal. Tapi, yang membuat hati kalut adalah karena ini pendakian pertamaku. Aku tidak punya gambaran sedikitpun tentang mendaki gunung, hanya sedikit bekal perlengkapan survival pribadi dan sejumput cerita indah-mistis-horor tentang pendakian yang aku kumpulkan dari berbagai sumber di internet.

Keluar rumah seperti keluar untuk terakhir kalinya, kali ini aku berpamitan dengan tulus kepada seluruh anggota keluarga, minta doa, melingkari angka 25 pada semua kalender di rumah dan berpesan supaya orang rumah segera mencariku jika pada tanggal tersebut aku tidak juga pulang. Seluruh ketakutan berkumpul di hati dan kepala, sampai membuat mual. Haruskah aku batalkan saja?

Carrier sudah ter-pak rapi di sudut teras rumah, aku pandangi lagi selembar tiket elektronik sebuah maskapai penerbangan yang nanti akan membawaku terbang langsung menuju pulau dimana Rinjani kokoh berdiri, sendirian, menantang siapapun yang berani datang. Kekasihku menganggukkan kepala, memberi isyarat untuk segera berangkat. Dengan sehelai keberanian bercampur nekad aku angkat carrier-ku dan melambaikan tangan pada keluargaku.

Ketakutan bukan hanya selesai sampai disitu, tiba di bandara kepalaku semakin pusing, tanganku semakin dingin, lututku semakin gemetar, aku takut setengah mati, takut jika nanti aku tidak kembali lagi, bahkan airmata sempat menitik dari sudut mataku. Tapi, akhirnya aku berangkat juga, dibawa oleh sikap nekadku yang tidak ketulungan. Dan sedikit harapan nakal muncul, semoga sahabatku tidak mendapat izin mendaki dari orangtuanya, supaya pendakianku pun ikut batal.

Pesawat mendekati Pulau Lombok, Rinjani berdiri dengan gaya di atas hamparan permadani awan, sepintas mengingatkanku pada komik favoritku, Onepiece. Aku tersenyum dan berkata dengan bangga, “Wait me, I’ll be there soon!”. Ketakutan lalu luntur tiba-tiba, berganti semangat yang luar biasa membara. Ya, besok aku akan ada di atas situ, di atas pucuk kepala Rinjani, aku tidak akan kalah sampai disini. Heni, sahabatku, menyambut dengan sumringahnya yang seperti biasa, membawa kabar bahwa izin Mamiq sudah digenggamnya, berarti, pendakian akan berjalan sesuai rencana.

Malam itu juga kami berkumpul di rumah sepupu Heni, Mboq Atun, yang akan mengawal kami menuju puncak Rinjani. Aku baru tahu ternyata Mboq Atun dan kakaknya, Bli Idi, adalah guide-guide Gunung Rinjani. Sedikit percikan ketenangan semakin membakitkan optimismeku, sampai sebuah kalimat panjang dari Mboq Atun membuatku dan Heni tertegun lalu saling berpandangan. Ternyata, Mboq Atun tidak bisa ikut di pendakian ini, dan yang menemani kami adalah dua orang sahabatnya, Eddy dan Hasan.

Dua orang lelaki datang mengendarai sepeda motor matic, seorang yang dibonceng memanggul carrier besar di punggungnya. Mereka adalah Eddy dan Hasan, yang kemudian kami sematkan panggilan ‘bang’ didepannya. Briefing singkat pun dilakukan oleh Mboq Atun dan Bli Idi, mulai dari pakaian yang harus dipakai, barang-barang yang akan dibawa, logistik yang harus disediakan, sampai tips-tips saat mendaki gunung. Maklum, aku dan Heni betul-betul amatiran, bahkan, aku baru tahu bahwa ternyata celana jeans tidak disarankan untuk mendaki, selain berat, jeans juga menyerap dingin. Karena merasa nanti akan sangat merepotkan Hasan dan Eddy, maka aku dan Heni pun menawarkan diri untuk membeli seluruh kebutuhan logistik kami untuk 5 hari 4 malam perjalanan.

Aku dan Heni pamit pulang dan berjanji esok akan datang sedini mungkin. Heni berdalih karena Mamaq masih berat hati, padahal sebenarnya dia belum menyiapkan apapun untuk dibawa ke Rinjani. Malam itu, aku berusaha keras memejamkan mata, mencoba untuk terlelap, namun adrenalin yang mulai mengalir ke sekujur tubuh malah sukses membuat mataku segar semalaman. Dalam hati aku terus berdoa, semoga Tuhan memberikan restu untuk perjalanan ekstrim yang akan kami mulai esok pagi.

next : Day 2, And The Journey Begin

Monkey D Luffy, For Me

Gila, udah setahun ngga ngisi blog ini, haha..

Setahun ini ngga terlalu memuaskan, terlalu datar, tapi walaupun begitu saya tetep bersyukur karena ada hal-hal yang berhasil saya capai. Alhamdulillah. Dapet pengalaman baru, dapet ilmu baru, dapet temen baru. Alhamdulillah ya Allah. Yang terpenting saya mulai menemukan prioritas hidup saya. Hare gene? Ya secara umur saya udah seperempat abad, jadi selama ini saya hidup kaya angin, bergerak sesuai tekanan udara aja, ga punya prioritas dan arah pasti. Dan, InsyaAllah hal ini akan berubah di tahun-tahun mendatang.

Semuanya berkat Monkey D LUffy, iya, Monkey D Luffy yang bajak laut topi jerami itu. Si tokoh utama komik terlaris di Jepang, One Piece. Mungkin sebagian orang menilai, Cuma anak-anak yang masih suka baca komik atau nonton kartun. Well, whatever. Saya sih baca itu emang sejak masih anak-anak, dan sialnya sampe umur saya segini tu komik belum selesai juga. Mau ditinggalin ya gimana donk? Kan udah terlanjur cinta. Hehe..

Well, ngomong-ngomong soal cinta ke komik itu, awalnya sih saya baca itu karena suka (dan lama-lama jadi maniak) sama semua tokoh dan jalan ceritanya. Bahkan, saya sampe berkhayal bisa masuk ke dunia itu dan jadi salah satu tokoh jagoan temennya si Luffy. Berlebihan? Kalo buat orang yang ga suka komik mungkin iya, tapi buat sesama One Piece lover ga tuh, saya yakin para One Piece Lover yang lain juga punya tokoh imajinasi mereka di dunia One Piece dan berharap Eichiiro Oda mau masukin beneran ke dalam ceritanya.. haha.. mimpi!

Hey! Apa hubungannya donk paragraf pertama di atas dengan omong kosong One Piece? Jadi, intinya sih saya bener-bener terinspirasi sama kegigihan Monkey D Luffy. Ah, sebenernya saya benci pake istilah ‘terinspirasi’ itu. Ya tapi pokoknya saya bener-bener terpacu oleh semangatnya Luffy, yang di ceritanya dia sih pengen jadi Raja Bajak Laut. Tapi saya bukan pengen jadi Raja Bajak Laut juga kok. Haha.. Jadi sesuatu pokoknya lah ya.

Dan setelah dipikir-pikir, One Piece udah ngasih bimbingan banyak buat saya. Tentang berperilaku, tentang perjuangan, tentang semangat, tentang persahabatan, tentang prioritas, tentang kebesaran hati. Jadi, kalo Luffy aja ga patah-patah semangatnya buat jadi Raja Bajak Laut, kenapa saya juga ga bisa. Bersama Luffy, saya juga akan (mulai) berjuang lebih keras demi mencapai mimpi-mimpi saya.

ImageImageImage