When I Off To Rinjani (5)

Previous : Day 4, Collect The Coin Of The Energy

Day 5, Summit Attack

Suara-suara berisik langkah kaki membangunkanku, ku tengok jam di layar ponsel, sudah lewat tengah malam. Kebanyakan pendaki mulai berangkat pukul 12 malam atau bahkan lebih awal. Jika ingin menikmati sunrise di Puncak Rinjani memang harus memulai perjalanan seawal mungkin. Aku mencoba melelapkan diri lagi, tapi tidak berhasil. Jantungku berdebar-debar gelisah, rasanya seperti mau memulai pertandingan atau pertunjukan, aku demam panggung.

Sekelompok cowok dari Jakarta di tenda sebelah masih saja berisik, sepertinya terjadi masalah, tapi karena aku mendengarkan percakapannya mulai dari tengah-tengah jadi aku tidak mengerti akar permasalahannya. Ah, lagipula bukan masalahku juga! Sejam kemudian, seseorang memanggil-manggil Bang Eddy dan Bang Hasan dari luar tenda, cukup lama juga. Memang, abang yang dua itu bangkongnya luar biasa.

Pukul satu lewat, Bang Eddy mengetuk-ngetuk tenda kami, sepiring mie rebus dan teh panas muncul. Kemudian Bang Hasan muncul meminta daily pack untuk membawa perbekalan. Lima belas menit kemudian kami sudah berdiri di bawah jutaan bintang. Langit benar-benar cerah tanpa awan. Setelah sedikit peregangan otot, berdoa dalam hati, kami berangkat.

Kira-kira pukul dua kurang, perjalanan menuju puncak dimulai. Bang Eddy tidak ikut, hanya aku, Heni dan Bang Hasan. Perbekalan yang kami bawa antara lain 2,7 liter air minum, roti tawar, kurma, gula merah, kue kering sisa lebaran, P3K, dan beberapa perlengkapan keselamatan. Semuanya di-pak di daily pack warna pink milik Heni, dan dibawa oleh Bang Hasan. Aku jadi geli sendiri, kenapa juga warna tasnya harus pink?

Kesulitan pertama menghadang, tanjakan terjal menuju punggungan Rinjani berupa tanah bercampur pasir dan batu kerikil, naik satu langkah mundur setengah langkah, begitu seterusnya, tidak ada habisnya sampai 3 jam ke depan. Gambaran mininya, seperti mendaki mainan perosotan namun dengan tumpahan pasir kerikil. Tapi entah siapa yang menumpahkan kerikil sebanyak itu. Di tanjakan ini kami bertemu lagi dengan cowok-cowok ganteng dari Bekasi yang satu pick up dengan kami saat berangkat ke Sembalun tempo hari.

Sekitar pukul 05.30 kami sampai di punggungan Rinjani. Di depan, puluhan kerlap-kerlip lampu tampak berjajar di tanjakan puncak, mungkin mereka orang-orang yang berangkat dari jam 11 malam tadi. Trek di punggungan cenderung landai, kami hampir tidak berhenti sama sekali. Jika sedang berhenti kami akan mematikan senter dan mengagumi bintang-bintang. Di ufuk timur, garis cakrawala mulai terlihat, pendar cahaya putih mulai mengusir bintang dari langit malam.

Mendekati tanjakan ke puncak, trek mulai menanjak lagi dengan komposisi sama seperti yang sudah-sudah, tanah pasir dan kerikil. Di tengah jalan kami bertemu pendaki perempuan yang setengah pingsan, rekan-rekan se-timnya, yang semuanya laki-laki, berusaha keras mencegahnya terkena hipotermia. Beruntung kami membawa perlengkapan p3k, sebotol minyak kayu putih kami sumbangkan untuk mereka. Bang Hasan memberikan beberapa saran, setelah itu perjalanan kami lanjutkan. Di timur, cahaya putih mulai berpadu dengan cahaya kemerah-merahan. Tak lama kemudian kami menemukan sedikit medan datar untuk menunaikan sholat subuh.

Perlahan tapi pasti, kami berjalan mendekati tanjakan puncak. Langit semakin cerah, tapi matahari belum naik dari persembunyiannya, kami memutuskan untuk beristirahat mengisi tenaga. Pemandangan sekeliling mulai terlihat. Awan tipis bergerombol jauh dibawah kami, menaungi padang rumput yang kemarin kami lewati. Lalu sedikit-sedikit, bulatan kecil cahaya putih keemasan beranjak naik menembus garis cakrawala, utuh, tanpa sapuan awan. Seperti ada paduan suara yang mengiringi kemunculannya, langit berubah warna, birunya semakin jelas terlihat, kami termangu, lalu kemudian tersadar bahwa kami harus segera mengabadikan momen langka ini. Dari jauh samar-samar Indonesia Raya berkumandang, rupanya upacara bendera sudah dilaksanakan. Subhanallah, Tuhan memang seniman sejati.

CAM00480

IMG_0585

Setelah puas beristirahat, keraguan mulai menggelayutiku lagi, penyakit maag kambuhanku mulai terasa. Sedari awal Heni tidak punya target untuk sampai di puncak, sedangkan Bang Hasan hanya menemani kami. Aku bingung lagi, aku takut dan merasa tidak enak hati pada yang lain. Namun Bang Hasan meyakinkanku lagi, dan Heni pun mengutarakan dia tidak akan keberatan untuk meneruskan perjalanan. Maka perjalanan kami lanjutkan.

Langit semakin carah, matahari mulai mengusir dingin, dan kami mulai berpapasan dengan orang-orang yang turun dari puncak. Sekitar pukul 07.00, kami mulai mendaki tanjakan maut menuju puncak Rinjani. Lebarnya hanya sekitar tiga sampai lima meter dengan lereng curam dikanan kirinya. Komposisinya pasir dan batuan kerikil. Usaha dobel ekstra dibutuhkan disini. Naik satu langkah mundur setengah langkah, bahkan naik satu langkah bisa mundur dua langkah, setiap ada batuan besar disitulah kami bisa berhenti dan memulihkan energi.

IMG_0618

IMG_0621

Semakin ke atas, semangat dan energiku semakin terkikis, aku nyaris menyerah, tidak sanggup lagi membawa badan besarku melewati tanjakan setan yang licin ini. Setiap tiga langkah aku berhenti, Heni berada sekitar lima meter di atasku dan Bang Hasan menemani semua langkahku yang mulai kehilangan gairah dan energi. Aku mulai putus asa, suara orang-orang yang mengecilkanku mulai bergaung hebat di kepala, “emang bisa lu sampe puncak?” “naik tangga Bromo aja harus diseret, gimana Rinjani?” “lah, naik mobil aja mabok, belagak mau naik gunung!”. Semua suara itu bersitegang di dalam kepalaku, yang kemudian mencambukku untuk terus melangkah sampai ke puncak. Bang Hasan tak henti-hentinya memberikan semangat, dia juga membantu menarik tanganku. Perjalanan yang kami tempuh sudah demikian panjang, puncak pun sudah terlihat, aku tidak boleh menyerah sampai disini saja. Kukerahkan sisa tenagaku, tidak berpikir menyisakannya untuk pulang.

Sekitar pukul 09.00, akhirnya, kami tiba di Puncak Rinjani, rasanya senang bukan kepalang. Semua lelah itu terbayar lalu menghilang. Aku dan Heni jejingkrakan. Bendera Merah Putih berkibar gagah di puncak tertinggi di Pulau Lombok ini. Sejauh mata memandang hanya hamparan langit biru dan awan, tak ada yang lebih tinggi dari kami. Di barat, Gunung Agung berdiri meruncing sempurna, sedangkan di timur, Gunung Tambora yang tua duduk tegap tak kehilangan wibawanya. Dibawah kami terhampar Danau Segara Anak yang menjadi primadona keindahan Rinjani. Aku sangat tidak menyangka bisa berdiri di atas sini, bahkan tanpa pengalaman mendaki sebelum-sebelumnya.

IMG_0650

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar mengerjakan mimpiku, melakukannya sampai tuntas, dan menikmati hasil dari semangat yang tak terbayarkan itu. Aku berhasil sampai di puncakku yang tertinggi, pencapaian terbesar seumur hidupku, setelah selama ini menghabiskan waktu untuk beberapa hal yang kurang berarti. Berada di Puncak Rinjani ini sangat berarti banyak untukku, bersama seorang sahabatku yang paling sejati dan seseorang yang sangat tulus walaupun baru kukenal beberapa hari.

IMG_0658

Setelah baterai kamera habis, kami mencari tempat teduh untuk istirahat dan mengisi perut. Makanan-makanan dikeluarkan. Sekelompok cowok-cowok pendaki dari Bogor ikut bergabung. Perbincangan mengalir ringan. Kebahagian karena telah mencapai puncak membuat semua keluhanku sepanjang perjalanan menguap. Namun untuk mencegah penyakit lambungku muncul lagi, aku menelan begitu saja setangkup roti tawar dengan toping susu kental manis coklat dan beberapa butir kurma.

