I Love Travelling

Aku sangat menyukai travelling, terutama travelling ala Backpacker, yang gembel-gembelan tapi murah meriah. Banyak yang tidak percaya bahwa aku hanya membawa uang kurang dari satu juta rupiah untuk mendapatkan liburan menyenangkan di Bali dan Lombok. Sudah termasuk diving, sewa alat snorkling, parasailing dan belanja oleh-oleh. Jangan heran, karena aku mendapatkan support penginapan dan full akomodasi di tempat-tempat tujuan oleh teman-teman lama yang kebetulan tinggal di situ. Sejujurnya, walaupun aku tidak mempunyai teman di daerah tujuan, maka aku akan mencarinya di forum andalan backpacker-backpacker indonesia. Hahahaha..

Euphoria travelling sudah sangat terasa di tubuhku sejak sebulan sebelum keberangkatan. Karena biasanya sebulan sebelum berangkat itu aku mulai mengumpulkan informasi tentang tetek bengek destinasiku. Mencari tiket pesawat terrrrrmurah. Juga mencari teman yang berminat untuk ikut serta. Biasanya sih aku membatasi jumlah orang yang ikut, maksimal 2 orang, apalagi kalo orang-orangnya cuma pengen ikut nyobain jalan-jalan gaya backpacker doank, alamat bakal aku tinggal di jalan kalo kebanyakan ngedumel.

Lalu tibalah saat keberangkatan. Sejujurnya aku orang yang gampang masuk angin, gampang capek dan ngga bisa tidur selain di atas kasur. Tapiii.. Semua alasan itu hilang tertutup euphoria jalan-jalan. Travelling terlamaku adalah 5 minggu, full ngga pulang ke rumah, dan selama sebulan itu numpang dari satu rumah temen ke rumah temen yang lain. Sempet juga ngemper di masjid, di terminal, di stasiun. Tapi semuanya seperti ngga ada rasanya. Yang terasa justru kenikmatan yang ngga tergantikan. Ketika udah penat suntuk dan capek di jalanan terus nyampe di tempat tujuan, ternyata tempat itu lebih indah dari yang di bayangkan, terbayar. Tapi sebenernya wisata itu sudah di mulai sejak awal mula perjalanan. Sejak aku mengucap Bismillah dan melangkah keluar dari rumah. Bagiku, sepanjang perjalanan adalah laboratorium manusia. Melihat, mengamati, dan memberi kesan pada tiap individu yang kita temui. Suka dukanya tidak akan bisa di beli. Semua itu jadi kesan tersendiri yang menagih aku untuk melakukannya lagi dan lagi.

Dan.. Imbasnya, biasanya jika traveling sudah selesai aku baru tergeletak di rumah kelelahan. Segala macem penyakit orangĀ  abis bepergian baru mulai berdatangan, mulai dari masuk angin, diare, pegel-pegel , migran, sampai insomnia.

Apapun, yang jelas pengalaman-pengalaman itulah yang termahal. Dan aku kecanduan.

Advertisements