Sarapan simple, Tahu Mie Telor (Tamilor)

Basicnya resep ini terinspirasi dari resepnya bu cinta a.k.a bu Atalia istrinya Kang Emil. Hanya saya modif-modif dikit dan tambah beberapa bahan lagi. Berikut resepnya.
Bahan

  • Mie telor (merk apa saja sesuai selera)
  • Telur 2 butir
  • Tahu kuning 2 potong
  • Bawang bombay
  • Bawang putih
  • Gula merah
  • Cuka
  • Sereh
  • Daun salam
  • Garam
  • Saos tiram
  • Kecap asin
  • Daun bawang
  • Minyak untuk menumis dan menggoreng
  • Bumbu kacang instan merk Sinti
  • Air secukupnya (sekitar 1 gelas atau 250 ml)

Cara membuat :

  • Rebus mie sampai matang, setelah matang, angkat, tiriskan lalu siram dgn 1/2 sdm minyak goreng dan aduk rata, fungsinya agar mie tidak kering.
  • Kocok lepas telur, bumbui dgn saus tiram dan kecap asin secukupnya, lalu masukkan tahu yang telah dipotong dadu, aduk rata.
  • Panaskan minyak dgn jumlah banyak seperti untuk menggoreng ikan, pastikan minyak benar-benar panas, setelah itu masukkan campuran tahu telur. Fungsinya menggoreng dengan minyak banyak adalah agar telur mengembang. Setelah telur matang, angkat dan tiriskan.
  • Tumis bawang bombay dan bawang putih yang telah diiris tipis serta sereh dan daun salam sampai harum dan matang, setelah itu masukkan air dan gula merah yang telah disisir halus, masak hingga gula larut lalu kecilkan api, masukkan cuka secukupnya, sekitar 1/2 sdm, dan garam secukupnya, tes rasa, lalu angkat.
  • Seduh bumbu kacang instan
  • Hidangkan mie, telur tahu, kuas asam manis dan bumbu kacang dipiring dan taburi dengan irisan daun bawang.

    Rasa makanan ini seger banget, kombinasi asam manis gurih cocok untuk cemilan sore atau sarapan pagi. Oiya, bisa juga ditambah dengan toge, irisan kol, kerupuk dan bawang goreng. Toge dan kolnya bisa disajikan mentah atau direbus sebentar saja jgn sampai terlalu layu. 

    Oke deh, selamat mencoba di dapur masing-masing ya… 

    Advertisements

    Kemping-kempingan di Herman Lantang Camp

    Gara-gara acara pulang kampung ke Balikpapan kemaren diisi dengan sakit-sakit-sakit, parah deh, sampe rumah pun masih berlanjut sakitnya, baru segeran dikit eh Odis kena cacar, josss. Lalu mamaknya yang merasa lelah letih lesu menagih liburan pada ayah. Lirik-lirik kalender, ada long weekend di awal desember. Pilih-pilih destinasi yang sesuai budget, karena emang lagi mepet. Jatuhlah pada 2 pilihan, ke Jakarta Aquarium atau nge-camp di Herman Lantang Camp (HLC). Si ayah pengennya ke Jakarta Aquarium aja, katanya lagi musim hujan gini paling aman jalan-jalan di dalam ruangan, ya emang bener sih tapi saya pengen wisata yang nyegerin gitu, dan salah satu syaratnya kudu nginep. Setelah drama-drama panjang akhirnya setujulah ayah dengan pilihan mamak. Yeaaaay, woman always right, right? 😂

    Beberapa hari sebelum hari H, datanglah badai Cempaka. Tapi kata BMKG badai ini cuma berlangsung selama 3 hari, cek prakiraan cuacanya, iya nih katanya pas tanggal 1 desember cuaca cerah. Tapiiii eng ing eng, badai cempaka pergi lalu datanglah badai Dahlia, cek lagi prakiraan cuaca, lah jadi ujan-ujan-ujan selama hari liburan kita. Worry donk, gimana coba kalo nanti sepanjang liburan hujan kan ga asik. Sempet bimbang, apa ini di cancel aja, terus ganti ke hari lain. Tapi si ayah menyemangati. Iya deh, sambil berdoa terus memohon sama yang punya cuaca, gapapa deh di mendungin asal jangan ujan aja ya Allah.

    Hari yang ditunggu pun datang, persis seperti prakiraan cuacanya BMKG, sejak pagi depok sudah mendung tebal sesekali hujan ringan dan berangin kencang. Dan trio mager inipun makin males beranjak dari tempat tidur. Rencana berangkat pagi-pagi terus jalan-jalan keliling bogor pun diganti, jadi berangkat abis jumatan langsung ke HLC. Sampe ayah berangkat jumatan, mamak baru mungutin barang satu-satu untuk dipacking, sekalian bebenah rumah. pas ayah pulang jumatan, tiba-tiba matahari nongol donks, dan cuaca lama-lama makin cerah. Bahagiaaaaahahahaha. Tapi ngga lama kemudian Odisnya tidur, ealah. Ya wes, yang tadinya mau berangkat pas habis jumatan, jadi berangkat 2 jam setelah jumatan. Gapapa lah, kalo Odis udah tidur siang bisa sedikit aman karena ngga perlu drama rewel ngantuk nanti di tengah jalan. Pas keluar rumah, wiiiih gunung salaknya keliatan!!! Cerahnya sampe ke bogor rupanya. Alhamdulillaaaah. Badai pasti berlalu ya kan.

    Kami berangkat naik motor dari rumah ke stasiun Depok Baru, dilanjut dengan KRL ke Bogor, dilanjut naik taksi online ke HLC. Lokasi HLC sendiri ada di kaki Gunung Salak, persis mengikuti rute menuju Curug Nangka, masuk melewati 2 gerbangnya secara gratis dengan bilang “mau nginep di Herman Lantang” dan menunjukan voucher bookingnya. Maju terus sampe parkiran ke curug nangka. Dari parkiran tinggal nyebrang sungai melewati jembatan kayu menuju HLC.

    Sambil registrasi check in kami ngobrol-ngobrol sama Oma-nya yang ramah dan cantik banget. Dari situ kami tau bahwa Opa Herman yang punya HLC ini ternyata seorang legenda di dunia per-Mapala-an. Beliau menjadi salah satu pendiri Mapala UI dan secara langsung jadi seniornya Soe Hok Gie. Bertemu legenda hidup itu rasanya amazing banget!!! Dan nginep di HLC ini pun rasanya jadi ikut merasa istimewa. Opa dan omanya yang ramah sama semua tamu ngebikin tamunya serasa bertamu ke rumah nenek sendiri, dan sesama tamu pun jadi sama-sama akrab. Asik pokoknya, next time pasti saya akan kesini lagi. 😁

    Setelah menunggu beberapa saat, tenda kami pun siap. Kami dapat tenda paling ujung, jadi enak sih karena jadi ngga ada yang lalu lalang di depan tenda kami. Tendanya sendiri adalah tenda dome yang normalnya bisa diisi 8 orang, tapi disini diisi 2 kasur busa ukuran queen (160x200cm) plus 4 bantal dan 4 selimut, juga tersedia lampu dan colokan listrik.  Tepat disamping bangunan tenda ada kamar mandi yang didalamnya ada WC duduk dan shower. Tendanya pun tidak dibangun langsung diatas tanah, melainkan di dalam sebuah bangunan menyerupai gubuk. Lebih jelasnya liat di foto aja yak. Di depan tenda ada bale-bale teras untuk duduk-duduk santai. Tapi di bale-bale ini tidak ada lampunya, jadi jika malam sudah pasti akan gelap, karena itu bisa sedia senter atau emergency lamp jika ingin penerangan tambahan.

    Karena kami tiba di HLC sudah terlalu sore, jadi kami putuskan untuk eksplore curug-curugnya besok pagi. Dan sore itu kami hanya berjalan-jalan di area parkir curug saja, disini banyak sekali warung yang menjual makanan, mulai dari gorengan, mie instan, sampai makanan berat dengan lauk pauk khas sunda komplit dengan lalapannya yang super banyak. Berhubung kami sudah terlanjur memesan makan malam di penginapan jadi kami hanya jajan beberapa gorengan saja. Sore itu juga terlihat beberapa keluarga yang akan berkemping ‘beneran’ di kemping areanya. Kalo kita kan kemping-kempingan. Hahaha. Setelah puas melihat-lihat, kami kembali ke penginapan.

    Malamnya para tamu berkumpul di aula atau ruang makan atau loby atau apa sebutannya ya? pokoknya ruang serbaguna. Opa herman duduk di ujung meja sambil bercerita-cerita dan tamu-tamu orang tua duduk berjajar mendengarkan sambil menyeruput minumannya masing-masing, sementara anak-anaknya sibuk main kejar-kejaran di lapangan rumput, beberapa anak bolak-balik menagih api unggun ngga sabaran. Odis girang banget ada temennya, kejar-kejaran sambil bawa-bawa senter doank udah bikin anak-anak ini bahagia banget, simpel banget kan hidup mereka 😂. Setelah makan malam dan sedikit nimbrung bareng para orang tua, kami kembali ke tenda, karena Odis udah ngantuk dan mulai nagih nenen. 
    Malam hari itu bulan menampakkan dirinya walau masih petak umpet dengan awan, sesekali angin berhembus agak kencang. Tapi jauh di utara, terlihat jelas ribuan kerlipan lampu terhampar luas, itulah Bogor dan mungkin Depok, juga Jakarta. Jika saya bisa melihat gunung Salak dari depan rumah, seharusnya saya juga bisa ya melihat rumah saya di Depok dari atas sini, haha..

    Malam ini Odis tidur cepat, perutnya kenyang hatinya senang. Tapi tengah malamnya ya tetep ngelindur minta nenen seperti biasa. Malam hari disini lumayan dingin juga, tapi berselimut saja sudah cukup menghangatkan badan sih. Tapi Odis ngga mau diselimutin, setiap badannya ditutup selimut selalu ngamuk-ngamuk, dipakein jaket juga ngga mau, akhirnya saya pakein kaos berlapis-lapis, beresss.

    Ngga terasa bangun-bangun taunya udah terang, liat jam sudah menunjukkan pukul 5.30, ayah buru-buru sholat subuh. Pagi-pagi udaranya segaaar, bebas polusi. Sepertinya sih hari ini bakal cerah. Tau-tau ayah nongol bawa 2 cangkir minuman, secangkir coklat panas dan secangkir kopi, sambil ngobrol sambil cemal cemil, ahhhh nikmatnya pagi ini, alhamdulillah.

    Di lapangan, Opa Herman terlihat duduk santai di kursinya sambil menyapa semua tamu dan mengajaknya berfoto bersama. Sementara Oma sudah sibuk di dapurnya mengoseng-oseng nasi goreng untuk sarapan para tamu. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar dan foto bareng Opa, kami pamit untuk berangkat ke curug.

    Ada 3 curug yang akan kami kunjungi, secara teknis ketiga curug ini berada di satu aliran sungai yang sama. Yang paling bawah adalah curug nangka, kedua curug daun, dan yang paling atas adalah curug kawung. Curug nangka hanya berjarak 15 menitan dari parkiran. Untuk mencapainya pengunjung harus berjalan menyusuri sungai dangkal yang diapit tebing tinggi dikanan kirinya. Sekitar 100 meter kemudian sampailah kita diujung sungai, dan curug nangka jatuh dari atas ketinggian sekitar 10 meteran. 

    Tepat diatas curug nangka adalah curug daun, namun karena letak geografis curug nangka yang dikelilingi tebing, maka satu-satunya cara paling mudah untuk menuju curug daun adalah dengan berjalan balik lagi menyusuri sungai lalu melipir menaiki anak-anak tangga yang sudah disediakan, jaraknya tidak begitu jauh, sekitar 15 menit dari curug nangka. Di curug daun ini Odis main air sampe kedinginan, stop sebentar makan gorengan dan minum teh anget, terus lanjut main air lagi sampe puas. Karena konturnya yang tidak begitu tinggi dan banyak kolam-kolam dangkal di alirannya, maka menurut saya curug daun ini yang paling balita friendly. 

    Lanjut trekking lagi ke atas sekitar 20 menit sampailah kita di penghujung jalan, dan curug kawung jatuh tipis dari atas ketinggian sekitar 10 meteran. Jalur menuju curug kawung sedikit lebih berat dari trek sebelumnya, beberapa kali kita akan memintas menyeberangi sungai dengan melompati batu-batuannya. Tapi masih terbilang aman kok, ngga ekstrem-ekstrem amat. Setelah puas main dan foto, kami pun kembali ke penginapan. Sambil jalan pulang, sambil mampir-mampir jajan gorengan.

    Setelah kenyang sarapan dan mandi, eh Odis malah ngantuk, sementara batas maksimal check out adalah jam 12 siang. Pas izin minta check out agak terlambat eh sama Opanya malah disuruh santai aja, mau main sampe sore juga boleh, wkkk.. Pengen banget sih, lah tapinya udah terlanjur mesen taksi online, kebetulan banget sopirnya lagi otw ke curug nangka juga nganter penumpang, doski ampe nelepon supaya ngga di cancel orderannya biar dia ngga balik kosongan ceritanya, ya iya lah kita juga beruntung banget nemu sopir yang mau pick up di atas gunung ginih 😅.
    Dan sekitar jam 1 siang kami pun meluncur pulang. Sedih rasanya waktu berpamitan sama Oma dan Opa, rasanya pengen segera balik lagi kemari. Sehat terus ya Opa Herman. 

    Hari itu Bogor dan Depok cerah sekali, begitupun keesokan harinya, rupanya badai telah berlalu. Tuhan begitu baik, Dia Maha Mendengar, pasti banyak sekali harapan “agar langit cerah” yang dikirimkan padaNya saat long weekend kemarin, dan Dia mengabulkannya. Alhamdulillah.

    Belitung with Odis 1y8m – day 2 & 3

    Rencananya hari kedua di Belitung ini kita mau ke Belitung Timur, ke Manggar dan Gantong, berwisata Laskar Pelangi. Cek-cek di google map, jarak Tanjung Pandan ke Belitung Timur sekitar 70an km, berarti kalo pulang pergi sekitar 140an km. Well, sebagai gambaran jarak pulang pergi itu sama dengan jarak Jakarta-Bandung 😱. Semoga Odis kuat dan betah di motor, dan yang terpenting semoga hari ini cerahhhh.

    Jalanan di Belitung itu ngga ngebingungin, eh tapi kami sempet nyasar sih gara-gara salah belok, untung belum jauh nyasarnya jadi ngga buang-buang banyak waktu, hehehe. Hampir semua lokasi wisata yang turistik pasti ada papan petunjuk jalannya. Dan jalanannya mulus buangeeeet, dan kosong buangeeet serasa jalan punya sendiri.

    Sebelum ke Manggar, kami mampir dulu di Batu Mentas. Katanya, disini bukan cuma terkenal sama tarsiusnya aja, tapi juga ada sungai dangkal yang berair jernih. Kebetulan rutenya searah, jadi kami sempet-sempetin mampir. Sekali lagi, lokasinya gampang banget ditemuin, di google map udah terdaftar dan plang jalannya pun jelas terpampang.

    Karena beberapa hari kemarin katanya hujan terus, sempet ada kekhawatiran ngga bisa main di sungainya. Tapi ternyata kami salah. Sungainya masih dangkal dan jernih banget! Yailah, orang Jakarta mah ketemu beginian doank juga udah girang banget, coba dah. Airnya juga dingin, tapi ngga sedingin air curug-curug di bogor sih. Tapi masih cukup dingin untuk Odis, jadi dia ngga mau turun, cuma main di pinggirnya aja. Karena saya malas ganti-ganti baju, jadi saya ikut Odis aja sambil jagain dia, sementara ayah berenang hilir mudik kesana kemari. Tiket masuknya juga murah, kami cuma bayar 15rb berdua plus motor. Ngga terasa 2 jam kita disini, udah hampir Sholat Jumat dan ayah ngga mau ketinggalan sholat, jadi terpaksa udahan walau belum puas.

    Baru beberapa km jalan dari Batu Mentas, tiba-tiba hujan turun, terpaksa menepi dulu untuk pake jas hujan. Untung Odis bobo, jadi ngga khawatir dia rewel. Ngga lama kemudian, kami mampir di masjid, karena saya sedang berhalangan jadi ayah aja yang sholat. Lumayan sambil neduh dan nunggu hujan agak reda. Dan bener aja, setelah jumatan hujannya reda, yeeaaay.. Perjalanan pun kami lanjutkan.

    Obstacle kedua pun datang. Odis bangun dan sepertinya lapar. Tapi karena merasa nanggung bentar lagi sampe jadi saya sodorin cemilan-cemilan aja sepanjang jalan. Tapi tetep dia ngga mau diem, mungkin pegel juga kali kelamaan di motor. Ketika akhirnya kami sampai di Gantong, tempat pertama yang kami cari adalah warung makan!

    Setelah kenyang dan happy lagi, kami lanjutkan ke Sekolah Laskar Pelangi. Tiket masuknya cuma 3000/orang. Katanya sekolah yang sekarang kami kunjungi itu hanya replikanya saja, yang aslinya ngga tau deh ada di sebelah mana, saya ngga sempet nyari tau juga. Setelah puas foto-foto dan ngejar-ngejar Odis, kami lanjutkan ke Museum Kata Andrea Hirata. 

    Lokasi Museum Kata ini deketan banget sama sekolah Laskar Pelanginya, ngga sampe 10 menit udah sampe. Exteriornya mencolok banget, dan tepat ada di pinggir jalan. Jadi sambil lewat juga pasti keliatan. Tapi tiket masuknya bikin kaget juga, 50rb/orang coba!?. Padahal kalo baca review dari orang-orang katanya bayarnya masih sukarela aja, eh tapi, ternyata sumbangan sukarela yang di dalem museumnya pun masih ada kok. Lha kok saya jadi suudzon jangan-jangan Andreanya ngga tau nih. Karena merasa udah dateng terlalu jauh akhirnya saya lobi si ibu yang jaga loketnya, finally, kami boleh masuk hanya dengan membayar 1 tiket saja. Dari 50rb itu kami juga mendapat sebuah buku yang keliatannya karya Andrea juga, setelah saya buka ternyata buku itu cuma potongan bab-bab dari bukunya Andrea yang beneran. Hfffh. 

    Lumayan lama juga kami disini, mulai dari museumnya rame karena ada rombongan, sampe sepi tinggal kami bertiga doank, bahkan saya sempet BAB segala, hahaha, ngga mau rugi ye kan… 😂. Odis pun puas banget lari-larian disini, buka tutup pintu-pintu sampe kejedot, ngejungkir balikin bangku-bangku. Saking hypernya sampe udah ngga bisa dikontrol, yaudah biarin aja, mamak bapaknya mengawasi aja sambil ngebenahin apa yang dia obrak-abrik.

    Setelah puas main di Museum Kata, kami memutuskan untuk pulang ke Tanjung Pandan, karena waktu sudah tidak memungkinkan kalo harus mampir ke Manggar lagi. Baru sebentar jalan, Odis pun bobo lagi. Alhamdulillah, di perjalanan pulang ini ngga ada hambatan sama sekali. Cuma Odis yang sesekali bangun, tapi ngga lama bobo pules lagi. Bangun-bangun udah masuk Tanjung Pandan.

    Rencananya kami mau makan malam di Dapor Sakato, tapi pas ditengok lauknya udah tinggal sedikit macemnya, jadi kami putuskan untuk makan di tempat lain. Sambil jalan pulang ke hotel sambil celingak-celinguk nyari tempat makan yang rame. Ada dua tempat yang jadi pilihan kami, yang satu ada di dalem lokasi Pantai Tanjung Pendam, yang satunya lagi semacam angkringan gitu. Kedua tempat ini dipilih berdasarkan dari tingkat keramaian pengunjung yang terlihat sedang makan disitu, ya penasaran aja, ada semut pasti kan ada gula, hehe. Tapi karena keburu magrib, ayah minta pulang dulu ke hotel. Okelah.

    Setelah sholat magrib dan mandi, kami jalan lagi untuk makan malam. Dan kami putuskan untuk makan malam di resto yang saat itu belum kami tau namanya, yang lokasinya ada di pantai tanjung pendam. Masuk area pantai cuma bayar 2rb aja untuk parkirnya. Dan ternyata, resto yang kami tuju itu adalah Warung Bang Pasya. Jadi, warung ini emang masuk 20 besar resto yang di rekomendasikan di Tripadvisor (nomer 1 resto Timpo Doeloe). Kami pesan iga asam manis, nasgor seafood dan ayam bakar. Karena kalo makan kami terbiasa pesen 3 porsi (yang satunya untuk Odis kalo ngga habis ya diabisin mamak bapaknya), dan ternyata porsi makanan di Belitung itu emang banyak banget, bukan cuma di Timpo Doeloe doank 😅. Karena ngga mau kerusuhan di Timpo Doeloe terulang lagi jadi makanannya kami bungkus untuk dimakan di hotel saja. 

    Destinasi selanjutnya adalah nyari es jeruk konci dan kopi kong djie yang terkenal banget itu. Oleh mba waitress di Warung Bang Pasya kami diarahkan ke gerai Kong Djie yang asli, yang katanya udah ada dari jaman dulu. Maka melipirlah kami kesitu, pesan kopi susu dan es jeruk konci, dibungkus juga, haha. Segelas kopi susu dan es jeruk cuma 12rb ajah. Lokasinya ngga bisa saya deskripsikan karena saya lupa patokannya, pokoknya ada di seberang gereja. Dari kedai Kong Djie kami melipir beli oleh-oleh di toko oleh-oleh dekat hotel. Dan karena sudah terlalu lapar, hari ini udahan dulu kelilingnya, jom balik ke hotel.

    TERNYATA!!! Masakan dari Warung Bang Pasya ini juarak banget!! Ya ampun, sambil nulis ini pun saya masih terngiang-ngiang iga sapi yang gendut-gendut itu dan nasgor seafood yang isinya beneran seafood yang banyak banget. Oya, kami juga pesen otak-otak yang rasanya ikannn banget. Pokoknya TOP! Dan setelah makan ditutup dengan es jeruk konci yang seger banget dan kopi Kong Djie yang rasanya sebanding sama legendanya. Sumpah! Ini kopi terenak yang pernah saya minum. Puas banget makan malem hari ini. Tapi tiba-tiba langsung sedih karena teringat besok kami udah harus balik ke Jakarta lagi. Belum puaaaaas. Si ayah sampe nanya “tiket kita masih bisa di re-schedule ngga ya ke hari minggu?” 😅. Ya bisa sih, tp harus tambah biaya akomodasi macem-macem lagi. Yaudah, kapan-kapan nanti kita ke Belitung lagi, khusus wisata kulinernya aja dan leyeh-leyeh di Batu Mentas.

    Besoknya, berhubung flight kami siang jam 2an, jadi rencananya kami mau ke pantai Tanjung Tinggi, karena belum sempat kesana pas di hari pertama. Tapi ternyata hujan deras dari pagi ngga berenti-berenti. Sampe kami checkout dan ke bandara pun hujan masih turun. Rencananya juga kami mau balikin motor ke Pak Hasmin langsung di bandara, tapi karena hujan ya terpaksa sewa taksi, dan kami pamit sama Pak Hasmin di hotel. Tarif argo taksi dari tanjung pandan ke bandara sekitar 100rban, terbilang mahal sih, karena jaraknya ngga terlalu jauh. Dan sampe bandara ternyata pesawatnya juga delay karena cuaca buruk, ya sudah, mau gimana lagi 😂. Bye bye Belitung, we’ll be back soon, jangan berubah terlalu cepat yaaa..

    Next, saya akan share itinerary dan budgetnya ya.. See you 😘

    Belitung with Odis 1y8m – day 1

    Mumpung masih segar di ingatan, mau share pengalaman traveling ke Belitung minggu lalu. Traveling kali ini terasa lebih spesial, karena pertama kalinya ngajak Odis. Well, sebenernya bukan pertama kalinya juga Odis diajak jalan-jalan. Tapi pada trip-trip sebelumnya, kami melakukannya bersama anggota keluarga besar yang lain, jadi ya tidak terlalu terasa repotnya, karena Odis jadi banyak yang momong.

    Rencana ke Belitung ini pun terhitung dadakan, karena awalnya kami hanya berencana liburan ke Bandung saja. Tapi pas lagi hunting tiket kereta dan hotel bandung, tiba-tiba iseng survey tiket pesawat dan hotel ke Belitung. Dihitung-hitung lagi budgetnya, lah kok beda tipis aja nih. Lobi-lobi ke suami, eh doski setuju. Ya wes, rutenya kita putar ke barat laut, ke selat Karimata, ke sebuah pulau timah yang terkenal dengan Laskar Pelanginya, Pulau Belitung.

    Kami ambil penerbangan paling pagi dari Jakarta. Berangkat dari  Depok jam 4.30, udah ketar-ketir takut terlambat. Pas mau check in, pas banget last call buat yang mau check in ke Tanjung Pandan, nasib baik masih bisa masukin bagasi, repot juga kalo harus gotong-gotong keril ke kabin. Pas masuk ruang tunggu eh pas panggilan boarding, kan jodoh. Penerbangan ke Tanjung Pandan hanya ditempuh dalam waktu 1 jam, ngga kerasa banget, Odis aja belum sempet bosen, eh kapten udah bilang pesawat kita udah mau mendarat.

    Kami disambut cuaca mendung dan gerimis, sempet down juga sih, hawanya langsung pengen pulang terus bobo lagi. Ngebayanginnya kan langit dan laut biru jadi latar foto-foto kita nanti. Tapi mau gimana lagi? Masa mau pulang terus bobo beneran? Hahaha.

    Di bandara kami janji ketemuan sama Pak Hasmin, yang motornya akan kami sewa beberapa hari kedepan. Tadinya mau ngambil sewaan motor dari rental, tapi rata-rata mereka ngga mau kalo startnya dari bandara, jadi dari bandara harus pake jasa antar jemputnya dulu ke hotel, baru deh motornya diantar ke hotel. Tapi biaya antar jemputnya itu lho, rasanya kurang sudi gimana gitu ya. Setelah ngubek blog-blog orang akhirnya dapetlah nomernya Pak Hasmin ini, dan yang paling penting si bapak mau nganter motornya ke Bandara, ada biaya antarnya sih, tapi ngga mahal lah, ngga lebih dari harga sewa per hari. Di akhir catatan (day 3) akan saya share total pengeluaran kami dan nomer-nomer kontak yang bisa dihubungi, so, stay tune…

    Oke, lanjut. Karena gerimisnya makin deras, maka kami memutuskan untuk early check in ke hotel. Untungnya boleh, mungkin karena pada hari itu tamunya hanya kami saja kali ya, kebetulan kami berangkat hari kamis. Kami menginap di Hotel Casa Beach, dulunya hotel ini bernama Pondok Impian 2. Hotel ini punya 3 type kamar : bisnis, ekskutif, dan cottage. Untuk kamar kelas bisnis sepertinya non-AC, karena di bagian luar dinding kamarnya ada lubang-lubang ventilasi exhause. Untuk kamar eksekutif, standar lah ukuran kamar hotel bintang 2. Dan untuk type cottage, memiliki beberapa ruangan di dalamnya seperti rumah. Saya sih suka banget dengan hotel ini, exteriornya nuansa Bali gitu dan dia punya view langsung ke laut, kalo pas sore bisa leyeh-leyeh di teras atau bale sambil liat sunset, pokoknya hommy banget. Kalo ke Belitung lagi, saya pasti akan menginap di hotel ini lagi.

    Karena gerimis tidak kunjung reda dan berhubung Odis juga ngantuk karena bangun pagi-pagi banget dan belum tidur sepanjang perjalanan, maka kami putuskan untuk beristirahat sejenak di hotel. Sekitar jam 10an, gerimispun usai, langit mulai terang walau masih diselimuti awan, udara juga semakin menghangat. Odis bangun, langsung deh caw ke destinasi pertama yaitu Tanjung Kelayang untuk menyeberang keliling pulau.

    Oleh pak Hasmin, kami diberikan nomer kontak pemilik kapal kenalannya. Waktu tempuh Tanjung Pandan ke Tanjung Kelayang sekitar 30 menit saja. Sepanjang jalan kita bisa melihat rumah-rumah khas Belitung, modelnya persis kayak rumahnya bu Muslimah di Laskar Pelangi.

    Melewati beberapa pertigaan, tibalah kami di tanjung kelayang. Tanjung Kelayang sendiri adalah pantai pelabuhan, disini banyak kapal-kapal yang bisa disewa wisatawan untuk berkeliling ke pulau-pulau kecil di sekitar Belitung. Tarifnya berkisar antara 500-700rb untuk kapal kapasitas 10 orang. 

    Setelah bertemu dengan kenalan Pak Hasmin, kami pun bersiap-siap ganti baju dan tidak lupa pesan makanan untuk makan siang di warung makan yang ada di situ. Sebagai catatan, sebaiknya kawan-kawan mempersiapkan makan siang sebelum berangkat, karena tidak ada warung makan di pulau-pulau yang nantinya akan kita kunjungi. Jika ingin makan siang lebih mewah bisa pesan di resto (lupa namanya) yang ada di pelabuhan situ, tapi pesannya pun tidak bisa pas hari H, minimal sehari sebelumnya. Mungkin masalah makan ini bisa dikonsultasikan ke guide atau pemilik kapal.

    Oya, kami dapat tarif sewa kapal 500rb, sudah dengan life jacket dan belum termasuk alat snorkeling. Sewa alat snorkeling 50rb. Karena kami bawa Odis, jadi kami sewa 1 set saja yang nantinya akan dipakai secara bergantian. Sebenarnya disediakan life jacket untuk anak-anak, tapi terlalu besar untuk Odis, jadi Odis pakai pelampung sendiri yang kami bawa dari rumah.

    Oke, berangkaaat.

    Pulau pertama yang kami kunjungi adalah pulau batu berlayar, setelah sebelumnya melintas dan foto-foto sebentar dengan background batu garuda. Pulau batu berlayar ini adalah pulau kecil yang isinya batuan granit yang besar-besar, sepertinya jika pasang laut terlalu tinggi tidak akan bisa menepi di pulau ini. Puas foto-foto, lanjut ke pulau gusung pasir yang hanya timbul saat air surut. Setelah itu lanjut ke pulau lengkuas. Di pulau ini ada salah satu iconnya wisata belitung, yaitu mercusuar, sayang saat kami datang mercusuarnya sedang ditutup, kecewa 😣. Di pulau ini juga banyak wisatawan yang istirahat makan siang. Disini sebenernya ada warung kecil, tapi hanya jual pop mie, kelapa, dan jajanan aja, tak ada nasi. Karena kami numpang makan di meja milik pedagang kelapa jadi untuk formalitas kami beli 1 kelapa. Dan harga kelapa sebutir itu 25.000 sajah, hahahaha..

    Puas foto-foto, main pasir dan istirahat di pulau lengkuas (Odis bahkan sempet bobo siang sebentar), kita lanjut snorkeling. Spot snorkelingnya ngga jauh dari pulau ini, dan terumbu karangnya juga masih bagus-bagus. Kapal-kapal tidak membuang jangkar disini, disediakan tali untuk mengaitkan kapalnya, kayak di TN Komodo, so dengan begitu terumbu yang ada dibawahnya ngga akan hancur tertimpa jangkar. Nicee. Saya hanya sempat snorkeling sebentar, karena Odis mulai rewel dan minta nenen. Ayah hilir mudik kesana kemari sampe kapal yang tersisa hanya tinggal kapal kami saja. Odis juga sempat penasaran pengen turun ke laut, tapi pas udah turun dia malah takut, mungkin baru pertama kali ngerasain sensasi ngambang-ngambang sambil diombang-ambing ombak.

    Setelah puas snorkeling, kapal lanjut berlayar lagi. Tadinya masih ada 1 pulau yang akan kita kunjungi, tapi Odis udah bobo nyenyak banget, kasian, pasti dia kecapean. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke Tanjung Kelayang saja.

    Sampai di Tanjung Kelayang bersih-bersih, dan Odis masih tetap terlelap 😅. Setelah semua rapi, termasuk Odis yang walaupun digantiin bajunya masih bobo nyenyak, kami pun pulang. Tadinya mau mampir di pantai Tanjung Tinggi, tapi lagi-lagi karena pertimbangan Odis jadi kami tunda dulu. 

    Kami tiba di hotel sebelum magrib, dan Odis udah ceria lagi, udah 100% lagi ni bocah. Sembari menunggu magrib, kami leyeh-leyeh di belakang hotel sambil menikmati sunset.

    Malamnya kami makan di resto Timpo Doeloe dan pesan menu dulang set berdua. Ternyata oh ternyata, isinya banyak bangeeet, bahkan buat yang makannya banyak sekalipun. Dulang set ber-2 ini bisa dimakan ber-4 atau ber-3 kalo yang makannya banyak. Menunya menu khasnya Belitung banget, bintang utamanya adalah Gangan ikan. Well, secara keseluruhan makanan-makanannya enak, tapi kurang cocok aja di lidah saya, suami sih doyan banget! Malah dia yang habiskan semua saat saya (yang notebene makannya lebih banyak) kekenyangan. Dan disini, Odis ngga bisa diem banget! Bikin rusuh satu resto. Karenanya terpaksa kami makan bergantian 😥.

    Selesai makan, keliling kota sebentar, mampir ke toko beli jajan, lalu kami kembali ke hotel untuk beristirahat.
    See you in day 2 yaaaa 😘

    Jembatan Kece

    Dulu banget, pernah punya cita-cita jadi arsitek, dan sempet tergila-gila sama jembatan, tapi bukan jembatan kasih sayang antara kau dan aku ya!! Jadi saking tergila-gilanya, saya sampai rela menempuh perjalanan berjam-jam ke sebuah kota yang kurang populer cenderung sepi, hanya demi memandang sebuah jembatan yang pada saat itu menjadi jembatan terpanjang ke-5 di Indonesia.

    Lalu beberapa saat lalu adik saya mengupload foto ini di akunnya, ini adalah jembatan penyeberangan orang, Jembatan Repo-Repo namanya, menghubungkan Pulau Kumala dengan Kota Tenggarong. FYI, Pulau Kumala adalah pulau delta yang terbentuk tepat ditengah-tengah aliran Sungai Mahakam. 

    Sekitar 7 atau 8 tahun lalu, ketika terakhir saya kesini, jembatan ini belum ada, bahkan mungkin angan-angannya pun belum ada. Dan ketika tiba-tiba saya tahu jembatan itu sudah berdiri, saya excited sekali, ngga sabar rasanya pengen sprint dari ujung ke ujungnya, uji kelayakan lah ceritanya. Etapi bukan uji kelayakan jembatan, uji kelayakan badan saya aja, apa masih kuat sprint sejauh itu? Haha.. Saya mah yakin lah jembatan ini pasti jauh lebih setrong dibanding jembatan yang ambruk beberapa tahun lalu yang lokasinya cuma melipir beberapa ratus meter dari jembatan baru ini. 

    Tapi ada satu hal yang saya sayangkaaaaan banget. Saya bertanya-tanya, apa jadinya ya jikalau Ridwan Kamil yang merancang jembatan ini. Aihhh.. Seandainya Ridwan Kamil punya banyak duplikat, mungkin setiap sudut kota di negeri ini jadi Instagramable semuanyahh. 

    Salam kece lah buat semua arsitek dan sipil engineer di Indonesia, without you Indonesia hanya sebuah bilik bambu.

    Negara Maju

    Suka ngerasa aneh sendiri setiap lihat ada orang yang banding-bandingin Indonesia dengan negara maju, semacam jepang atau kerajaan arab misalnya. Itu orangnya nyadar ngga sih, sekarang ini kita sedang dalam tahap perubahan menuju kesana lho. Pemerintahan sedang getol memperbaiki sistem administratif dan pemerataan pembangunan. Ya memang belum bisa dibandingin, namanya juga baru mulai. Misalnya aja situ lulusan S2, memangnya situ mau dibandingin sama yang lulusan TK? Cari perbandingan itu yg selevel dikit lah.

