When I Off To Rinjani (2)

Previous : Day 1, Confusion

Day 2, And The Journey Begin

Rencana sinting ini bukan karena terinspirasi dari sebuah film petualangan yang menceritakan lima orang amatiran yang berhasil mencapai puncak Semeru, bukan banget. Aku malah belum pernah nonton film tersebut, atau baca bukunya, belum banget. Yang kemudian jadi tidak tertarik karena banyaknya komentar miring soal dampak yang ditimbulkan film itu. O, I love nature, and I do disappointed with that. Okeh, jadi rencana ini muncul karena Heni dengan isengnya berkata akan merayakan 17 Agustus 2013 di Puncak Rinjani, aku yang memang sudah lama ingin mencicipi rasanya mendaki pun menanggapi hal tersebut dengan serius. Awalnya, aku juga sedikit sangsi rencana ini akan berjalan, begitu pun Heni, tapi sayang, kurangnya komunikasi di antara kami justru membuat rencana malah berjalan sampai hari kedua ini. Aneh, iya aneh, mungkin memang sudah takdirnya aku harus ke Rinjani.

Pagi itu aku bangun lebih pagi, lebih tepatnya beranjak dari tempat tidur, karena aku sukses tidak bisa terlelap semalam. Barang-barang yang akan aku bawa saat pendakian sudah aku sortir dan di-pak kembali ke dalam carrier, dugaan serupa aku layangkan pada Heni, yang ternyata dengan santainya baru mengumpulkan satu-satu barang yang hendak dibawa. Beruntung dia memiliki empat adik yang bisa diandalkan, seluruh adiknya dikerahkannya untuk membantu.

Dengan roman wajah khas seorang ibu yang khawatir, Mamaq Heni melepas kepergian kami di depan pintu gerbang rumahnya. Sekitar pukul 07.00 WITA kami berangkat menuju rumah Mboq Atun, tempat Bang Eddy dan Hasan menginap. Motor yang kami tumpangi melaju menembus dinginnya angin pagi Pulau Lombok yang masih sepi. Aku membayangkan kondisi di jam yang sama di jalanan Ibukota Jakarta, hmmm, baiklah, aku tidak jadi membayangkannya. Aku sedikit khawatir karena kami berangkat terlalu siang, jauh dari jam yang semula kami janjikan. Tapi setelah tiba di rumah Mboq Atun, kedua abang yang akan menjadi teman seperjalanan kami malah belum keluar dari mimpinya.

CAM00399

Proses packing berjalan laaaambaaaat dan saaaantaaai. Seluruh isi tas dibongkar, dicek lagi, kemudian dibagi-bagi bebannya sesuai kemampuan si pembawa tas. Daypack milik Heni diisi perlengkapan pribadinya, sleeping bag, dan tabung gas. Carrier 40 liter-ku berisi perlengkapan pribadi, sleeping bag, alat makan, sebagian logistik (kecuali beras), tabung gas, jas hujan dan air. Dan carrier 60 liter Bang Eddy dan Hasan berisi matras, tenda, perlengkapan pribadi, peralatan masak, logistik (termasuk beras), alat pancing, golok, jas hujan dan lain-lain. Bli Idi terus mondar-mandir mengecek perlengkapan kami, tidak ada yang terlewat dari perhatiannya, mulai dari minuman sachet sampai perlengkapan P3K. Ya Tuhan, diam-diam aku bersyukur karena jatuh ke pangkuan tim yang tepat. Sekitar pukul 10.00 WITA kami siap berangkat.

CAM00402

Kami berangkat dari rumah Mboq Atun yang berada di Narmada, Bli Idi mengantar kami sampai di tempat angkutan menuju Aikmel biasa mangkal, angkutannya berupa minibus yang nantinya akan berisi segala macam jenis penumpang dengan segala macam jenis bawaan, orang Lombok biasa menyebutnya engkol, tanpa J. Perjalanan dengan engkol menuju Aikmel memakan waktu sekitar 2 jam, maklum angkutan khas Indonesia, mangkalnya lama. Perjalanan kemudian akan dilanjutkan lagi dari Aikmel menuju Sembalun dengan menggunakan mobil bak terbuka yang baru berangkat setelah muatan penuh. Sambil menunggu penuh, kami pun memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Satu setengah jam kemudian, kami sudah duduk manis di dalam bak mobil yang membawa kami ke desa dimana pintu menuju Rinjani selalu terbuka untuk siapapun, Sembalun.

Ternyata bukan hanya kami yang berniat mendaki Rinjani, tapi juga dengan puluhan tim lain, termasuk satu tim cowok-cowok ganteng asal Bekasi yang kebetulan satu mobil dengan kami. Perjalanan dari Aikmel menuju Sembalun memakan waktu sekitar satu setengah jam, dengan kondisi jalan naik turun dan berliku-liku. Sesekali kami berpapasan dengan mobil yang mengangkut sekelompok pendaki yang berhasil men-dekil-kan diri, entah sudah berapa hari mereka di Rinjani. Aku membayangkan, lagi, apa yang ada di benak mereka saat ini? Tukang pijet kah? Restoran padang kah? Atau Gili Trawangan kah? Yang jelas beberapa hari lagi aku akan seperti itu, dengan beragam hasrat yang nanti akan memenuhi kepalaku. Aku tertawa kecil, lalu diikuti tawa yang lain karena melihatku tertawa sendiri.

Pos Pendakian Sembalun dipenuhi berbagai pendaki dari berbagai daerah, bahkan manca negara. Semuanya ingin mencicipi aroma Rinjani. Semangatku pun semakin menggebu-gebu, seolah ada jaring maya yang menangkap semangat orang-orang itu, lalu dituangkan di atas kepalaku. Di mata awamku, mereka semua terlihat menakjubkan, gagah, dan keren! Mulai dari yang terlihat masih kuliah sampai yang terlihat sudah berkeluarga, ada disitu. Dan semua jadi terlihat sama mudanya. Gunung memang penuh misteri.

CAM00412

Satu tim yang beranggotakan lima orang lelaki yang semuanya terlihat sudah ber-anak satu ikut menggabungkan diri dengan tim kami. Jadi total anggota menjadi sembilan orang, dengan Bang Eddy sebagai leadernya. Tepat pukul 16.00 WITA kami berangkat, dan perjalanan yang sesungguhnya pun dimulai.

Rencananya kami akan bermalam dan mendirikan tenda di Pos 1, dan menurut Bang Eddy, jarak dari tempat kami berangkat menuju Pos 1 kurang lebih dua setengah jam berjalan kaki. Matahari sudah ramah, hawa sejuk mendominasi, kami melangkah santai melewati ladang penduduk. Berat carrier-ku yang kurang lebih 10 kg (menurut Bli Idi) masih terasa ringan di jalanan yang masih landai. Satu setengah jam kemudian kami tiba di tempat peristirahatan pertama. Ladang sudah menghilang, berganti dengan padang rumput luas berbukit-bukit dibatasi ngarai dan pepohonan, di hadapan kami Gunung Rinjani gagah berdiri, seperti melambai dan mengucapkan selamat datang.

CAM00413

Dan kemudian, kedua kakiku kram, bergantian. Tindakan ringan pun diambil, sedikit counter pain, sepasang koyo cabe dan dekker milik Bang Hasan terpasang di kedua kakiku. Perjalanan dilanjutkan. Lalu sekali lagi aku merintih kesakitan, carrierku pun berpindah punggung, aku dan Heni bertukar bawaan. Saat itu juga kami berpapasan dengan seorang pendaki yang berjalan terpincang-pincang dibantu tongkat, rekannya bilang dia kram. Kepada Heni aku berbisik, semoga aku tidak sampai seperti itu.

Matahari mulai menghilang, menyisakan rona merah keemasan di balik punggungan Rinjani. Senter-senter mulai dikeluarkan, suara gelak tawa samar-samar dari jauh mulai terdengar, Pos 1 semakin dekat. Lalu tiba-tiba aku ambruk lagi, kedua kakiku kram bersamaan, sakitnya luar biasa sampai tidak sadar aku berteriak dan mengeluarkan airmata. Karena langit semakin gelap, Bang Eddy membagi tim menjadi dua, sebagian bergegas ke Pos 1 untuk mendirikan tenda, dan sebagian lagi menemaniku sampai kondisi kakiku mendingan. Beberapa pendaki lewat, semuanya memberikan semangat, beberapa menawarkan bantuan. Belum, ini belum saatnya kalah, perjalanan baru dimulai. Aku pun bangkit lagi, dibantu Bang Eddy dan teman-teman yang belum aku kenal namanya.

Selesai makan malam, Bang Eddy menawarkan jasanya untuk mengurut kakiku, tentu saja aku bersedia, karena mengingat hari ini hanya permulaan. Setelah mendapatkan treatment, kakiku menjadi lebih baik dari sebelumnya, sakitnya sedikit mereda. Kulihat Heni sudah menghilang ke dalam mimpi dan sleeping bagnya. Hari ini memang belum terlalu lelah, tapi tidak ada salahnya tidur lebih awal, karena besok perjalanan akan lebih panjang dan super melelahkan. Well, selamat malam Rinjani, sampai jumpa besok pagi.

next : Day 3, Full Day Full Power

Advertisements

One response to “When I Off To Rinjani (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s