When I Off To Rinjani (4)

Previous : Day 3, Full Day Full Power

Day 4, Collect the Coin of the Energy

Aku terbangun kaget oleh guncangan di tenda, ternyata Pak Kardus yang membangunkan kami, dia mengajak pergi ke sumber mata air. Heni dengan penuh semangat melompat keluar dari sleeping bag, mengosongkan daily packnya, membangunkan Bang Eddy dan Bang Hasan, lalu mengumpulkan botol-botol kosong yang ada di tenda mereka. Heni dan Pak Kardus berangkat menuju sumber mata air bersama dua orang lainnya, Pak Heri dan teman yang membawa carrierku.

Setelah kepergian yang empat orang itu belum ada seorang pun yang kedengaran keluar dari tenda. Matahari yang mulai muncul membuat dingin lenyap sedikit demi sedikit. Aku merangkak keluar tenda, dan langsung takjub dengan pemandangan yang tersuguh di hadapanku. Kita memang menginap di bibir jurang, tapi sesuatu yang ada di dasar jurang itu membuat jantungku berdebar-debar. Dikelilingi pegunungan hijau disekitarnya, beratap langit biru, disitulah Danau Segara Anak terhampar, biru, tenang, berkharisma. Mataku berkaca-kaca, Subhanallah, sepertinya Tuhan tak sengaja menjatuhkan kepingan surgaNya.

CAM00446
CAM00447

Aroma bawang yang digoreng kemudian menghalau lamunan ketakjubanku akan Segara Anak, aku celingukan mencari sumbernya, ternyata tak jauh dari kami ada kemah keluarga bule, seorang porter sedang sibuk menyiapkan sarapan, sepertinya si porter memasak nasi goreng untuk mereka. Aku hanya bisa menelan ludah dan menyumpah-nyumpah dalam hati.

Tak lama kemudian Heni dan rombongan tiba membawa berliter-liter harapan. Kepala-kepala mulai muncul dari dalam tenda, kompor-kompor mulai menyala, aroma kopi dan teh bersahut-sahutan di udara. Matahari bersinar cerah, mengurai penat, membangkitkan gairah. Suara tawa bergelak-gelak menemani pagiku yang indah di atas Rinjani. Minum teh atau kopi di pagi hari mungkin sudah biasa, tapi minum teh atau kopi di pagi hari di atas Gunung Rinjani sambil menatap Danau Segara Anak, itu baru luar biasa! Aroma bawang yang digoreng tercium sekali lagi, ternyata Bang Eddy memasak nasi goreng! Yippppiiiiii!

CAM00464
CAM00454
CAM00449

Usai sarapan, Bang Eddy bertanya meyakinkanku sekali lagi tentang keinginanku sampai ke puncak. Awalnya aku masih tampak ragu, karena sepertinya hanya aku yang ingin ke puncak. Tapi setelah diyakinkan akhirnya keputusan muncak pun bulat. Karena berbeda rencana, teman-teman yang lima orang memisahkan diri, mereka meneruskan perjalanan langsung ke Danau Segara Anak, sedangkan kami harus menunggu semalam lagi di Pelawangan. Rasanya sedih berpisah dengan mereka, walaupun kami hanya berteman dua hari dan walaupun aku tidak mengenal semua nama mereka. Aku berharap salah satu dari mereka ada yang membaca tulisan ini, lalu kita bisa bertemu lagi.

Kami yang jadi berempat lagi kemudian berpindah tempat kemah ke Bukit Cemara supaya tidak terlalu jauh saat muncak. Sepanjang hari itu aku dan Heni hanya leyeh-leyeh sambil ngerumpi di tenda. Menjelang sore, Bang Eddy berangkat ke sumber mata air membawa semua botol kosong. Sumber mata air di Pelawangan berada di dasar jurang, namun menurutku memiliki air yang paling segar.

Tidak terasa matahari semakin turun, kabutpun ikut turun menutupi pandangan kami dari Danau Segara Anak. Satu per satu tenda-tenda berdiri, banyak sekali pendaki yang datang sore itu, Bukit Cemara sampai penuh berjejal, maklum besok tanggal 17 Agustus, sama seperti gunung-gunung lain, upacara bendera akan berlangsung pula di puncak Rinjani.

IMG_0525
IMG_0540

Malam itu Bang Eddy memasak capcay dan memberi kami nasi dengan porsi ekstra, alasannya, karena tengah malam nanti kami akan muncak dan perlu energi ekstra juga. Cuaca tampak sangat bersahabat, langit cerah secerah-cerahnya, angin tidak berhembus sekencang kemarin, aku berharap tetap seperti ini sampai tengah malam nanti.

IMG_0543
CAM00475

Di depan temaramnya api unggun, kami duduk-duduk berbagi cerita. Bang Eddy yang pendiam pun sempat membuatku tertawa sampai mulas. Kemudian Heni mulai dengan ritual bersin-bersin alerginya lalu pamit untuk masuk tenda dan tidur lebih awal. Tak lama setelah itu aku menyusul Heni.

Sepasang bule kedengaran baru datang, tapi porter yang membawa barang-barangnya belum muncul, seorang guide menjelaskan hal tersebut dengan bahasa inggris yang patah-patah, si bule mengerti lalu bertanya kapan porter tersebut sampai, tapi nampaknya si guide tidak mengerti dan berulang kali mengatakan hal yang sama. Aku tersenyum geli, ingin rasanya keluar tenda lalu membantu menengahi mereka, tapi bukan urusanku.

Di tenda tim sebelah, sekelompok cowok yang kedengarannya berasal dari Jakarta sedang merencanakan keberangkatan mereka menuju puncak. Setelah sepakat, seorang yang terdengar lebih vokal menyuruh seluruh rekannya untuk segera tidur dan beristirahat. Tapi mereka tak kunjung tidur, obrolan terus berlanjut, sampai entah jam berapa. Di tenda tim yang lain, alunan lagu Iwan Fals dan Sheila On 7 mengalun lembut.

Sejenak kemudian, aku terlelap.

Next : Day 5, Summit Attack

Advertisements

One response to “When I Off To Rinjani (4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s