A Happy (plan) Long Weekend

Ceritanya..Kantor ngadain program ESQ yang diselenggarakan hari Jumat, Sabtu, Minggu pada pekan ini. Tapi, pesertanya bukan semua karyawan (iyalah, tekor kalee..), yang berhak cuma para karyawan dengan status TETAP. Aku?? ga ngarep jd karyawan tetap, well, udah hampir 3 taun jd karyawan kontrak, sampe sekarang (alhamdulillah) masih bisa enjoy aja. Yang penting aku dapet duit buat apalagi klo bukan jalan-jalan. Oke, karena weekend ini (gosipnya) adalah long weekend. (moga ajaaaa beneraaaan). Jadi, aku dan salah seorang teman, Joe, berniat buat travelling!!!! wow!!! so excited tiap kali mulai merencanakannya. Awalnya sih niat mau liat jembatan Dondang yang terpanjang di Kaltim tu lho.. tapi klo di terusin ko kayanya deket ya ke Kebun Raya Samarinda (KRS), ah, akhirnya kami pun memutuskan buat motocycle travel keliling ke samarinda-tenggarong..hehehehe…. dan sekarang, lagi berdoa aja moga keputusan untuk meliburkan karyawan kontrak di saat para karyawan tetap (yang notabene adalah petinggi-petinggi perusahaan) ber-ESQ jadi diluncurkan..amiiiin… πŸ™‚

Selamat Berharap..Selamat Bersyukur..Selamat Berlibur… πŸ˜€

Advertisements

Bukit Bangkirai oh Bukit Bangkirai (2)

Oke..kita lanjutkan (cerita) perjalanannya…

Setelah bertepos-tepos ria di atas jok motor, akhirnya sampai juga deh di depan ‘gang’ menuju ke Bukit Bangkirai.. Udah sampe?? beluuuummm tauuuukk.. masih ada 10km-an lagi untuk bener-bener sampe di entrance si Bukit Bangkirai, itulah kenapa saya sarankan untuk berkendara pribadi aja. Melewati jalanan tanah yang di padatkan yang tentu saja jauh dari kualitas mulus. Itulah kenapa aku dan teman-teman mengharapkan paginya ga hujan, bukan karena takut kebecek-becekan, tapi lebih karena faktor keselamatan diri, motor, dan mood. Yaaa bisa di perkirakan sendiri kan gimana rasanya bawa motor di atas jalanan tanah yang becek, terjal dan berliku-liku. Salah satu temanku ada yang memiliki pengalaman buruk itu, setelah denger cerita ‘apes’nya tentu saja aku sangat amat menghindari hal tersebut. πŸ™‚ . Well, sepanjang jalan menuju entrance adalah hutan rimba (??) beberapa pohon di pinggiran jalan nampak di tumbangkan, entah apa maksudnya? mungkin pengelola berniat melebarkan jalan. Daaaan… setelah lebih setengah jam-an, mau tau apa yang kami temukan? tepat disamping jalan yang kami lewati itu, melintas jalan yang lebar, ya ya..itulah jalur perlintasan truk-truk pengangkut batubara (lagi) yang tambangnya sepertinya tidak jauh dari lokasi cagar alam tersebut, kedengeran dari suara mesin-mesin yang gemuruhnya kaya monster raksasa yang rakus, mengerikan, menyedihkan, menyebalkan, menggeramkan!!!!

Well next, klo kamu udah ketemu jalanan yang fotonya di atas itu berarti entrance Bukit Bangkirai sudah tinggal kurang lebih 200 meter aja..horaaayyy…

Yup, diatas adalah foto entrance Bukit Bangkirai, klo lagi rame pengunjung, biasanya petugas loketnya stand by di loket pas kita mau masuk area ini, tapi karena kita berkunjung di bukan hari libur, jadi loket masuknya dibiarin kosong dan si petugas merangkap jadi tukang parkir, petugas loket, dan pedagang souvenir..hehehe…biaya masuknya cuma Rp.2000,-/org dan Rp.2000,-/motor. oya, disini juga disediakan beberapa unit villa lho.. jadi klo berminat buat ‘nyepi’ atau honeymoon juga bisa jadi pilihan yang tepat, harga sewanya 450rb/mlm, klo ga bawa persediaan bekal yang cukup, tersedia juga restoran alakadarnya, tapi ya bersiap aja buat merogoh kocek agak dalam. Hehe.. πŸ™‚

Setelah itu perjalanan kami lanjutkan dengan trekking sejauh kurang lebih setengah kilometer. Sepanjang trek banyak ditemui pohon-pohon Bangkirai (yaiyalah..namanya juga Bukit Bangkirai), mulai dari yang segede tongkat pramuka sampe yang guede-guede banget kaya raksasa, dasar aku udik, ga pernah ke hutan, ketemu pohon guede ya pastinya harus narsis dulu foto-foto buat pamer sama temen-temenku di jakarta yang notabene sama udiknya kaya aku. hahaha.. terus nemu semut yang segede jempol tangan, dan sekali lagi nemu pohon-pohon yang guede banget dirobohkan, klo diliat dari lumutnya kayanya pohon-pohon itu udah lama banget dorobohinnya, ga tau deh knp, mungkin karena faktor usia kali ya?? noone from us know..

Soal jalur trekking, ga usah takut nyasar, jalan setapaknya lumayan lebar n ga menyesatkan ko. Jadi aman. πŸ™‚

Sebenernya ada apa sih di ujung jalur trekking itu?? di ujung jalan setapak yang berliku-liku ini adalah sebuah Jembatan Tajuk atau Canopy Bridge. Jembatannya sama kaya jembatan gantung yang suka ada di film-film, tapi yang bikin unik adalah jembatan ini di bangun di atas puncak pohon Bangkirai raksasa. Ada 5 pohon raksasa yang dipergunakan, 2 sebagai menara untuk jalur naik turun dan yang 3 sebagai balkon. Untuk naik ke atas di kenakan biaya lagi sebesar Rp.15.000,-/org. Biaya yang mahal ya hanya untuk sebuah jembatan, tapi ketika kaki menjejakkan kaki di puncak pohon, wuiiih…terbayar deh tu semua cape plus tepos-teposnya. 30 meter kurang lebih ketinggiannya. Ga sedikit lho orang yang akhirnya ciut pas mau mulai nyebrang di jembatannya. Tapi ga sedikit juga orang yang norak (kaya aku) pas menyadari kalo balkon yang aku injek itu cuma melekat di batang pohon raksasa yang entah masih lama atau ngga umurnya. Bingung membayangkannya? Ya makanya ayo dateng kesini.. πŸ™‚

Pukul 12.45 wita kita bertiga udah duduk-duduk santai selonjoran di atas balkon pohon sambil nikmatin pemandangan dari ketinggian. Jadi ngantuk. Jadi Laper. Jadi nyesel kenapa cuma bawa bekel air minum aja.. hehehe.. πŸ˜€

berpose di belakang menara pendakian

seperti berjalan di udara πŸ˜€

Proyek Canopy Bridge itu sendiri di kerjakan oleh kontraktor asing yang hanya menurunkan 6 orang tenaga kerjanya. Dan amazing banget pas menyadari kalo menara dan balkon-balkonnya bener-bener berdiri kokoh ga oleng sedikitpun. ckckckckck… itung-itungannya pasti pas banget.

Okay, turun dari jembatan kita memutuskan untuk trekking pulang lewat jalur trek yang berbeda. Pengelola menyediakan 5 jalur trek untuk kembali ke entrance, sekali lagi, jangan takut nyasar, yang penting kita ga keluar jalur di jamin sampe ke tujuan. Sebelum pulang, karena perut keroncongan akhirnya kita memutuskan buat isi perut di restoran di entrance. Beli 3 porsi soto dan 3 botol elektrolit, dan kami harus membayar Rp.49.000,- semuanya. Itu mahal apa murah ya?? ya tergantung kocek masing-masing.

Pulangnya ya tinggal capenya aja deeeeh… Jalan-jalan yang murah dan menyenangkan kan? di itung-itung ga sampe Rp.60.ooo modal yang di keluarin. Perinciannya : Bensin + Retribusi Masuk + Bekal = 27.000 + 19.000 + 14000 = Rp.60.000,- Β πŸ™‚

Kata Bijak yang di dapat, “Jika anda memiliki areal lahan yang luas dan kaya akan hasil buminya dengan rumah yang kecil dan tenaga kerja yang sedikit, anda pasti akan kewalahan bagaimana cara merawatnya.”

Masih banyak sebenernya yang mau di tulis tentang dilema hutan vs sumber energi. Jadi bersambung lagi ya… πŸ™‚

Bukit Bangkirai oh Bukit Bangkirai

Well.. Ceritanya di mulai dari niat pengen bikin tulisan tentang Hutan Kalimantan dan segala dilemanya. Maka mulailah aku brosing sana-sini cari wisata alam (hutan) yang pas. Dan jatuhlah hati pada Bukit Bangkirai. Ada apa disana? Dan kenapa berdilema? Yuk kita kupas.

Berangkat dari Balikpapan sekitar pukul 09.30 wita. Dihari sebelumnya udah dag dig dug aja, coz ujannya deres bangeeeet, yah, secara jalanan di hutan kan bukan aspal, jadi ga rela juga klo sampe gedibel-gedibelan. hehehehe… Tapi Tuhan memang mengizinkan ko.. Karena paginya udara cerah gumirah. Aku dan 2 orang temanku, Gajali dan Giri, berangkat dengan 2 sepeda motor, dan aku tentu saja duduk manis di boncengan sambil tengok kanan kiri berharap liat pemandangan yang indah-indah. Oya, rute kami waktu itu lewat daerah pesisir : Β sepinggan (yang ada Bandara Sepinggan tu lho) -> manggar -> lamaru -> samboja, ada pertigaan belok kiri -> KM 38, ada perempatan, ambil jalan yang ke arah Sepaku. Jalannya ga bercabang-cabang ko, jadi gampang. Β Waktu tempuh bersepeda motor antara 1,5-2 jam. Kenapa dengan motor? ya karena ga punya mobil, hahahaha. Klo mau naek mobil malah lebih bagus. πŸ˜€ . Klo naek angkutan umum agak susah, yang lewat cuma mini bis-mini bis travel aja. Itu pun cuma sampe jalan depan ‘gang’nya aja. Jadi alternative yang paling gampang ya bawa kendaraan pribadi aja, klo mw nyewa mobil kisaran Rp.400-700rb/hari. Klo dari Samarinda, ya ikutin aja trayek bis antar kota Samarinda-Balikpapan terus pas nyampe KM.38 itu ya belok juga ke arah Sepaku. Gampang kan?? Jalan penghubungnya lumayanlah, walaupun ada beberapa titik yang sedang dalam perbaikan, tapi paling tidak itu bukti pemerintah setempat peduli sama tu jalan.

Sepanjang jalan, 50% hutan, 20% tanah kosong atau alang-alang, 30% rumah penduduk. Tapi klo udah lewat KM 38 ya jgn berharap ketemu rumah penduduk. Jadi saran saya, penuhi fuel tank kendaraan anda, beli makanan dan minuman bekal perjalanan secukupnya. 50% hutan, okelah. Tapi harapan saya sirna seketika, mungkin harusnya 50% hutan dan bekas hutan kali ya?? karena hutannya kebanyakan yang rusak. Ironisnya, saya sempat menjumpai tambang Batubara tepat di pinggir jalan. Oh NO!!! arealnya ada di daerah Samboja. Sambil jalanpun bakal keliatan exploitasi habis-habisan itu. Eit, jangan sewot dulu. Itu cuma 1 contoh dari ratusan atau mungkin ribuan tambang batubara dan sejenisnya yang bertebaran di pedalaman hutan Kalimantan. Ironis!! Ironis!! Ironis!!

Bersambung ah…