Libur dadakan ke Yogyakarta (part 2)

Hari kedua, langit Yogyakarta berawan, sesekali sinar matahari berusaha menyusup. Setelah sarapan di hotel sekitar jam 10 pagi kami berangkat menuju Kaliurang. Tujuan kami kali ini adalah Museum Ullen Sentalu. Baru setengah perjalanan gerimis turun, tapi tidak begitu lebat sehingga kami tidak memutuskan untuk berteduh atau memakai jas hujan, lanjut terooos. Makin ke atas, cuaca semakin dingin, namun gerimis ternyata tertinggal di bawah, syukurlah…

Sekitar jam 11 kami tiba di Ullen Sentalu. Membeli tiket seharga 40rb/orang dewasa, balita free. Di museum ini semua tamu akan didampingi pemandu. Saat itu kami segrup dengan sekelompok tamu yang kebetulan memang rombongan. Pemandu menjelaskan seluk beluk sejarah benda-benda pajangan museum. Lumayan menarik sih buatku, malah, ini kali pertamanya aku bisa nikmatin berwisata ke museum, hehe.. Karena jadi fokus, kalo biasanya mbuhhh.. 

Interior depan museum Ullen Sentalu

Oya, di museum ini juga kamu ngga boleh foto-foto sembarangan. Akan dipersilahkan berfoto hanya pada tempat-tempat yang disediakan. Well, peraturan ini membuat isi museum juga jadi semakin bernilai, karena kamu ngga akan bisa nemuin banyak fotonya di internet.

Spot swafoto museum Ullen Sentalu

Selesai tour di dalam museum, kami diarahkan keluar lewat pintu belakang, saat itu kabut sedang turun bertemu dengan arsitektur museum yang unik jadinya mistis-mistis gimana gitu. Seru! Setelah ini, aku jadi penasaran pengen main ke museum yang lain-lain.

Gerbang keluar museum Ullen Sentalu

Waktu menunjukkan pukul 12 siang, azan Zuhur berkumandang, kebetulan itu hari Jumat. Pak suami udah senewen pengen buru-buru nyari masjid untuk sholat Jumat. Setelah muter-muter ngga jelas beberapa kali, akhirnya kami nemu masjid kecil. Syukur belum ketinggalan sholatnya, masih ceramah khatibnya. Selesai sholat Jumat kok ya perut udah keroncongan aja. Akhirnya kita sepakat untuk langsung ke destinasi kuliner berikutnya aja, Tengkleng Gajah.

Motor meluncur turun di jalan Kaliurang, yang diaktifkan benar-benar hanya rem saja. Agak sedikit menyesal sih karena melewatkan museum Merapi begitu saja, tapi yasudahlah. Sekitar 10 menit dari tempat tujuan, gerimis semakin banyak, alih-alih memakai jas hujan, kami memilih untuk menepi menunggu gerimis mereda. Ternyata bener dugaanku, gerimis hanya sebentar. Lanjut deh ke Tengkleng Gajah, udah ngga sabar, lapar.

Tengkleng gajah ini sebuah resto yang cukup besar, namun mayoritas bangunannya berupa kayu dengan design alakadarnya. Tapi sajiannya, beeeeeh.. termantap deh. Nomer 1 kuliner terenak yang kami santap selama trip di jogjakarta. Kamu kalo lagi ke Kaliurang, wajib banget banget banget mampir ke sini. Pesan gule kambingnya ya. 

Gule kambing di Tengkleng Gajah
Tengkleng goreng di Tengkleng Gajah

Rata-rata harga per porsinya 39rb, semua item. Tapi sangat-sangat worthy. Kami memesan 1 gule, 1 tengkleng, 3 nasi, 4 kerupuk dan 2 minuman, seharga 124rb. Dan kami tak pernah menyesal membayar seharga itu, malah kelak akan datang lagi kesini, wajib!

Lumayan agak lama kami di sini, leyeh-leyeh dulu. Mungkin sekitar jam 3 sore kami mulai beranjak dari Tengkleng Gajah. Menuju Malioboro karena kebetulan ada janji dengan sobat lama yang selama ini bersekolah di Jepang dan kebetulan sedang pulang ke Indonesia untuk sebuah keperluan.

Malioboro sore itu cukup ramai. Berbagai macam seragam rombongan terlihat berseliweran. Kebanyakan anak remaja yang sedang field trip dari sekolahnya. Kami beruntung bisa mendapatkan parkir di basement Malioboro mall, so, kami ngga perlu jalan terlalu jauh untuk tiba di titik 0 kilometer Jogja.

Sambil jalan ke titik 0 kilometer, 2 buah batik titipan ibu mertua dan 1 stel kaos Jogja untuk odis berpindah masuk ke dalam ransel bawaan kami.

Lumayan lama kami duduk-duduk di perempatan jalan legendaris itu. Odis puas lari-larian, wara wiri di tengah orang banyak. Tentu saja mata kami tak boleh lengah, selalu awas mengawasi setiap langkahnya.

Rintik-rintik kecil hujan mulai turun, tapi yang ditunggu untuk ketemuan tak juga datang. Akhirnya setelah Magriban kami memutuskan untuk pulang ke hotel. Karena odis mulai rewel, juga karena gerimis semakin deras. Setelah me-reschedule janji dengan orang yang kutunggu kami pun caw dari Malioboro.

Tadinya, malam ini kami berencana untuk makan malam di bakmi Mbah Gito, tapi karena 2 alasan yang saya sebutkan sebelumnya, akhirnya kami relakan Mbah Gito. Kebetulan tiba-tiba lewat warung bakso yang besar dan ramai. Mampir deh, beli, bungkus. Sudahlah, makan di hotel saja. Makan santai kan lebih nikmat.

Sampai di hotel, pinjam alat makan di resepsionis. Baksonya endeuus ternyata, kelak jika mampir di Jogja lagi pasti akan beli lagi. Well, bakso habis. Ealah, kok ya belum kenyang. Pak suami pun rela celingak-celinguk di sekitar hotel dan nemu warung bakmi jowo. Lumayan juga rasanya. Mengobati kepengen bakmi, ya daripada ngga keturutan sama sekali kan. Malam itu odis makan ayam mekdi yang kami beli di Malioboro Mall tadi.

Bakso Balungan

Selesai makan, mandi, becanda-becanda sebentar, capek, bobo deh. Sampai ketemu besok lagi…

Baca juga ya :

liburan dadakan ke Yogyakarta (part 1)
itinerary dan budget trip Yogyakarta 3h2lm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: