Home is..

Apa arti sebuah rumah bagimu?

Sejak menikah pada tahun 1987, kedua orang tua saya tidak memiliki tempat tinggal tetap. Awalnya mereka menumpang di rumah nenek saya. Kemudian setelah memiliki dua anak, orang tua saya memutuskan untuk hidup secara mandiri dengan tinggal mengontrak. Maka pindah rumah secara berkala sudah menjadi bagian hidup saya dan adik-adik saya sejak kami dilahirkan. Tentu saja bukan sebuah hal yang cukup menyenangkan, setiap saat kami selalu was-was jika sewaktu-waktu sang pemilik rumah ingin mencabut kontraknya. Karena bukan sekali waktu saja kami terpaksa terusir dari rumah yang kami kontrak.

Semakin lama kontrakan kami semakin jauh dari lingkungan keluarga besar, mengikuti tugas kerja ayah yang saat itu kurang menentu. Mulai dari beda kampung, kemudian beda kota, lalu beda provinsi, dan hingga akhirnya menjadi beda pulau. Tentu saja sekolah kami pun ikut berpindah-pindah mengikuti kemana rumah kami pindah.

Berganti-ganti teman, berganti-ganti lingkungan, berganti-ganti tetangga, sudah menjadi bagian hidup kami. Mungkin di kemudian hari, hal inilah yang menjadi alasan hampir mayoritas kami sekeluarga lebih suka hidup menghindari kontak dengan tetangga. Kami terlalu malas ditanya hal yang sama berulang-ulang meskipun dengan tetangga yang berbeda.

Lalu setelah lulus SD, saya dan semua adik saya disekolahkan di sebuah pesantren yang lokasinya masih satu provinsi dengan nenek kami. Maka setiap libur semester pun akhirnya kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah nenek ketimbang bersama orang tua, karena saat itu tiket pesawat masih terlalu mahal untuk di beli, dan jumlah kami bersaudara terlalu banyak jika dikalikan dengan harga tiket pesawat. Solusinya adalah liburan bergilir dengan orang tua. Rata-rata setiap anak bisa liburan dengan orang tua 3-4x dalam 6 tahun masa pendidikan kami di pesantren. Dan karena itu, selain terbiasa ‘tidak memiliki rumah’, kami pun akhirnya ‘terpaksa’ terbiasa hidup jauh dari orang tua. 

Lalu, apakah itu menyenangkan?

Kelak di kemudian hari, beberapa hal yang kami jalani selama hidup membawa dampak yang luar biasa. Kami terbiasa menyelesaikan masalah sendiri tanpa harus bergantung pada orang tua. Kami terbiasa melakukan segala hal sendiri, memikirkan kebutuhan diri sendiri, dan karena terlalu sering berjauhan maka kami selalu menghargai setiap momen saat kami memiliki waktu dan uang untuk berkumpul komplit. Kami pun semakin memahami, saling melengkapi kebutuhan, dan saling mendukung satu sama lain meski jarak kami (hingga saat ini) berjauhan.

Kekurangannya, terutama untuk saya pribadi, saya sering merasa disorientasi terhadap posisi saya. Ketika saya merindukan sebuah rumah tetapi saya selalu merasa tak ada tempat untuk kembali. Karena saat itu, setiap saya pulang pada orang tua saya, saya selalu mendapati sebuah tempat yang baru lagi, begitu seterusnya. Jarang sekali saya kembali ke rumah kontrakan yang sama dalam dua periode liburan berturut-turut. Artinya orang tua saya berpindah-pindah kontrakan hampir setiap setahun. Dan saya paham sekali, itu melelahkan.

Sampai akhirnya pada tahun 2011 orang tua saya berhasil mendapatkan rumah melalui cicilan KPR bank. Dengan pembayaran uang muka yang dicicil juga. 

Akhirnya kami mempunyai sebuah tempat yang akan selalu sama setiap kami merindukan rumah untuk pulang. Kami bisa merindukan rumpun murbei yang ditanam ibu di depan pagar, merindukan kicau burung setiap pagi dan sore dari rumpun semak di sekeliling rumah, merindukan serangga-serangga berbentuk aneh yang tersesat masuk ke dalam rumah, merindukan mobil tangki air yg belum juga datang sementara stok air sudah tak ada sama sekali. Hal-hal yang tidak kalian temui sehari-hari, tapi kami rindukan, karena hal itu menjadi keseharian baru kami di rumah baru milik orang tua kami.

Maka, ketika beberapa orang menyebut rumah sebagai lambang kemakmuran. Maka saya menyebut rumah sebagai tempat untuk pulang, sebuah kesakralan, karena dari rumah lah semua hal bermula. Dan karena itulah, setelah menikah hal pertama yang sangat ingin saya capai adalah memiliki sebuah hunian. Agar kelak anak-anak saya selalu tahu ke mana mereka harus pulang.

Setelah 24 tahun pernikahannya, setelah 6 anak dilahirkan ibu, setelah puluhan kontrakan kami singgahi, setelah ribuan liter peluh dan airmata. Izinkanlah orang tua kami sejenak melepaskan kelelahannya setiap petang tanpa was-was si pemilik kontrakan akan datang. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: