When I Off To Rinjani (3)

Previous : Day 2, And The Journey Begin

Day 3, Full Day Full Power

Lamat-lamat kudengar suara azan berkumandang, dengan mata masih tertutup aku mengingat-ingat dimana aku saat ini. Tempat tidur yang empuk perlahan menghilang dari bawah punggungku, kehangatan selimut seperti lenyap tanpa jejak, aku buka mataku, dan tersadar, aku ada di kaki Rinjani. Tapi suara azan terdengar sangat dekat, dan itu bukan mimpi. Rupanya beberapa tim lain juga menginap di Pos 1, dan salah seorang di antara merekalah yang mengumandangkan azan. Lalu aku terlelap lagi.

Suara Heni yang kemudian memecah mimpiku, aku terbangun dan kulihat kegelapan sudah hilang, matahari sudah muncul. Aku keluar dari tenda, teman-teman baruku yang lima orang tersenyum memberikan semangat dan menanyakan keadaan kakiku. Seorang dari mereka menyarankan aku untuk memakai sandal gunung ketimbang sepatu, beruntung aku membawa keduanya. Seorang lagi mengajakku melemaskan otot-otot kaki agar nanti tidak kram lagi. Belakangan baru aku tahu, yang memberiku saran dipanggil Pak Kardus oleh teman-temannya dan yang mengajakku stretching bernama Heri.

CAM00416

Udara dingin perlahan menguap, kulepas jaketku dan menikmati sentuhan lembut matahari. Kulihat Bang Eddy mulai memasak sarapan pagi. Tidak mewah, tapi dengan lahap sarapan tersebut kami habiskan. Usai sarapan, kami mulai berkemas-kemas lagi. Membongkar tenda, membersihkan alat makan, dan mengepaknya lagi ke dalam carrier masing-masing.

Perjalanan kami mulai lagi, target hari itu kami harus sampai di Pelawangan Sembalun, itu artinya hari itu juga kami akan berhadapan dengan bukit-bukit penyesalan yang konon banyak membuat pendaki menyesal karena telah datang ke Rinjani. Aku simpan keseraman itu untuk nanti, saat itu aku hanya berharap kakiku tidak kram lagi. Aku bertanya berapa jam perjalanan yang akan kita tempuh pada Bang Eddy, tapi dengan santai dia menjawab, “se-sampainya”.

Aku bertukar bawaan dengan salah seorang cowok yang lima orang itu, yang parahnya sampai sekarang tidak aku kenal namanya. Dia membawa carrierku, dan aku seharusnya membawa daily pack miliknya, tetapi Bang Hasan bersikukuh tidak mengizinkanku membawa apapun di punggung sampai kakiku terbukti tidak kenapa-kenapa lagi. Walaupun sempat sedikit adu mulut, akhirnya aku menyerah dan hanya membawa tas pinggang berisi handphone dan botol air minum, sedangkan Bang Hasan membawa carrier miliknya dan daily pack yang seharusnya aku bawa.

Perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 didomimasi padang rumput berbukit-bukit, namun masih landai dan belum menemui tanjakan-tanjakan yang cukup berarti. Cuaca semakin menghangat, namun angin yang berhembus tetap saja membuat menggigil. Aku yang tidak terlalu tahan panas lebih memilih melepas jaket. Beberapa kali kami melintasi ngarai-ngarai yang indah merekah membelah bukit savana, jembatan-jembatan beton sudah dibangun untuk memudahkan pendaki melintasi ngarai. Jembatannya kokoh dan cukup lebar, beberapa bahkan digunakan sebagai camp area. Aku jadi kepikiran, bagaimana cara pengerjaannya? Siapa yang membawa bahan-bahan bangunannya? Karena aku pribadi tidak melihat adanya jalur kendaraan sampai disitu, tapi entahlah, mungkin ada namun aku tidak tahu.

CAM00422

Dari Pos 2 ke Pos 3 medan mulai menanjak namun belum terlalu terjal, bukit-bukit savana masih menjadi teman di perjalanan kami. Matahari semakin menyengat, namun angin yang sesekali berhembus tetap membuat menggigil, apalagi ditambah kaosku yang basah karena keringat. Pakai jaket terlalu panas, tidak pakai jaket malah kedinginan, serba salah.

CAM00426

Ternyata mendaki gunung tidak seperti yang aku pikirkan selama ini, aku pikir kami harus berjalan terus-terusan sampai ngos-ngosan seperti lomba lari maraton. Kenyataannya, jika kehabisan nafas maka kami akan berhenti barang satu dua menit. Lama kelamaan rombongan terpisah-pisah sesuai dengan kecepatan jalan masing-masing. Setiap kelompok beranggotakan dua sampai tiga orang. Dan tanpa aku sadari, ternyata aku berada di kelompok ter-belakang, sedangkan Heni berada di kelompok terdepan. Setiap ada rest area, kelompok terdepan akan berhenti dan menunggu sampai semua anggota berkumpul kembali, jeda waktu setiap istirahat mulai setengah sampai dua jam lebih. Yang paling depan jelas yang paling lama beristirahat. Setelah semua anggota cukup istirahat maka perjalanan akan dilanjutkan kembali. Begitu seterusnya.

CAM00427

Kami tiba di Pos 3 tepat tengah hari. Pos 3 berdiri di bekas aliran lava, seperti sungai yang mengering. Letaknya yang terlindung dari matahari membuatnya menjadi tempat favorit para pendaki untuk beristirahat. Sialnya saat itu tempat tersebut dipenuhi bule, banyak diantara mereka yang bertelanjang dada dan tidur di atas batu-batuan besar yang berserakan di sekitar Pos 3. Tadinya, kami berencana untuk beristirahat makan siang di sini. Tapi karena merasa risih, jadi perjalanan pun diteruskan dan masuk ke jalur ekstrim yang terkenal, Bukit-Bukit Penyesalan.

Mulai dari Pos 3, jalanan mulai menanjak terjal. Karena cuaca kering, jalanan tanah menjadi semakin ngebul, debu-debu berterbangan memenuhi udara, apalagi jika kita berpapasan dengan pendaki yang turun sambil berlari. Di tanjakan-tanjakan curam ini aku semakin sering berhenti untuk menarik nafas. Sesekali juga berhenti untuk memberi jalan porter atau pendaki yang turun. Jika ada tempat datar dan berpohon sedikit rindang, maka disitu akan banyak pendaki yang beristirahat, mereka menyebutnya ‘bonus’, karena tanjakan-tanjakan ini benar-benar seperti tak ada habisnya, seperti hendak menguji kekuatan dan kesabaran. Siang itu, akhirnya tidak ada makan siang, kami hanya makan coklat dan makanan ringan lain sebagai pengganjal perut.

Di tengah jalan, aku bertemu seorang nenek pendaki bule yang sedang turun sambil terus menangis, dibelakangnya seorang guide muda dengan setia menemani si nenek, entah apa yang telah terjadi. Kemudian di tanjakan yang lain aku bertemu lagi dengan seorang nenek pendaki, kali ini asli orang Indonesia, beliau mendaki bersama cucu-cucunya yang sudah dewasa. Saat berpapasan, beliau tersenyum dan menepuk pundakku sambil berkata, “harus sampai puncak, ya!”. Aku hanya membalas dengan senyum lebar. Jujur saja, sampai pada saat itu aku belum menargetkan harus sampai di puncak.

Sekitar pukul 17.00 WITA, aku sampai di area datar menjelang dua tanjakan terakhir. Seperti yang sudah-sudah, aku tiba bersama group yang paling terakhir. Dan yang mengejutkanku, ternyata Heni dan teman-teman yang lain sudah menunggu hampir dua jam disitu, padahal saat masih di perjalanan tadi aku masih bisa melihat Heni yang sudah ada di bukit yang berbeda.

IMG_0406

Aku lihat Pelawangan Sembalun tertutup kabut. Matahari juga mulai berpetak umpet dengan awan-awan, hawa dingin mulai mendominasi. Cahaya matahari yang semakin menjingga meninggalkan efek dramatis ke punggungan Rinjani. Kami pun tidak ketinggalan ikut mengabadikan momen-momen tersebut. Seorang teman menanyakan Pak Kardus yang tidak nampak diantara kami, seorang yang lain menjawab bahwa Pak Kardus mungkin sudah sampai di Pelawangan.

Perjalanan akan dilanjutkan kembali ketika tiba-tiba Pak Kardus muncul dari atas sambil menggigil bersidekap, kami semua bertanya-tanya, dan dengan santainya dia menjawab, “aku kedinginan di atas, jadi turun lagi, kabut tebal, terus anginnya kencang!”. Sontak saja semuanya tertawa. Ya Tuhan, mendaki satu bukit saja rasanya setengah mati, jika aku yang ada di posisi Pak Kardus, lebih baik mencari solusi lain daripada harus turun lagi. Karena saat itu seluruh anggota sudah siap berangkat, maka Pak Kardus pun menyuruh kami untuk berjalan duluan. Tapi coba tebak siapa yang paling pertama sampai di atas? Yup, Pak Kardus lagi!

IMG_0390
IMG_0398

Aku masih berada di tanjakan terakhir ketika cahaya matahari mulai padam, tanjakan itu betul-betul menyiksa kesabaran, pucuknya sudah terlihat tapi entah kenapa aku seperti tidak sampai-sampai. Medan datar hampir tidak ada, jika ingin berhenti menarik nafas harus berpegangan pada pohon-pohon pinus agar tidak merosot lagi ke bawah. Saat itu aku bersama Bang Hasan, Bang Eddy, Pak Heri dan seorang lagi yang tidak aku kenal namanya sampai sekarang. Senter-senter mulai digunakan. Beberapa pendaki mulai saling bersahut-sahutan. Yang di atas memanggil-manggil rekannya yang masih di bawah, memastikan apa mereka sudah dekat atau belum. Karena tak kunjung mendapat balasan sahutan, beberapa diantara mereka ada juga yang turun lagi ke bawah.

Sekitar pukul 19.00 WITA, aku tiba di punggung Pelawangan, cuaca berkabut dan angin cukup kencang, benar-benar dingin menusuk tulang. Bang Eddy dan Bang Hasan tampak kelelahan, dan Heni yang tidak tahan dingin sudah menggigil. Aku menyeretnya ke segerombolan orang yang sedang membuat api, meminta izin untuk bergabung dan menghangatkan diri.

Seharusnya malam itu kami berkemah di Bukit Cemara, bukit terdekat menuju tanjakan punggungan Rinjani, tapi berhubung cuaca yang tidak bersahabat, akhirnya Bang Eddy memutuskan untuk mendirikan tenda di sekitar situ. Beberapa orang diutus untuk mencari area datar di bibir Pelawangan, yang keesokan paginya baru aku sadari ternyata kami menginap di bibir jurang.

Tenda sudah berdiri, Heni langsung menyerbu ke dalam dan bersembunyi ke dalam sleeping bagnya, begitupun Bang Hasan. Aku membantu Bang Eddy membuat makan malam, saat itu perutku benar-benar keroncongan, berharap bisa makan banyak, namun sayang ternyata pasokan air kami tinggal sedikit, tidak cukup untuk menanak nasi, hanya tiga bungkus mie untuk berempat. Yah, lumayan daripada aku mati kelaparan. Dan untungnya, aku membawa roti tawar!

Seharusnya malam itu juga kami muncak, tapi karena kondisi yang keletihan, dengan sangat tidak enak aku meminta pada Bang Eddy untuk memundurkan waktu muncak menjadi besok malam. Saat itu pun aku sebenarnya masih sedikit galau, harus sampai ke puncak atau tidak?

Selesai makan, semuanya menghilang ke tenda dan sleeping bag masing-masing, malam itu benar-benar luar biasa dinginnya, aku yakin suhunya pasti dibawah 10 derajat celcius. Tapi banyak pendaki yang tetap muncak malam itu walaupun cuaca sangat dingin dan berangin. Mungkin lelah yang mengantarku terlelap, sesekali aku terbangun karena kedinginan, lalu berusaha untuk terlelap lagi. Gemuruh angin menabrak dinding pegunungan persis seperti suara kendaraan di jalanan. Maka malam itu aku seperti tidur di pinggir jalan, sambil kedinginan. Oya, hari ini kakiku tidak kram lagi.

next : Day 4, Collect The Coint Of The Energy

Advertisements

One response to “When I Off To Rinjani (3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s