Selamat Betego’ di Pampang

Day 2…

Kami berencana untuk berwisata ke desa wisata adat Dayak Kenyah di daerah Pampang. Karena memang sudah dipersiapkan untuk tujuan wisata maka setiap pekannya desa ini mengadakan upacara adat untuk menyambut tetamu yang hadir dari berbagai penjuru dunia. Upacara di adakan setiap hari Minggu mulai pukul 14.00 wita s/d selesai.

So, sambil menunggu datangnya pukul 14.00, maka kami memutuskan untuk melihat-lihat Kebun Raya Samarinda (KRS). Lagi-lagi, rutenya sangat mudah di temukan. Karena berada di jalur utama Samarinda-Bontang. KRS ada di sebelah kanan jalan jika kita berkendara dari arah Samarinda. Tiket masuknya sangat terjangkau, untuk 2 orang dewasa + 1 sepeda motor kami di kenakan biaya Rp.12.000,-. KRS itu persis kaya Kebun Raya Bogor. Ya tapi jangan di bandingin dari segi koleksi dan fasilitas. hehehe.. beda jauuuh. Untuk areal wisata keluarganya pengelola menyediakan danau-danau buatan (plus gazebo-gazebonya, sepeda air dan areal untuk memancing), lalu ada akuarium, museum kayu, tentu saja rumah-rumah makan kecil (yang menurut saya sungguh merusak pemandangan), dan beberapa koleksi hewan seperti : beruang madu, rusa, monyet dkk, dan beberapa jenis burung dan ular. Untuk areal hutan tropisnya sendiri, pengelola menyediakan fasilitas rute trekking dan kemping. Well, totally ga ada kesan apa-apa di sana, selain sekali lagi mendapati bukti bahwa bangsa kita emang hobby buat buang sampah sembarangan.

cuappppeeeeee....@KRS

keep ur stuff carefully...monyet2 di sini suka ngejambret..hahahaha...

ini nih yang bikin ga sedap di pandang...

Sudah puas keliling KRS (lebih tepatnya sih cape kali ya..), perjalanan kami lanjutkan menuju ke desa Pampang. Masih di jalan yang sama menuju bontang. Setelah melewati 2 lahan yang habis di eksploitasi berkat karunia batubaranya terus ada tanjakan sedikit, maka akan ada gang masuk dengan gapura bertuliskan DESA WISATA ADAT PAMPANG di sebelah kiri jalan. Sebenernya sih itu pertigaan, tapi karena jalannya terlalu kecil jadi ga keliatan kaya pertigaan, coz jalan itulah menghubungkan daerah yang bernama Muara Badak dengan peradaban Kalimantan, hehehe…

Untuk alternatif kendaraan selain kendaraan pribadi, bisa naik bis antar kota Samarinda-Bontang, terus turun di pertigaan tadi dan lanjut naek ojek yang banyak nge-tem di deket gapura selamat datang tadi. Jalannya mulus ko, ya tapi ada lah bolong-bolongnya sedikit, terutama di areal desa adatnya. Menuju lokasi itu sangat jauuuuuh dari simpangan tadi, jadi jangan sekali-sekali nekat buat jalan kaki, kecuali emang niat mau uji kesaktian, hahahahaha. Dan sebaiknya siapkan bekal minuman untuk di sana, karena harganya (pastinya) akan berlipat-lipat setelah berada di lokasi.

road to pampang

Well, saking jauhnya itu lokasi, aq dan joe sempet ragu, jangan-jangan kita malah udah kelewat, tapi jangan ragu kaya kita ya, ikutin aja terus jalanannya, nanti setelah sekian jauhnya itu bakal ketemu totem (patung pahat kayu khas dayak) berdiri di kiri jalan, daaan dari situlah jalanannya bolong-bolong. Klo udah ketemu totem itu ya kira-kira jaraknya tinggal 1 km lagi lah. Dan kamu kamu kamu akan tau sendiri klo udah masuk ke desanya dan silahkan langsung menuju balai adatnya yang berupa rumah Lamin besar dengan lapangan parkir yang luas.

di depan balai adat, akhirnya sampe juga..