    Pernyataan-pernyataan nyinyir macam “negara kita payah, presidennya payah”. Situ sehat? Situ udah berbuat apa buat negara? Ngga usah yang gede-gede, udah belum buang sampah pada tempatnya? Udah belum menghargai orang lain dengan tidak merokok sembarangan? Itu lho salah satu habit masyarakat di negara maju, kalau belum sanggup mengikuti 2 hal itu ya mbok introspeksi diri dulu.

    Negara maju itu, bukan cuma soal bangunan yang megah atau transportasi yang canggih atau sistem administrasi pemerintahan yang rapi. Tapi juga soal pola pikir dan mental masyarakatnya. Kalau soal pinter-pinteran, kurang pinter apa coba anak muda Indonesia? Coba sebutin berapa kali indonesia menang di ajang olimpiade sains internasional? Sering bangeeet, malah jadi semacam target langganan tiap tahunnya. Tapi kok indonesia ya gini-gini aja sih? Ya karena situnya gitu-gitu aja.

    Ada pebisnis asing sukses di Indonesia, dinyinyirin. Giliran ada ustad asli Indonesia punya bisnis maju, dinyinyirin juga.Diajak berevolusi mental, dinyinyirin presidennya, dicari-cariiii banget kesalahannya. Ngga lelah apa jadi manusia nyinyir begitu?

    Tidak ada pemimpin yang sesempurna Sayyidina Muhammad. But, come on.. Nabi Muhammad yang pilihan Tuhan saja masih punya haters, apalagi presiden yang cuma pilihan rakyat. Selama Indonesia belum pindah ke surga, akan selalu ada setan-setan yang berusaha menggoda manusia untuk saling membenci satu sama lain. 

    Mungkin, kadangkala kita menerima sebuah berita yang tidak baik tentang negeri ini. Tapi ingat, kita masih punya Tuhan yang menerima segala macam doa. Berdoa untuk presiden dan pemimpin-pemimpin kita. Berdoa untuk Indonesia supaya makin sejahtera rakyatnya, semakin maju mental dan peradabannya. Karena masa depan yang baik dimulai dari pikiran dan harapan yang baik. Bukannya tidak realistis, tetapi Tuhanistis. Percaya, diatas segala kuasa, masih ada Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika memang ingin Indonesia selevel dengan negara-negara maju, ayolah, maju!!! Dan jangan lupa doanya.

    Rejeki Tiada Tara

    Beberapa bulan belakangan (sebenarnya sih beberapa tahun, tapi baru sadar beberapa bulan ini), seperti diberikan pencerahan-pencerahan sama Yang Di Atas. Bahwa, rejeki itu bukan cuma sekedar uang atau makanan. Tapi, punya suami yang baiiiik banget, sabar dan pengertian, lalu punya mertua yang sama baiknya kaya anaknya, adalah sebuah rejeki yang tiada taranya.

    Berkaca dari kehidupan banyak orang, terutama orang-orang sekeliling. Kadang kala yang kita lihat hanya lebihnya mereka saja, lalu karena itu kita jadi merasa kurang. Banyak orang yang menampilkan yang baik-baik di depan orang lain, dan tanpa orang lain tau sebenarnya itu hanya topeng untuk menutupi perasaan yang sebenarnya hancur atau dompet yang meringis-ringis. Tapi jika sebenarnya yang disembunyikan sama baiknya dengan yang ditunjukan ke banyak orang, maka bukan main bahagianya. Berarti perlu dicontoh, bukan dijauhin, bukan di-nyinyirin.

    Melihat orang lain bisa lebih baik, harus jadi bahan introspeksi buat diri sendiri. Mungkin sedekah kita yang kurang banyak, mungkin sikap kita ke suami dan orang lain yang kurang baik, mungkin perhatian kita ke anak yang kurang banyak. Dan jangan lupa juga menghitung-hitung apa yang udah Allah kasih ke kita. Bisa makan 3 kali sehari, alhamdulillah. Punya kendaraan yang selesai cicilannya, alhamdulillah. Punya tempat tinggal layak untuk berteduh, alhamdulillah. Sehat terus jarang sakit, alhamdulillah. Punya sahabat yang perhatian, alhamdulillah. Punya suami yang super sabar, alhamdulillah. Punya anak yang ceria, alamdulillah. Punya mertua yang ngga cerewet, alhamdulillaaaah.

    Selalu percaya Allah Maha Adil. Dia sudah menakar rejeki semua manusia, tidak ada yang tertukar. Mungkin sebuah hal baik untuk orang lain, tapi belum tentu baik untuk kita. Atau bisa jadi memang belum saatnya rejeki itu datang. Semua hal memiliki keterkaitan di jagad semesta ini, seperti domino yang runtuh berurutan. Jadi bersabarlah, mungkin rejeki kita ada di kepingan domino paling belakang.

    Dan yang terpenting dari semua itu, semoga orang tua, suami, anak, mertua, sahabat dan siapapun di sekeliling kita juga merasa beruntung dan bersyukur karena sudah memiliki dan mengenal kita dalam hidup mereka. Amin.