When I Off To Rinjani (1)

Day 1, Confusion

Ini kali pertamanya aku bimbang dan sangat ingin membatalkan rencana perjalananku. Rencananya kali ini aku akan mendaki Gunung Rinjani, gunung api tertinggi kedua di Indonesia, konon katanya punya pemandangan yang spektakuler namun ber-trek paling terjal. Tapi, yang membuat hati kalut adalah karena ini pendakian pertamaku. Aku tidak punya gambaran sedikitpun tentang mendaki gunung, hanya sedikit bekal perlengkapan survival pribadi dan sejumput cerita indah-mistis-horor tentang pendakian yang aku kumpulkan dari berbagai sumber di internet.

Keluar rumah seperti keluar untuk terakhir kalinya, kali ini aku berpamitan dengan tulus kepada seluruh anggota keluarga, minta doa, melingkari angka 25 pada semua kalender di rumah dan berpesan supaya orang rumah segera mencariku jika pada tanggal tersebut aku tidak juga pulang. Seluruh ketakutan berkumpul di hati dan kepala, sampai membuat mual. Haruskah aku batalkan saja?

Carrier sudah ter-pak rapi di sudut teras rumah, aku pandangi lagi selembar tiket elektronik sebuah maskapai penerbangan yang nanti akan membawaku terbang langsung menuju pulau dimana Rinjani kokoh berdiri, sendirian, menantang siapapun yang berani datang. Kekasihku menganggukkan kepala, memberi isyarat untuk segera berangkat. Dengan sehelai keberanian bercampur nekad aku angkat carrier-ku dan melambaikan tangan pada keluargaku.

Ketakutan bukan hanya selesai sampai disitu, tiba di bandara kepalaku semakin pusing, tanganku semakin dingin, lututku semakin gemetar, aku takut setengah mati, takut jika nanti aku tidak kembali lagi, bahkan airmata sempat menitik dari sudut mataku. Tapi, akhirnya aku berangkat juga, dibawa oleh sikap nekadku yang tidak ketulungan. Dan sedikit harapan nakal muncul, semoga sahabatku tidak mendapat izin mendaki dari orangtuanya, supaya pendakianku pun ikut batal.

Pesawat mendekati Pulau Lombok, Rinjani berdiri dengan gaya di atas hamparan permadani awan, sepintas mengingatkanku pada komik favoritku, Onepiece. Aku tersenyum dan berkata dengan bangga, “Wait me, I’ll be there soon!”. Ketakutan lalu luntur tiba-tiba, berganti semangat yang luar biasa membara. Ya, besok aku akan ada di atas situ, di atas pucuk kepala Rinjani, aku tidak akan kalah sampai disini. Heni, sahabatku, menyambut dengan sumringahnya yang seperti biasa, membawa kabar bahwa izin Mamiq sudah digenggamnya, berarti, pendakian akan berjalan sesuai rencana.

Malam itu juga kami berkumpul di rumah sepupu Heni, Mboq Atun, yang akan mengawal kami menuju puncak Rinjani. Aku baru tahu ternyata Mboq Atun dan kakaknya, Bli Idi, adalah guide-guide Gunung Rinjani. Sedikit percikan ketenangan semakin membakitkan optimismeku, sampai sebuah kalimat panjang dari Mboq Atun membuatku dan Heni tertegun lalu saling berpandangan. Ternyata, Mboq Atun tidak bisa ikut di pendakian ini, dan yang menemani kami adalah dua orang sahabatnya, Eddy dan Hasan.

Dua orang lelaki datang mengendarai sepeda motor matic, seorang yang dibonceng memanggul carrier besar di punggungnya. Mereka adalah Eddy dan Hasan, yang kemudian kami sematkan panggilan ‘bang’ didepannya. Briefing singkat pun dilakukan oleh Mboq Atun dan Bli Idi, mulai dari pakaian yang harus dipakai, barang-barang yang akan dibawa, logistik yang harus disediakan, sampai tips-tips saat mendaki gunung. Maklum, aku dan Heni betul-betul amatiran, bahkan, aku baru tahu bahwa ternyata celana jeans tidak disarankan untuk mendaki, selain berat, jeans juga menyerap dingin. Karena merasa nanti akan sangat merepotkan Hasan dan Eddy, maka aku dan Heni pun menawarkan diri untuk membeli seluruh kebutuhan logistik kami untuk 5 hari 4 malam perjalanan.

Aku dan Heni pamit pulang dan berjanji esok akan datang sedini mungkin. Heni berdalih karena Mamaq masih berat hati, padahal sebenarnya dia belum menyiapkan apapun untuk dibawa ke Rinjani. Malam itu, aku berusaha keras memejamkan mata, mencoba untuk terlelap, namun adrenalin yang mulai mengalir ke sekujur tubuh malah sukses membuat mataku segar semalaman. Dalam hati aku terus berdoa, semoga Tuhan memberikan restu untuk perjalanan ekstrim yang akan kami mulai esok pagi.

next : Day 2, And The Journey Begin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s