Kebanyakan suku Dayak memang menganut ajaran animisme, yang masih memuja-muja roh dan dewa, tapi kebanyakan mereka jg udah memeluk agama, klo di Pampang itu kayanya kebanyakan yang beragama Nasrani, karena kami menemukan Gereja di tengah perjalanan. Terus banyak juga yang bilang klo tenungnya orang Dayak itu sangat berbahaya. Well, klo dari awal udah berfikir begitu sih ya ga bakal nyampe-nyampe ke Pampang. Intinya sih, ya jaga aja perilaku kita, jangan sampe menyinggung perasaan mereka. Klo soal tenungnya itu ya percaya ga percaya aja, wong ga keliatan. Masih ngeri juga? Udahlah, tenang aja, kan namanya aja DESA WISATA, jadi ga mungkin lah mereka ngeluarin yang menyeramkan-menyeramkan, mana ada yang mau dateng klo begitu caranya? betul??? so just enjoy the culture n heritage.

di dalam rumah Lamin

Untuk menyaksikan pertunjukan adat para pengunjung di kenakan tarif senilai Rp.15.000,-/orang, bonus 1 gelang manik-manik yang lucu. Baiklah.. Acara di mulai, live musik yang dihasilkan dari alat musik tradisional Dayak, Sampe (sejenis gitar dengan 4 senar), di mainkan langsung oleh 2 orang lelaki separuh baya. Ada 7 tarian yang di tampilkan, di antaranya : Tarian Selamat Datang (yang di bawakan oleh anak-anak kecil perempuan), Tarian Perang (yang dibawakan oleh anak-anak kecil lelaki), Tarian Perdamaian dan Tarian Persatuan (yang di bawakan oleh gadis-gadis remaja), dan Tarian Perpisahan yang ditarikan oleh semua pengisi acara plus tetamu yang ingin ikut berpartisipasi. Acara Selesai. Tepuk tangaaaan. plok plok plok.

souvenir khas dayak, gelang manik-manik

bapak-bapak suku dayak pemain alat musik Sampe

Tarian Persatuan oleh gadis-gadis Dayak

Tari-tarian adat dayak itu sendiri seperti hanya pengulangan-pengulangan gerakan yang simple, yang bahkan pemula yang ga mahir menari pun pasti bakal bisa nariin tu tarian. Tapi konon katanya, tari-tarian itu merupakan ritual mistis suku Dayak. Hanya saja karena tujuannya kali ini adalah untuk menghibur pengunjung, maka tarian di kemas sedemikian rupa dengan menghilangkan unsur mistis di dalamnya dan menambahkan unsur hiburan.

Selesai acara sekitar pukul 16.00. Dan jika berminat buat berfoto-foto ria dengan anak-anak suku dayak siapkan kocek anda buat setiap jepretannya, satu kali jepret = Rp.20.000,-…weeeh mahhhaaalllll. mending saya foto-foto orang yang lagi berfoto aja deh. Walaupun numpang, takpapelah, yang penting judulnya memfoto anak dayak. hahahahahaha…

anak-anak suku Dayak

Perjalanan belum selesai, lepas dari Pampang hujan mulai turun, karena kebetulan kami belum makan, jadi sekalianlah sambil berteduh kami isi perut doeloe…

Setelah sholat Ashar dan Zuhur (yang di jamak), kami kembali ke Samarinda, menembus banjir (parah, udah kaya di jakarta aja), keliling-keliling jalanan kotanya (itu bahasa halusnya nyasar yak..haha..), pas nyampe tepian mahakam ternyata udah hampir Magrib, kebetulan lewat masjid raksasa (Islamic Center), mampirlah kami ke sana. Sholat Magrib, jeprat-jepret, lalu perjalanan di lanjutkan menuju arah Balikpapan, numpang duduk-duduk bentar di depan Stadion Palaran yang terbesar ke-2 di Indonesia, dan melanjutkan perjalanan pulang sekitar pukul 21.00, terhitung dari pom bensin di Loa Janan. Sampe di Balikpapan sekitar pukul 00.00.

masjid Islamic Center Samarinda

foto-foto dulu di selasar Islamic Center.. ๐Ÿ˜€

Huaaaahhh…Besoknya langsung kerja deeeeh… ๐Ÿ˜€

Total pengeluaran kami ga lebih dari Rp.500.000, udah termasuk semua-muanya, di bagi 2 jadi masing-masing Rp.250.000. Dan ga akan jadi 500.000 klo seandainya pas makan siang dari Pampang ga salah masuk rumah makan, dan ga pake acara ngisi perut pas di tengah perjalanan Samarinda-Balikpapan (sumpah udah kaya kerampokan, masa 2 bungkus indomie instan+telur di tambah aqua n kopi jahe dihargai Rp.44.000, weeeewwwwww kaga salah???ckckckck). Yah takpapelah..itung-itung pelajaran buat ke depannya. hehehe..

Okelah, klo gt see u in the next journey… ๐Ÿ˜‰

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s