Sekitar pukul sepuluh kurang, kami turun dari puncak. Kami tinggalkan sekantung kue kering sisa lebaran untuk cowok-cowok pendaki dari Bogor tadi. Tak jauh berjalan, kami bertemu lelaki setengah baya yang menanyakan seberapa jauh lagi untuk sampai ke atas. Tampaknya dia hampir patah semangat seperti aku tadi, dan tiba-tiba tanpa kami minta dia mulai mencurahkan isi hatinya tentang penyesalannya karena telah meninggalkan istri dan anak pertamanya yang baru berusia 6 bulan di rumah. Kami menyemangatinya dan Heni memberinya sedikit pandangan positif, bahwa kelak dia bisa menceritakan pengalaman ini pada anaknya. Dia setuju dengan pendapat Heni, lalu pamit untuk meneruskan perjalanan puncaknya.

IMG_0586

Perjalanan turun tentu jauh-jauh-jauh lebih mudah daripada saat naik. Bang Hasan mengajari kami teknik menuruni turunan pasir kerikil ini, lalu dengan lancar Heni meluncur cepat jauh didepan. Dan aku, berulang kali aku jatuh kehilangan keseimbangan. Tekniknya sebenarnya sangat mudah dan efisien. Kita turun dengan tumit yang terlebih dulu menapak pasir, lalu biarkan meluncur dengan sendirinya, kemudian sambut dengan tumit  sebelahnya, dan begitu seterusnya. Hampir tidak dibutuhkan usaha untuk melakukan hal ini, cukup menyeimbangkan diri dan konsentrasi. Kami berhenti sesekali untuk melemaskan kaki.

Rinjani juga terkenal dengan samudra Edelweisnya. Samudra Edelweis tersebut terhampar menyelimuti lereng punggungan Rinjani yang tandus, hanya Edelweis saja, bahkan rumput liar pun tidak sanggup hidup disini.

IMG_0594

Matahari semakin menyengat, membuat haus tak berkesudahan. Persediaan air minum kami semakin menipis, hanya tersisa setengah botol kecil yang aku pegang dan setengah botol kecil yang Heni pegang. Makanan pun habis, kecuali gula merah yang kami gunakan sebagai doping alami. Di tengah perjalanan kami bertemu lagi dengan dua orang lelaki setengah baya yang mengutarakan kehabisan perbekalan, padahal perjalanan ke puncak masih lumayan jauh. Kami berikan minum secukupnya dan sepotong gula merah. Entah akhirnya mereka berdua berhasil sampai di puncak atau tidak.

Masih di tengah punggungan Rinjani, aku merasakan nyeri di sendi lutut kiriku. Awalnya tidak terlalu terasa, tapi lama kelamaan nyerinya semakin menjadi-jadi, terutama saat digunakan untuk turun, padahal sisa perjalanan kami semuanya adalah turunan. Heni sudah berjalan jauh mendahuluiku. Pucuk kepalanya bahkan sudah tidak terlihat. Sedangkan aku hanya bisa berjalan lambat sambil tertatih-tatih, Bang Hasan dengan sabarnya terus menemaniku.

Turunan dari Punggungan Rinjani menuju Pelawangan seperti neraka bagiku. Seandainya lututku tidak cedera saat itu, pasti aku sudah meluncur dengan gaya. Beberapa kali aku bertanya pada Bang Hasan, apa ini benar-benar jalanan yang kami lewati semalam? turunannya begitu curam, aku sampai tidak percaya tadi malam aku sudah mendaki jalanan pasir ini. Di tengah turunan, nyeri di lututku semakin tidak terkira, rasanya seperti ingin berteleportasi langsung ke rumah. Di saat itu juga aku merindukan eskalator, lift, bahkan sopir angkot dan tukang ojek. Dan Bang Hasan dengan sabarnya masih terus menyemangati dan memanduku.

Ada perasaan bersalah yang berkecamuk di hatiku, aku yang bersikukuh untuk sampai ke puncak, aku yang sepanjang perjalanan berjalan paling lambat padahal tidak membawa apa-apa, aku yang berkali-kali menghambat perjalanan karena cedera, aku yang mengacaukan rencana perjalanan Bang Eddy dan Bang Hasan karena  ambisiku untuk muncak, aku yang saat itu benar-benar merasa jadi tidak berguna, dan lutut ini, kenapa lutut ini jadi sungguh menyebalkan?! Aku seperti ingin berteriak marah-marah, tapi aku tidak tahu harus melampiaskan amarahku pada siapa, lagipula aku yang salah, jadi akhirnya aku hanya memarahi diriku sendiri di dalam hati. Seperti tanjakan puncak yang tidak ada habisnya, turunan ini pun seperti tidak ada habisnya, Bukit Cemara belum juga tampak.

Sekitar pukul 14.00 WITA, akhirnya aku dan Bang Hasan tiba di Bukit Cemara. Heni sudah terkapar di dalam tenda, Bang Eddy sepertinya sedang pergi ke sumber mata air. Sambil meluruskan kaki, aku mencurahkan perasaanku pada Heni, tentang semua ketidak-enak-hatian-ku pada kedua abang tersebut, tentang semua kemarahanku pada diriku sendiri, dan tanpa terasa aku sudah menangis di pangkuan Heni. Tapi akhirnya tangisan itu cukup membuatku lega, Heni sedikit menghiburku dan memberikan pandangan-pandangan positifnya yang seperti biasa, akal sehatku menerimanya dengan baik dan segera bangkit untuk ‘membetulkan’ lutut sialku ini. Aku tidak boleh menghambat perjalanan lagi!

Tidak lama kemudian Bang Eddy datang, makan siang dihidangkan, aku lupa siang itu kami makan apa, mungkin saking lapar dan kacaunya aku saat itu. Selesai makan kami langsung berkemas-kemas. Pukul 15.00 WITA, kami memulai perjalanan menuju Danau Segara Anak. Dan sekali lagi, Bang Hasan melarangku membawa apapun. Kali ini Heni yang membawa carrier-ku. Bang Eddy berjalan cepat di depan dan kemudian menghilang dari pandangan. Dia harus mencari tempat di sekitar danau, karena banyak pendaki yang turun ke danau hari ini.

Sebelumnya pernah aku gambarkan tentang letak geografis Danau Segara Anak yang berada di dasar jurang, dikelilingi pegunungan. Maka untuk menuju ke situ kami pun diharuskan untuk menuruni dinding tebing yang terjal. Treknya bukan tanah atau pasir atau batu kerikil, tetapi bebatuan gunung yang besar-besar dan terjal, membentuk seperti tangga-tangga raksasa yang sulit sekali digapai oleh kaki-kaki manusia kami yang pendek, dan, apalagi, cedera! Jika berpapasan dengan pendaki yang akan naik maka salah satu harus mengalah dan mempersilahkan salah satu untuk lewat duluan. Dan seperti yang sudah-sudah, turunan ini tak ada habisnya!

Setelah sekitar satu jam berjalan, kami berhenti untuk beristirahat. Candaan-candaan mulai dilemparkan, curahan hati mulai diutarakan, lalu topik pembicaraan mengarah ke ‘rumah’, dan tiba-tiba aku berkata “pengen pulang” sambil bersimbah air mata, tidak terbendung, banjir sebanjir-banjirnya. Rasa sakit, lelah, dan tidak enak hati berkecamuk di dalam badanku, logikaku kalah, lalu suara langkah-langkah kaki yang mendekatlah yang kemudian memaksaku menyudahi drama tidak penting ini. Perjalanan dilanjutkan, dengan gontai.

Sekitar pukul 18.00 WITA, fase menuruni tebing sukses kami tempuh dengan ritme yang sangat laaambaaat. Tapi perjalanan belum selesai, sedangkan langit mulai beranjak kelam. Aku fikir setelah turunan tebing maka trek akan melandai, ternyata, turunan yang lain telah menanti kami. Walaupun tidak terlalu terjal, tapi sangat cukup menyiksa lututku yang semakin ngilu. Tiba-tiba Bang Hasan merasa ragu dengan jalan yang sedang kita lalui, menurutnya, seharusnya kita sudah berada di jalan landai. Aku dan Heni diperintahkannya untuk menunggu ditempat, sedangkan dia berlari menyusuri trek yang masih terus menurun, tak lama kemudian Bang Hasan kembali sambil terengah-engah dan mengatakan bahwa kita salah jalan. Apa? Tentu saja aku dan Heni jadi panik.

Setelah cukup mengambil nafas, Bang Hasan berlari lagi ke atas, ke arah semula kami datang, cukup lama juga, namun kami masih bisa melihat kerlipan sinar headlampnya dari kejauhan. Saat itu aku mendengar suara lonceng kecil berbunyi, aku pernah mendengar suara itu sebelumnya, beberapa pendaki ada yang menaruh lonceng-lonceng kecil tersebut di carriernya, sehingga akan berbunyi setiap mereka bergerak. Bang Hasan kembali sambil terengah-engah. Suara krasak-krusuk mulai terdengar di sekeliling kami, bayangan-bayangan menyeramkan pun mulai menghantui kepalaku, aku menyenter-nyenter sekeliling dan secara tak terduga senterku memantulkan dua bintik cahaya yang kemudian aku sadari bintik tersebut  adalah mata. Entah itu mata apa, yang pasti si empunya mata sedang mengawasi kami. Aku mendadak panik luar biasa, teringat cerita-cerita horor gunung yang pernah aku baca, dengan sedikit memaksa aku meminta pada Bang Hasan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Karena merasa salah jalan akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke atas.

Suara lonceng yang sebelumnya aku dengar kini terdengar semakin jelas, kali ini Heni dan Bang Hasan pun ikut mendengarnya, akhirnya kami putuskan untuk menunggu pemilik lonceng itu melintas. Benar saja, tidak lama kemudian cahaya-cahaya senter mulai terlihat, sekelompok pendaki berjalan turun menuju ke arah kami. Kami bertanya trek menuju Danau Segara Anak pada mereka, menurut mereka kami sudah berada di jalur yang benar. Bang Hasan sedikit membantah, lalu para pendaki tersebut menunjuk seorang porter yang ternyata ada di antara mereka, sang porter meyakinkan sekali lagi, akhirnya Bang Hasan percaya. Kami sedikit bernafas lega, dan kembali menyusuri trek yang baru saja kami lewati.

Sekitar lima belas menit kemudian, sebuah suara memanggil-manggil Bang Hasan dari kejauhan. Kami berhenti, Bang Hasan menyenter-nyenter ke depan, seperti menemukan payung di tengah hujan, Bang Eddy muncul! Aku dan Heni kompak memanggil namanya. Terimakasih ya Tuhan. Bang Eddy (kebetulan) datang seperti malaikat di saat kami merasa tersesat. Kami beristirahat sejenak, Bang Hasan nampak sekali kelelahan, karena panik, mondar-mandir mencari jalan dan beban carrier yang dipikulnya, belum lagi harus beberapa kali membantuku yang berat ini menuruni turunan-turunan terjal. Terimakasih oh Bang Hasan.

Sekitar pukul 18.00 WITA tadi sebenarnya Bang Eddy sudah sampai di tepi danau, kemudian mendirikan tenda dan lain-lain. Ketika langit semakin gelap dan kami tidak juga muncul, Bang Eddy merasa khawatir lalu berjalan balik menjemput kami, dan yang menakjubkan, tanpa senter! Setelah diusut, dia berjalan gelap-gelapan bukan karena sudah biasa atau sekedar gegayaan, tapi karena memang senternya nyaris tidak punya cahaya.

Bang Hasan dan Heni kemudian berjalan duluan, sedangkan aku berjalan perlahan belakangan ditemani Bang Eddy. Carrierku berpindah punggung lagi, kali ini dibawa oleh Bang Eddy. Oya, hal yang paling aku ingat ketika akan melanjutkan perjalanan adalah ucapan manis Bang Eddy yang kemudian membuat aku dan Heni (kompak) merasa dongkol, kira-kira begini bunyinya, “Heni jalan duluan sama Hasan ya, biar Fatma aku yang temanin, udah deket kok, sebentar lagi sampai!”. Kenyataannya?! Grrrrr.. Entah berapa kali kami harus merambat menaiki bukit-bukit yang treknya tidak jelas dan butuh sekitar lebih dari satu jam jika berjalan normal untuk mengaktualisasikan kalimat ‘sebentar lagi sampai’ itu. Huh! Okelah, setelah itu aku dan Heni kompak tidak mau tergiur oleh kata ‘dekat’ yang abang-abang itu ucapkan!

Bang Eddy itu sesungguhnya sangat sangat sangat pendiam, jadi, sepanjang jalan hanya beberapa kali saja kami berbincang-bincang, itupun setelah aku pancing dengan beberapa pertanyaan.

Entah berapa jam kemudian (akhirnya) aku sampai di camp area di tepi Danau Segara Anak yang berkilauan memantulkan sinar bulan, setelah itu yang aku inginkan hanya sikat gigi lalu tidur, bukan makan atau yang lainnya. Setelah dipikir-pikir, sangat wajar jika kami merasa kelelahan, mengingat perjalanan hari ini dimulai pukul 2 dini hari dan selesai sekitar pukul 9 malam, 19 jam! Dan semuanya ditempuh dengan berjalan kaki, bukan naik kereta api atau naik angkot atau naik ojek apalagi naik pesawat.

Sebelum tidur Heni menawarkan diri untuk memijit-mijit kakiku yang cedera, yippi! Mana bisa kutolak? Selamat malam Rinjani, sampai jumpa besok lagi.

next : Day 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s